Berdasarkan data PT Pertamina Patra Niaga per Desember 2025, pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di wilayah Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, ditambah hingga 200 persen dari kondisi normal. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan selama penyelenggaraan MotoGP Mandalika. LPG sendiri merupakan gas cair hasil pengolahan minyak bumi yang biasa digunakan rumah tangga dan pelaku usaha untuk memasak serta kebutuhan komersial.
Penambahan pasokan ini mencerminkan respons cepat terhadap proyeksi kenaikan permintaan yang biasanya menyertai event berskala internasional. Sebagai gambaran, sebuah ajang motorsport kelas dunia umumnya mendatangkan puluhan ribu penonton, tim, dan pekerja pendukung dalam periode beberapa hari, sehingga konsumsi energi di sektor akomodasi, kuliner, dan transportasi mengalami kenaikan signifikan. Tanpa penambahan pasokan, risiko kelangkaan dan lonjakan harga di tingkat pengecer bisa muncul.
Pro: Antisipasi Dini Menjaga Stabilitas Pasokan
Di satu sisi, langkah penambahan pasokan hingga dua kali lipat patut diapresiasi. Menurut data historis, event besar seperti MotoGP kerap mendorong kenaikan konsumsi LPG di daerah tuan rumah pada kisaran 30 hingga 60 persen dibandingkan periode normal. Dengan tambahan 200 persen, buffer atau cadangan penyangga yang tersedia jauh melampaui proyeksi kenaikan tersebut, sehingga secara teori pasokan akan tetap aman bahkan bila terjadi lonjakan di luar perkiraan.
Dari kacamata fundamental, kecukupan energi adalah prasyarat bagi kelancaran sebuah event. Jika pasokan LPG terganggu, sentimen pasar bisa memburuk, citra penyelenggara tercoreng, dan dampak ekonominya justru lebih besar daripada biaya penambahan pasokan itu sendiri. Oleh karena itu, langkah preventif ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam manajemen likuiditas energi.
"Kesiapan pasokan energi menjadi faktor penentu keberhasilan penyelenggaraan event berskala internasional. Antisipasi sejak awal jauh lebih murah dibandingkan penanganan krisis," ujar seorang pengamat energi dalam sebuah diskusi industri.
Kontra: Beban Biaya dan Risiko Kelebihan Pasokan
Di sisi lain, penambahan pasokan hingga 200 persen menuai catatan. Pertama, biaya logistik dan penyimpanan tambahan tidaklah kecil. LPG memerlukan tabung, stasiun pengisian, dan armada distribusi yang memadai. Jika permintaan riil ternyata hanya naik 40 hingga 60 persen, maka ada potensi kelebihan pasokan (oversupply) yang menganggur di gudang, menimbulkan biaya penyimpanan serta risiko penurunan valuasi stok.
Kedua, ada pertanyaan mengenai keberlanjutan pasca-event. Setelah MotoGP selesai, permintaan biasanya kembali ke level normal. Jika kelebihan pasokan tidak terkelola dengan baik, hal ini bisa mengganggu keseimbangan pasokan di pasar regional. Selain itu, subsidi energi untuk LPG 3 kilogram, jika ada, perlu dihitung ulang agar tidak membebani anggaran negara secara berlebihan.
Ketiga, dari perspektif pemerataan, penambahan masif di Lombok dan Sumbawa berpotensi mengalihkan alokasi dari daerah lain yang juga membutuhkan. Ini menyangkut rasio distribusi dan keadilan antarwilayah. Masyarakat di daerah lain tentu berharap pasokan mereka tidak dikorbankan demi kelancaran satu event.
Dampak Ekonomi dan Proyeksi ke Depan
Secara makro, MotoGP Mandalika diproyeksikan menyumbang dampak ekonomi bagi NTB, mulai dari belanja wisatawan, okupansi hotel, hingga pendapatan UMKM. Kenaikan konsumsi LPG adalah cerminan dari geliat aktivitas ekonomi tersebut. Jika dikelola baik, multiplier effect-nya bisa terasa hingga kuartal berikutnya. Namun, jika terjadi gangguan pasokan, capital outflow berupa menurunnya kepercayaan investor dan wisatawan bisa menjadi risiko nyata.
Ke depan, pola penambahan pasokan menjelang event besar perlu dijadikan standar operasional, bukan sekadar respons musiman. Diperlukan data historis konsumsi yang akurat, proyeksi permintaan berbasis tren, serta koordinasi lintas lembaga. Dengan begitu, penambahan pasokan tidak hanya aman secara teknis, tetapi juga efisien secara anggaran dan adil secara distribusi. Keseimbangan inilah yang menjadi kunci fundamental ketahanan energi nasional.
Comments (0)