Pendapatan RANS Turun Dua Tahun, Nagita Slavina Ungkap Sebabnya
PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RAENT) mencatatkan tren penurunan pendapatan selama dua tahun berturut-turut, tepatnya pada tahun buku 2024 dan 2025. Direktur Utama perusahaan, Nagita Slavina, se...
PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RAENT) mencatatkan tren penurunan pendapatan selama dua tahun berturut-turut, tepatnya pada tahun buku 2024 dan 2025. Direktur Utama perusahaan, Nagita Slavina, secara terbuka memaparkan sejumlah faktor yang menyebabkan kontraksi kinerja keuangan perusahaan media dan hiburan yang didirikan bersama suaminya, Raffi Ahmad, tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Public Expose yang digelar secara virtual pada awal pekan ini, sekaligus menjadi momen transparansi manajemen terhadap para pemegang saham dan publik.
Pergeseran Lanskap Media dan Perilaku Pemirsa
Nagita menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama penurunan pendapatan adalah bergesernya pola konsumsi media masyarakat Indonesia secara fundamental. Jika pada tahun-tahun sebelumnya RANS sangat bergantung pada konten televisi dan kanal YouTube sebagai sumber pendapatan iklan, kini pemirsa semakin terfragmentasi ke platform-platform baru seperti TikTok, Instagram Reels, dan layanan streaming berbayar. "Kami mengamati bahwa rata-rata waktu menonton televisi linear turun sekitar 18% sejak 2023, sementara durasi konsumsi konten pendek di media sosial naik lebih dari 40% pada periode yang sama," ujarnya. Hal ini berdampak langsung pada penurunan pendapatan dari segmen iklan dan kerja sama konten yang menjadi tulang punggung perusahaan. Pendapatan iklan televisi RANS bahkan tercatat mengalami koreksi hingga 22% year-on-year pada 2024.
Selain itu, model bisnis berbasis YouTube yang sebelumnya memberikan pendapatan stabil juga mulai menunjukkan kejenuhan. Perubahan algoritma YouTube yang lebih memprioritaskan konten pendek (Shorts) dan menurunkan CPM (cost per mille) untuk konten berdurasi panjang di pasar negara berkembang turut menggerus pendapatan. RANS yang selama ini dikenal dengan konten keluarga berdurasi menengah hingga panjang harus beradaptasi dengan lanskap baru yang valuasi iklannya lebih rendah.
Persaingan Sengit Industri Konten Digital
Faktor kedua yang diungkapkan Nagita adalah kompetisi yang semakin ketat di industri kreator konten. Masuknya banyak pemain baru, termasuk kreator independen dan agensi berbasis data, membuat biaya untuk mempertahankan talenta dan memproduksi konten berkualitas meningkat signifikan. Di satu sisi, RANS harus terus berinvestasi pada program-program unggulan untuk menjaga loyalitas audiens; di sisi lain, pendapatan dari sponsor dan iklan justru terdistribusi ke lebih banyak kanal. "Biaya produksi per episode konten premium kami naik sekitar 25% dalam dua tahun terakhir, sementara nilai kontrak kerja sama dengan brand justru cenderung stagnan atau bahkan turun 5-10% karena banyaknya alternatif bagi pengiklan," papar Nagita. Ketatnya persaingan juga mendorong perang harga di segmen jasa manajemen artis dan event, yang merupakan lini bisnis penting bagi RANS Entertainment.
Tak hanya itu, munculnya rumah produksi baru yang didukung oleh modal ventura dan platform global semakin memperberat posisi RANS di pasar. Mereka membawa teknologi produksi dan strategi pemasaran yang lebih agresif, sehingga RANS harus melakukan efisiensi dan restrukturisasi internal yang memakan biaya tidak sedikit.
Tekanan Biaya Operasional dan Investasi Ekspansi
Dari sisi finansial, laporan keuangan perseroan menunjukkan adanya peningkatan beban operasional yang cukup tajam. Menurut Nagita, perusahaan melakukan sejumlah investasi strategis pada 2024 dan 2025, termasuk pembangunan studio produksi virtual, pengembangan platform over-the-top (OTT), serta ekspansi ke lini bisnis baru seperti makanan dan minuman serta fashion. Investasi ini meskipun bertujuan untuk mendiversifikasi pendapatan di masa depan, dalam jangka pendek justru membebani neraca dan menekan margin laba. Beban penyusutan aset tetap naik 30%, sementara biaya pemasaran untuk memperkenalkan lini bisnis baru menggerus laba operasional yang sudah tergerus pendapatan inti.
Tekanan juga datang dari kenaikan upah minimum dan biaya sewa lokasi strategis yang digunakan untuk kantor dan studio. Sebagai perusahaan berbasis talenta, RANS harus memastikan kesejahteraan karyawan dan kreator tetap terjaga di tengah inflasi yang mencapai 3,1% pada 2024. Kenaikan biaya-biaya tetap ini sulit diimbangi dengan kenaikan pendapatan dalam waktu singkat, sehingga secara akumulatif memperdalam penurunan laba bersih yang mencapai 35% dibanding tahun 2023.
Strategi Pemulihan dan Outlook
Meskipun pendapatan turun dua tahun beruntun, Nagita Slavina menegaskan bahwa manajemen telah menyiapkan rencana transformasi bisnis yang menyeluruh. RANS akan fokus pada tiga pilar utama: pertama, memperkuat ekosistem digital dengan mengintegrasikan konten di berbagai platform dan meluncurkan fitur keanggotaan eksklusif. Kedua, melakukan diversifikasi pendapatan melalui lisensi kekayaan intelektual (IP) dan kolaborasi dengan brand multinasional. Ketiga, melakukan efisiensi melalui otomatisasi proses produksi dan pengurangan lini usaha yang tidak menguntungkan. "Kami menargetkan pendapatan mulai pulih dan tumbuh positif pada 2026 dengan strategi baru ini, didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik di kisaran 5,2% dan peningkatan belanja iklan digital yang diprediksi naik 12%," tutup Nagita.
Baca juga:
Comments (0)