Oct 10, 2026
Bisnis

Pemerintah Dorong Ekonomi Desil Bawah, Ini Dua Sisi Strateginya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, kelompok masyarakat desil bawah dan menengah masih menghadapi tekanan daya beli yang signifikan. Rasio konsumsi rumah tangga terhadap produ...

Pemerintah Dorong Ekonomi Desil Bawah, Ini Dua Sisi Strateginya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, kelompok masyarakat desil bawah dan menengah masih menghadapi tekanan daya beli yang signifikan. Rasio konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sekitar 53 persen, sementara indeks keyakinan konsumen (IKK) bergerak di kisaran 123–125 poin. Di tengah kondisi tersebut, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan sejumlah jurus untuk menguatkan ekonomi masyarakat pada lapisan desil bawah dan menengah.

Desil sendiri merupakan istilah statistik yang membagi rumah tangga ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan tingkat pengeluaran. Desil pertama adalah 10 persen penduduk dengan pengeluaran terendah, sedangkan desil menengah mencakup kelompok 40 persen terbawah hingga menengah. Kelompok inilah yang paling rentan terhadap gejolak harga pangan, energi, dan pelemahan nilai tukar, karena porsi pengeluaran mereka untuk kebutuhan pokok jauh lebih besar dibanding kelompok atas.

Di Satu Sisi: Fundamental Konsumsi Masih Menjadi Penopang

Dari kacamata fundamental, konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusinya terhadap PDB konsisten di atas 50 persen selama lima tahun terakhir. Artinya, setiap upaya memperkuat daya beli kelompok bawah dan menengah berpotensi langsung mengerek pertumbuhan agregat. Program bantuan sosial, subsidi pangan, serta perluasan akses kredit usaha mikro dinilai dapat menjaga likuiditas di lapisan terbawah sekaligus menahan laju kenaikan angka kemiskinan.

Data BPS menunjukkan tingkat kemiskinan per September 2024 berada di kisaran 8,5 persen, turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio gini sebagai ukuran ketimpangan juga bergerak moderat di sekitar 0,38. Bila program penguatan ekonomi desil bawah berjalan efektif, proyeksi sejumlah lembaga menempatkan pertumbuhan ekonomi 2025 di rentang 5,0–5,2 persen year-on-year.

"Pemerintah mendorong penguatan ekonomi masyarakat pada kelompok desil bawah dan menengah agar daya beli tetap terjaga di tengah ketidakpastian global," ujar Dradjad Hari Wibowo.

Di Sisi Lain: Sentimen Pasar dan Keterbatasan Fiskal

Namun, optimisme tersebut tidak tanpa catatan. Di sisi lain, ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. Rasio utang terhadap PDB berada di kisaran 39–40 persen, sementara belanja subsidi dan kompensasi energi menyerap porsi anggaran yang besar. Setiap tambahan program bantuan berpotensi memperlebar defisit anggaran, yang dibatasi undang-undang pada maksimal 3 persen dari PDB.

Sentimen pasar juga menjadi variabel yang sulit dikendalikan. Tekanan capital outflow akibat kebijakan suku bunga global yang ketat dapat memperlemah rupiah, yang pada akhirnya menaikkan harga barang impor dan menggerus daya beli kelompok bawah. Pasar tenaga kerja informal yang menampung sekitar 57 persen pekerja juga menjadi tantangan tersendiri, karena kelompok ini umumnya tidak tercakup dalam program perlindungan sosial formal.

Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa stimulus konsumsi tanpa perbaikan struktural hanya bersifat sementara. Tanpa peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja formal, dan perbaikan kualitas pendidikan, penguatan ekonomi desil bawah berisiko tidak berkelanjutan. Valuasi program pun perlu diukur dari dampak jangka panjang, bukan sekadar realisasi anggaran tahunan.

Membaca Arah Tren dan Proyeksi ke Depan

Ke depan, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada tiga hal: konsistensi penyaluran bantuan tepat sasaran, stabilitas harga pangan dan energi, serta iklim usaha yang mampu menyerap tenaga kerja. Indeks pembangunan manusia (IPM) yang per 2024 berada di kisaran 74–75 menjadi indikator penting untuk menilai apakah penguatan ekonomi bersifat inklusif.

Portofolio kebijakan yang seimbang antara bantalan sosial jangka pendek dan reformasi struktural jangka panjang akan menentukan apakah kelompok desil bawah dan menengah benar-benar naik kelas, atau hanya bertahan dari guncangan ekonomi. Tanpa keseimbangan tersebut, tren pemulihan berisiko timpang dan rapuh terhadap gejolak global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User