Pasar Murah Sidoarjo Perkuat Stabilitas Harga dan Daya Beli Warga

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2026, inflasi nasional tercatat sebesar 2,84 persen year-on-year, dengan komponen harga bergejolak (volatile food) menjadi penyumbang utama tekana...

Aug 08, 2026 - 19:42
0 0
Pasar Murah Sidoarjo Perkuat Stabilitas Harga dan Daya Beli Warga

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2026, inflasi nasional tercatat sebesar 2,84 persen year-on-year, dengan komponen harga bergejolak (volatile food) menjadi penyumbang utama tekanan harga di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Perum Bulog menggelar pasar murah di Kabupaten Sidoarjo sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas harga pangan, mengendalikan inflasi daerah, serta menopang daya beli masyarakat.

Dalam kegiatan ini, sejumlah komoditas kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, telur ayam, dan tepung terigu dijual dengan harga di bawah pasaran, dengan selisih berkisar 10 hingga 20 persen dibanding harga rata-rata di pasar tradisional. Kebijakan ini menyasar rumah tangga berpenghasilan rendah yang rasio belanja pangannya mencapai lebih dari 50 persen dari total pengeluaran bulanan, sehingga paling rentan terhadap gejolak harga.

Konteks Inflasi Pangan di Jawa Timur

Jawa Timur memiliki bobot signifikan dalam perhitungan indeks harga konsumen (IHK) nasional. IHK merupakan indikator yang mengukur perubahan rata-rata harga sekeranjang barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga. Karena pangan mendominasi keranjang konsumsi masyarakat, setiap kenaikan harga komoditas pokok langsung berdampak pada inflasi daerah.

Sepanjang semester pertama 2026, kelompok bahan makanan tercatat menjadi penyumbang andil inflasi terbesar di sejumlah kota IHK di Jawa Timur. Harga beras, misalnya, mengalami kenaikan di kisaran 4 hingga 6 persen secara year-on-year, sejalan dengan tren penguatan harga gabah di tingkat petani dan gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah memperkuat operasi pasar dan gerakan pangan murah di berbagai kabupaten dan kota, termasuk Sidoarjo yang merupakan wilayah penyangga kawasan metropolitan Surabaya.

Di Satu Sisi: Intervensi yang Efektif untuk Jangka Pendek

Di satu sisi, pasar murah dipandang sebagai instrumen stabilisasi harga yang efektif untuk jangka pendek. Dengan menyalurkan pasokan komoditas pokok langsung ke titik-titik konsumsi masyarakat, tekanan harga di pasar eceran dapat diredam. Perum Bulog memiliki cadangan beras pemerintah (CBP) yang memungkinkan intervensi pasokan dilakukan secara cepat dan terukur ketika terjadi gejolak.

"Gerakan pangan murah dan operasi pasar terbukti membantu menjaga ekspektasi inflasi masyarakat, terutama menjelang periode permintaan tinggi seperti hari besar keagamaan," ujar seorang pengamat ekonomi daerah di Surabaya.

Dari sisi makroekonomi, langkah ini juga membantu menjaga daya beli. Ketika harga pangan terkendali, pendapatan riil masyarakat, yakni pendapatan setelah disesuaikan dengan inflasi, tidak tergerus, sehingga konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Di Sisi Lain: Bukan Solusi Struktural

Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai pasar murah bersifat temporer dan tidak menyentuh persoalan fundamental seperti produktivitas pertanian yang stagnan, rantai distribusi yang panjang, serta ketergantungan produksi pada musim. Tanpa perbaikan sisi pasokan, tren kenaikan harga pangan berpotensi berulang setiap kali terjadi gangguan panen atau cuaca.

Selain itu, cakupan program yang terbatas pada lokasi dan waktu tertentu membuat dampaknya terhadap indeks harga secara keseluruhan relatif kecil. Intervensi yang terlalu sering tanpa disertai kebijakan produksi juga dikhawatirkan menimbulkan distorsi harga di pasar, yang pada gilirannya dapat memengaruhi insentif petani dan pedagang.

Proyeksi dan Sentimen Pasar

Ke depan, proyeksi inflasi Jawa Timur hingga akhir 2026 diperkirakan tetap berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1 persen, dengan catatan harga pangan terkendali dan pasokan lancar. Sentimen pasar terhadap kebijakan stabilisasi pangan cenderung positif karena membantu menjaga likuiditas konsumsi rumah tangga, yakni kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan tanpa mengorbankan tabungan.

Pada akhirnya, efektivitas pasar murah akan ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan serta sinergi dengan kebijakan jangka panjang di sektor pertanian dan logistik. Kombinasi antara intervensi jangka pendek dan perbaikan fundamental sisi pasokan menjadi kunci agar stabilitas harga tidak hanya bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User