Oct 10, 2026
Bisnis

Kedelai Rp13.200 per Kg Tekan Margin Perajin Tahu

Berdasarkan data harga pangan yang dihimpun dari sejumlah pasar induk per Oktober 2026, harga kedelai impor mengalami kenaikan hingga menembus level Rp13.200 per kilogram. Angka tersebut tercatat lebi...

Kedelai Rp13.200 per Kg Tekan Margin Perajin Tahu

Berdasarkan data harga pangan yang dihimpun dari sejumlah pasar induk per Oktober 2026, harga kedelai impor mengalami kenaikan hingga menembus level Rp13.200 per kilogram. Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada periode yang sama tahun lalu yang masih berada di kisaran Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram, atau mengalami kenaikan year-on-year sekitar 20-25 persen. Kenaikan ini menjadi pukulan telak bagi pelaku usaha mikro di sektor pengolahan pangan berbasis kedelai, khususnya perajin tahu dan tempe, karena kedelai merupakan bahan baku utama yang menyumbang komponen biaya produksi terbesar.

Di kawasan industri rumahan seperti Duren Tiga, Jakarta Selatan, aktivitas produksi masih terlihat berjalan normal. Asap dapur dan proses perebusan tetap berlangsung sejak dini hari. Namun di balik rutinitas tersebut, para perajin mengaku tengah menanggung beban margin yang semakin tipis. Sejumlah perajin memilih tetap mempertahankan harga jual tahu di level yang sama untuk menjaga pelanggan, meskipun harga bahan baku terus merangkak naik. Kondisi ini mencerminkan tekanan pada sisi likuiditas usaha kecil yang tidak memiliki ruang negosiasi harga seluas pelaku industri besar.

Di Satu Sisi: Kenaikan Harga Global dan Pelemahan Nilai Tukar

Kenaikan harga kedelai tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar komoditas global. Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai impor, terutama dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Berbagai faktor seperti gangguan cuaca di negara produsen, kenaikan biaya logistik internasional, serta ketegangan geopolitik telah mendorong harga kontrak berjangka kedelai di bursa global mengalami kenaikan. Ditambah lagi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat harga beli dalam negeri semakin mahal, karena transaksi impor dilakukan dalam mata uang dolar.

Dari kacamata pelaku usaha, kenaikan ini langsung menggerus margin keuntungan. Jika sebelumnya perajin bisa menikmati margin sekitar 15-20 persen per produksi, kini angka tersebut menyusut menjadi tinggal 5-8 persen. Sentimen pasar juga turut terpengaruh, di mana pedagang pasar mulai mengurangi volume pembelian karena khawatir tahu tidak terserap sepenuhnya di tingkat konsumen. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan indeks produksi tahu nasional dan memicu gelombang pengurangan tenaga kerja di sentra-sentra industri tahu rakyat.

Di Sisi Lain: Peluang Swasembada dan Efisiensi Produksi

Meski tertekan, kenaikan harga kedelai sebenarnya membuka ruang bagi percepatan program swasembada kedelai lokal. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menargetkan peningkatan luas tanam kedelai nasional. Bila fundamental produksi dalam negeri membaik, ketergantungan impor bisa ditekan hingga di bawah 50 persen dalam beberapa tahun ke depan. Selama ini, sekitar 80-90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, sehingga gejolak harga global sangat terasa di pasar domestik.

Dari sisi perajin, tekanan ini juga menjadi momentum untuk melakukan efisiensi produksi dan diversifikasi produk. Beberapa perajin mulai beralih ke olahan tahu dengan nilai tambah lebih tinggi, seperti tahu bakso, tahu crispy, atau produk siap saji. Strategi ini memungkinkan penyesuaian harga jual secara bertahap tanpa kehilangan pelanggan. Selain itu, penggunaan teknologi sederhana seperti mesin penggiling dan boiler hemat energi dapat menekan biaya produksi hingga 10-15 persen, sehingga margin dapat kembali terjaga.

Proyeksi dan Tantangan Fundamental ke Depan

Ke depan, proyeksi harga kedelai masih bergantung pada dua variabel utama: pergerakan nilai tukar dan hasil panen global. Bila rupiah menguat dan pasokan global membaik, harga kedelai berpotensi turun ke kisaran Rp11.500-12.000 per kilogram pada kuartal berikutnya. Sebaliknya, jika capital outflow berlanjut dan permintaan global tetap tinggi, harga bisa bertahan di level saat ini atau bahkan naik lagi. Rasio harga kedelai terhadap harga jual tahu saat ini berada di titik kritis, sehingga perajin perlu mulai menyesuaikan struktur biaya dan portofolio produknya.

Valuasi usaha tahu rakyat memang tidak dihitung di bursa, tetapi dampaknya terhadap perekonomian riil sangat nyata. Sektor ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja langsung dan menjadi sumber protein terjangkau bagi masyarakat. Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada intervensi harga jangka pendek, tetapi juga memperkuat ekosistem hulu-hilir, termasuk akses kredit modal kerja bagi perajin kecil. Tanpa dukungan struktural, kenaikan harga kedelai akan terus menjadi siklus tahunan yang menggerus daya saing industri tahu nasional.

"Tekanan harga bahan baku impor sebenarnya alarm bagi kita untuk segera memperkuat produksi dalam negeri. Kalau tidak, perajin kecil terus jadi penanggung beban paling berat," ujar seorang pengamat ekonomi pangan.

Pada akhirnya, kisah perajin tahu di Duren Tiga adalah cermin dari persoalan struktural yang lebih besar: ketergantungan pada impor dan rapuhnya perlindungan bagi usaha mikro. Di satu sisi, kenaikan harga kedelai menekan keuntungan dan mengancam keberlangsungan produksi. Di sisi lain, momentum ini bisa menjadi titik balik menuju kemandirian pangan dan efisiensi usaha, asalkan ada keberpihakan kebijakan yang konsisten dan terukur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User