Pemerhati Politik AS Didin Nasirudin Ambil Doktor di Universitas Sahid
Jakarta – Di tengah dinamika politik global yang kian kompleks, seorang praktisi komunikasi strategis dan pemerhati politik Amerika Serikat, Didin Nasirudi
Jakarta – Di tengah dinamika politik global yang kian kompleks, seorang praktisi komunikasi strategis dan pemerhati politik Amerika Serikat, Didin Nasirudin, mengambil langkah besar dengan melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Managing Director Bening Communication ini resmi terdaftar sebagai mahasiswa Program Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi di Universitas SAHID Jakarta. Keputusan tersebut bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan upaya menjembatani dunia praktik komunikasi politik dengan fondasi keilmuan yang kokoh.
Dari Praktisi Menuju Akademisi
Didin bukan nama asing di ranah komunikasi dan analisis politik. Selama lebih dari satu dekade, ia memimpin Bening Communication, konsultan komunikasi yang banyak menangani kampanye kebijakan publik, isu internasional, dan strategi diplomasi lunak. Kepakarannya dalam membaca arah kebijakan Amerika Serikat kerap menjadi rujukan media dan forum bisnis. Namun, gelar Master yang disandangnya sejak 2010 dirasa belum cukup untuk menjawab kompleksitas hubungan internasional kontemporer.
“Saya ingin membangun jembatan antara praktik dan teori. Dunia komunikasi politik berubah sangat cepat, terutama pasca-polarisasi di Amerika Serikat dan perang informasi global. Jika saya hanya mengandalkan pengalaman, perspektif saya akan tumpul. Universitas SAHID, dengan fokus diplomasi dan politiknya, adalah tempat yang tepat untuk mempertajam pisau analisis,”
ujar Didin saat ditemui di sela orientasi mahasiswa baru, Selasa (12/3).
Alasan Memilih Universitas SAHID
Pilihan Didin jatuh pada Program Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi Universitas SAHID bukan tanpa alasan. Kampus yang berlokasi di bilangan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, itu dikenal memiliki kurikulum yang mengintegrasikan studi politik, komunikasi, dan diplomasi dalam satu atap. Didin menilai model tersebut langka di Indonesia, di mana kebanyakan program doktor masih memisahkan ketiganya secara ketat.
Menurut data universitas, program ini baru dibuka pada 2023 dan langsung menyedot perhatian para profesional lintas sektor. Sebanyak 78% mahasiswa angkatan pertama berasal dari kalangan praktisi dan diplomat aktif. Didin sendiri lolos seleksi dengan proposal riset bertajuk “Diskursus Ketahanan Nasional dalam Debat Politik AS dan Dampaknya terhadap Narasi Media di Indonesia.” Proposal itu dinilai dewan penguji memiliki relevansi tinggi dengan tantangan geopolitik terkini.
Fokus Riset dan Jejak Karier
Jauh sebelum memutuskan kembali ke bangku kuliah, Didin telah membuktikan kapasitas intelektualnya melalui berbagai publikasi dan komentar di media nasional. Ia secara rutin mengulas kebijakan luar negeri AS, mulai dari era Trump, Biden, hingga dinamika Kongres terbaru. Bagi Didin, memahami politik AS bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan strategis bagi Indonesia. “AS adalah mitra dagang dan keamanan utama kita. Setiap pergeseran kebijakan di Washington bisa berdampak langsung ke Jakarta. Sayangnya, masih sedikit analis yang mampu menerjemahkan sinyal-sinyal politik AS ke dalam konteks Indonesia,” jelasnya.
Kini, sebagai mahasiswa doktoral, ia bertekad mengisi kekosongan itu. Risetnya akan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis terhadap narasi media di Indonesia saat meliput konflik partisan AS, sekaligus mengukur pengaruhnya terhadap persepsi publik tentang ketahanan nasional. Ia juga membidik kolaborasi dengan think tank di Washington, D.C., untuk memperkaya data primer.
Pesan untuk Generasi Muda
Di tengah kesibukannya mengelola agensi dan menjalani kuliah, Didin menyempatkan diri berbicara tentang pentingnya pendidikan berkelanjutan. Ia mengaku banyak profesional yang merasa cukup dengan pencapaian praktis, namun justru kehilangan kepekaan terhadap pergeseran paradigma. “Belajar itu tidak mengenal usia. Saya berusia 42 tahun saat mendaftar, dan itu bukan hambatan. Justru pengalaman profesional menjadi modal berharga untuk memperkaya diskusi di kelas,” tegasnya.
Ia berpesan agar generasi muda tidak alergi terhadap teori dan riset. Sebab, menurutnya, teori yang kuat akan melahirkan praktik yang berintegritas, terutama di bidang komunikasi politik yang rawan disinformasi. “Kita hidup di era pasca-kebenaran. Kalau kita tidak dibekali metodologi yang ketat, kita akan ikut terseret arus hoaks,” imbuhnya.
Harapan dan Agenda ke Depan
Didin menargetkan penyelesaian program doktor dalam tiga tahun. Setelah lulus, ia berencana mendirikan lembaga riset independen yang fokus pada studi komunikasi politik transnasional. Lembaga itu diharapkan menjadi hub bagi para akademisi dan praktisi untuk merumuskan strategi komunikasi yang mendukung kepentingan nasional di panggung global. Ia juga berkomitmen tetap memimpin Bening Communication sambil membagi waktu untuk mengajar sebagai dosen tamu.
Langkah Didin Nasirudin mempertegas bahwa sekat antara praktik dan akademik kian memudar. Di era disrupsi informasi, kolaborasi keduanya menjadi kunci bagi Indonesia untuk bersuara lebih lantang dan cerdas di dunia internasional.
[SOCIAL_TWEET]: Didin Nasirudin, bos Bening Communication, ambil langkah besar: kembali ke kampus! Kini resmi mahasiswa Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi Universitas SAHID. Simak alasannya yang bikin penasaran. #PendidikanPolitik #Doktor #USPolitics[SOCIAL_TG]: 🎓 Didin Nasirudin, konsultan komunikasi senior, kini resmi mahasiswa doktoral! Simak motivasi dan fokus risetnya yang bikin kita makin paham politik AS. Klik di sini 👇
Comments (0)