Pemerintah Jaga Harga Pakan, Dapur MBG Diminta Serap Telur Peternak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal Juli 2026, harga telur ayam ras di sejumlah sentra produksi mengalami penurunan ke kisaran Rp17.000–Rp18.000 per kilogram, tertinggal jauh dari ...

Aug 12, 2026 - 06:39
0 0
Pemerintah Jaga Harga Pakan, Dapur MBG Diminta Serap Telur Peternak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal Juli 2026, harga telur ayam ras di sejumlah sentra produksi mengalami penurunan ke kisaran Rp17.000–Rp18.000 per kilogram, tertinggal jauh dari rerata harga normal yang umumnya berada di atas Rp24.000 per kilogram. Tekanan harga paling terasa di kantong peternakan rakyat, termasuk di Temanggung, Jawa Tengah. Merespons kondisi tersebut, pemerintah menegaskan komitmen menjaga harga pakan ternak tetap stabil hingga akhir tahun, sekaligus meminta dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) memaksimalkan penyerapan telur dari peternak lokal.

Secara makroekonomi, telur ayam ras merupakan salah satu penentu pergerakan inflasi kelompok bahan makanan. BPS mencatat komponen volatile food — harga pangan bergejolak yang dipengaruhi faktor musiman dan pasokan — kerap menyumbang andil signifikan terhadap inflasi nasional yang per Juni 2026 berada di kisaran 2,5 persen year-on-year. Anjloknya harga telur memang menahan laju inflasi dalam jangka pendek, namun berpotensi memicu guncangan pasokan di masa depan apabila peternak terus merugi dan mengurangi populasi ayam petelur (layer).

Harga Pakan sebagai Fundamental Biaya Produksi

Struktur biaya usaha peternakan layer didominasi pakan dengan porsi mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi. Komponen utamanya adalah jagung dan bungkil kedelai, yang sebagian masih bergantung pada impor. Ketika harga jual telur jatuh sementara biaya pakan tetap tinggi, rasio harga terhadap biaya produksi memburuk dan margin peternak tergerus. Karena itu, jaminan stabilitas pakan hingga akhir tahun menjadi bantalan fundamental agar peternak tidak terdorong melakukan pemotongan populasi (culling) secara massal yang justru menimbulkan kelangkaan di kemudian hari.

Di satu sisi, kepastian harga pakan melindungi likuiditas peternak kecil yang tidak memiliki bantalan modal sekuat korporasi. Di sisi lain, intervensi harga menuntut presisi: bila pakan ditekan terlalu rendah di bawah mekanisme pasar, pasokan justru berisiko mengering karena produsen dan distributor menahan stok.

MBG sebagai Penyangga Permintaan Agregat

Program MBG yang menjangkau puluhan juta penerima manfaat menciptakan permintaan agregat baru bagi komoditas protein hewani. Dengan asumsi kebutuhan telur per porsi dan jumlah hari operasional dapur, kebutuhan program ini diperkirakan mencapai ratusan ribu ton per tahun. Penyerapan melalui dapur MBG berpotensi menjadi stabilisator permintaan ketika pasar ritel sedang jenuh, sekaligus menjaga perputaran kas peternak tetap bergerak.

"Komitmen pemerintah adalah menjaga keseimbangan: harga pakan dikendalikan agar biaya produksi terjaga, sementara kelebihan pasokan telur diserap melalui program gizi sehingga peternak memperoleh harga yang wajar," demikian arahan yang disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Kendati demikian, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada rantai logistik. Dapur MBG membutuhkan pasokan telur segar secara berkala dengan standar kualitas tertentu, sementara lokasi peternak kerap berjauhan dari titik distribusi. Tanpa tata niaga yang rapi, manfaat penyerapan hanya dinikmati peternak di sekitar dapur dan tidak merata hingga sentra produksi.

Dua Sisi Intervensi Harga

Pro: kombinasi stabilisasi pakan dan penyerapan produksi dapat memutus spiral kerugian peternak, menjaga populasi layer nasional, serta mencegah lonjakan harga balik arah pada 2027. Kestabilan pasokan juga merawat sentimen pasar terhadap sektor unggas yang selama ini menjadi tulang punggung protein hewani murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Kontra: intervensi berkepanjangan berisiko menciptakan ketergantungan dan mendistorsi sinyal pasar. Apabila kelebihan pasokan (oversupply) bersifat struktural akibat tren ekspansi populasi beberapa tahun terakhir, penyerapan fiskal lewat MBG hanya menunda penyesuaian. Selain itu, beban anggaran program yang sudah besar membuat ruang fiskal untuk dukungan tambahan kian terbatas, sehingga keberlanjutan kebijakan perlu dievaluasi berkala.

Proyeksi Hingga Akhir Tahun

Dengan asumsi harga pakan terkendali dan penyerapan MBG berjalan sesuai target, sejumlah analis memproyeksikan harga telur di tingkat peternak berangsur normal menuju Rp22.000–Rp24.000 per kilogram pada kuartal IV 2026. Risiko utama datang dari sisi eksternal: pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memengaruhi harga bungkil kedelai impor, sementara tren harga jagung global dapat mengubah kalkulasi biaya pakan secara signifikan.

Indikator yang perlu dicermati pelaku usaha dan pemangku kebijakan dalam beberapa bulan ke depan meliputi indeks harga perdagangan besar komoditas pangan, neraca pasokan dan populasi layer, serta realisasi belanja program gizi. Fundamental sektor unggas nasional sejatinya masih kuat, namun keseimbangan antara insentif produksi dan disiplin pasokan akan menentukan apakah stabilitas harga kali ini bersifat temporer atau berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User