Jateng Jadi Percontohan Nasional CNG Melalui Program B50

Pemanfaatan CNG Meluas ke Berbagai SektorPemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatatkan langkah signifikan dalam transisi energi melalui percepatan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG). Selama ini, k...

Jateng Jadi Percontohan Nasional CNG Melalui Program B50

Pemanfaatan CNG Meluas ke Berbagai Sektor

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatatkan langkah signifikan dalam transisi energi melalui percepatan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG). Selama ini, konsumsi CNG di wilayah tersebut tidak lagi terbatas pada sektor transportasi publik dan logistik, melainkan telah merambah ke industri manufaktur, pembangkit listrik, serta usaha mikro kecil dan menengah. Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng per akhir 2025 menunjukkan volume penyaluran CNG mencapai 12,4 juta meter kubik per bulan, naik 18% secara year-on-year. Angka ini merepresentasikan substitusi sekitar 8.500 kiloliter BBM per bulan yang selama ini diimpor. Perluasan ke sektor rumah tangga pun mulai dijajaki melalui proyek percontohan di Kota Semarang dan Solo yang menyasar 3.000 sambungan gas rumah tangga dengan skema jaringan distribusi terbatas. Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional yang menggandeng Program B50, sebuah inisiatif percepatan bauran energi bersih yang menargetkan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar minyak hingga 50% di 10 provinsi prioritas pada 2028.

Program B50 sebagai Katalis Percepatan

Program B50 sendiri merupakan kerangka kerja terintegrasi antara Kementerian ESDM, BUMD, dan mitra swasta yang berfokus pada tiga pilar: subsidi konversi kendaraan, pembangunan infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), serta insentif fiskal bagi industri pengguna CNG. Di Jawa Tengah, implementasi program ini ditandai dengan penambahan enam SPBG baru di sepanjang koridor Pantura dan jalur selatan, sehingga total titik pengisian menjadi 27 unit. Dari sisi konversi, sebanyak 1.200 kendaraan niaga dan 300 bus Trans Jateng telah menerima converter kit bersubsidi dengan harga 60% lebih murah dari pasar. Direktur Eksekutif Lembaga Transisi Energi Nusantara, Andi Mulyana, menyatakan, "Jateng memiliki ekosistem yang paling siap karena rantai pasok gasnya stabil dari dua sumber, yaitu pipa transmisi Jawa bagian tengah dan terminal receiving LNG di Tanjung Emas. Begitu kebijakan insentif dikunci, percepatan adopsi terjadi secara natural." Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kesuksesan perluasan CNG ke rumah tangga sangat bergantung pada ketersediaan jaringan pipa distribusi yang saat ini baru menjangkau 35% wilayah perkotaan. Ekspansi ke daerah suburban dan pedesaan diproyeksikan membutuhkan investasi tambahan senilai Rp2,1 triliun hingga 2027.

Dampak Berantai dan Dinamika Pro-Kontra

Transformasi ini membawa efek domino yang terukur. Di satu sisi, penggunaan CNG telah menekan biaya operasional transportasi publik hingga 30% dibandingkan solar, sekaligus menurunkan emisi karbon monoksida (CO) rata-rata 0,7 gram per kilometer per kendaraan. Sektor industri garmen dan pengolahan makanan di Klaten serta Ungaran melaporkan penghematan energi bulanan senilai Rp45 juta per pabrik setelah beralih dari elpiji ke gas pipa. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran dari kalangan pelaku UMKM bengkel konvensional dan pemasok BBM eceran yang merasa tergerus. Ketua Himpunan Pengusaha Transportasi Lokal, Suparno, mengaku bahwa margin usaha angkutan justru tertekan karena biaya konversi awal yang masih mencapai Rp18 juta per unit kendaraan meski ada subsidi. "Tanpa kepastian pasokan dan bengkel resmi di tiap kabupaten, efisiensi yang dijanjikan tidak selalu tercapai," ujarnya. Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Gas Swasta Jateng menggarisbawahi bahwa lonjakan permintaan CNG rumah tangga perlu diimbangi dengan penambahan kuota pasokan dari hulu. Setiap tambahan 10.000 sambungan rumah tangga memerlukan alokasi gas sebesar 0,5 MMSCFD yang harus dinegosiasikan dengan kontrak jangka panjang. Hal ini memicu diskusi tentang perlunya mekanisme lelang pasokan agar harga gas di tingkat pengguna akhir terjaga di kisaran Rp4.200 – Rp5.100 per liter setara premium.

Proyeksi dan Replikasi Model

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jateng bersama mitra Program B50 telah menyusun peta jalan tiga fase. Fase pertama (2025-2026) menitikberatkan pada perluasan jaringan gas kota (city gas) ke 12 kecamatan baru dan digitalisasi meteran pintar untuk 50.000 pelanggan residensial. Fase kedua (2027-2028) menyasar integrasi CNG pada moda transportasi pedesaan dan klaster agroindustri, dengan target terbangunnya 14 SPBG mini di kawasan perkebunan dan sentra pangan. Puncaknya pada fase ketiga (2029-2030), Jateng diproyeksikan menjadi provinsi pertama yang sepenuhnya mengadopsi bahan bakar gas untuk layanan publik, dengan kontribusi pengurangan subsidi BBM nasional mencapai Rp1,8 triliun per tahun. Kepala Bappeda Jateng, Sri Hartini, menegaskan bahwa keberhasilan model ini akan menjadi cetak biru bagi provinsi-provinsi lain yang tengah mengantre program serupa. "Kunci kami adalah tata kelola data konsumsi dan investasi berbasis zonasi yang transparan. Evaluasi berkala setiap triwulan akan memastikan tidak ada ketimpangan pasokan antara koridor industri dan permukiman," ungkapnya. Jika target ini tercapai, Jawa Tengah tidak hanya menjadi percontohan nasional dalam pemanfaatan CNG, tetapi juga menjadi laboratorium transisi energi yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara komprehensif.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User