Oct 02, 2026
Bisnis

Pelajaran dari Tekanan Inflasi Masa Lalu

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2026, tekanan harga merupakan salah satu indikator makro yang paling berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Dalam sejarah perekonomian Indo...

Pelajaran dari Tekanan Inflasi Masa Lalu

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2026, tekanan harga merupakan salah satu indikator makro yang paling berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Dalam sejarah perekonomian Indonesia, terdapat satu periode di mana laju inflasi mengalami kenaikan yang sangat ekstrem, sehingga menjadi pembelajaran berharga mengenai pentingnya menjaga stabilitas harga hingga saat ini. Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak terhadap nilai mata uang, namun juga terhadap fundamental, likuiditas, serta sentimen pasar secara menyeluruh.

Memahami Hyperinflasi dan Dampaknya

Sebelum membahas langkah penstabilan yang pernah dilakukan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan inflasi ekstrem atau hyperinflasi (inflasi yang terjadi secara sangat cepat dan tidak terkendali). Pada masa tersebut, Indonesia tercatat mengalami inflasi hingga 650% secara kumulatif dalam periode puncaknya. Angka ini berarti bahwa harga barang kebutuhan pokok dalam kurun waktu tersebut dapat meningkat lebih dari enam kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Sebagai pembanding, berdasarkan data historis, laju inflasi Indonesia berhasil ditekan hingga 85%, yang mana meski masih tergolong tinggi, merupakan penurunan yang signifikan dengan selisih sebesar 565% dalam proses pemulihannya.

Tekanan ini berdampak luas terhadap perekonomian. Indeks harga konsumen (IHK) yang merupakan alat ukur kenaikan harga rata-rata barang dan jasa, mengalami lonjakan drastis sehingga masyarakat harus mengeluarkan nilai nominal yang jauh lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dasar. Selain itu, tren depresiasi nilai uang turut memicu capital outflow (keluarnya dana asing dari dalam negeri) secara tidak langsung, serta melemahkan kepercayaan terhadap daya simpan aset dalam mata uang domestik. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran portofolio masyarakat, dimana banyak dari mereka beralih ke aset yang dinilai lebih stabil untuk menjaga nilai kekayaan mereka.

Dua Perspektif Dalam Upaya Penstabilan Harga

Di satu sisi, upaya menekan laju inflasi secara agresif merupakan langkah yang dibutuhkan untuk memulihkan fundamental perekonomian. Kebijakan moneter yang ketat dapat membantu mengurangi jumlah uang beredar, sehingga tekanan permintaan yang berlebihan dapat dikendalikan. Selain itu, disiplin fiskal berperan penting untuk menekan defisit anggaran, yang mana apabila tidak dikontrol akan memperbesar rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) serta menambah tekanan terhadap likuiditas negara. Langkah langkah tersebut, apabila dilakukan secara terukur, mampu memperbaiki valuasi mata uang, menstabilkan indeks harga, serta mengembalikan sentimen pasar yang sempat memburuk.

Di sisi lain, terdapat konsekuensi sosial dan ekonomi yang tidak dapat diabaikan dari kebijakan pengetatan tersebut. Penurunan jumlah uang beredar serta pembatasan belanja dapat memperlambat aktivitas ekonomi dalam jangka pendek. Hal ini berpotensi menahan pertumbuhan lapangan pekerjaan, khususnya bagi sektor yang sangat bergantung terhadap permintaan domestik. Tidak hanya itu, kebijakan tersebut dapat memicu kenaikan biaya pinjaman, sehingga sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang memiliki keterbatasan modal akan merasakan tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan korporasi besar. Oleh karena itu, proses penurunan inflasi dari 650% menuju 85% dapat dikatakan sebagai upaya yang tidak mudah, dikarenakan harus menyeimbangkan antara kestabilan harga dan keberlangsungan ekonomi rakyat.

"Stabilitas harga bukanlah tujuan yang berdiri sendiri, namun merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan."

Pelajaran Untuk Masa Kini dan Proyeksi Kedepan

Melihat tren global saat ini, tekanan inflasi masih dapat kembali terjadi, baik akibat gangguan rantai pasok, fluktuasi harga komoditas internasional, maupun perubahan kebijakan moneter negara maju. Berdasarkan proyeksi beberapa lembaga makro, risiko terhadap laju inflasi dapat mengalami kenaikan maupun penurunan tergantung terhadap faktor eksternal dan respons domestik. Oleh karena itu, terdapat beberapa pelajaran fundamental yang dapat diambil dari pengalaman masa lalu.

Pertama, konsistensi kebijakan menjadi kunci. Ketidakkonsistenan antara kebijakan fiskal dan moneter dapat memicu ekspektasi inflasi (perkiraan masyarakat mengenai kenaikan harga di masa depan) yang justru semakin mendorong harga untuk naik, alih alih mengalami penurunan. Kedua, menjaga cadangan devisa serta likuiditas eksternal sangatlah penting untuk mencegah capital outflow yang dapat melemahkan nilai tukar secara tiba tiba. Ketiga, komunikasi kebijakan yang transparan turut berperan dalam membentuk sentimen pasar yang positif, sehingga ekspektasi inflasi dapat terjaga sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Terakhir, penting untuk dicatat bahwa pemulihan tidak selalu bersifat instan. Penurunan inflasi year-on-year yang signifikan membutuhkan waktu, keteguhan, serta keberanian untuk mengambil kebijakan yang tidak populer dalam jangka pendek, namun berdampak positif terhadap daya beli masyarakat dalam jangka panjang. Dengan menjaga rasio fiskal yang sehat, valuasi yang wajar, serta fundamental yang kuat, perekonomian akan memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi segala bentuk tekanan harga di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User