Panduan Dokter Jiwa bagi Korban Hubungan Toksik: Utamakan Cari Support System Terdekat

Tidak setiap orang beruntung menjalani hubungan yang sehat. Banyak yang tanpa sadar atau terpaksa bertahan dalam hubungan toksik—sebuah lingkaran yang diwarnai manipulasi, kontrol berlebihan, hingg

Jul 06, 2026 - 07:44
0 0
Panduan Dokter Jiwa bagi Korban Hubungan Toksik: Utamakan Cari Support System Terdekat

Tidak setiap orang beruntung menjalani hubungan yang sehat. Banyak yang tanpa sadar atau terpaksa bertahan dalam hubungan toksik—sebuah lingkaran yang diwarnai manipulasi, kontrol berlebihan, hingga kekerasan fisik maupun verbal. Kondisi ini tidak hanya menggerus kesehatan mental, tetapi juga dapat mengancam keselamatan jiwa. Ironisnya, justru di tengah situasi yang membahayakan, korban kerap merasa terjebak dan sulit mencari jalan keluar. Rasa takut, malu, atau ketergantungan emosional kerap menjadi belenggu yang membuat langkah mengakhiri hubungan terasa sangat berat.

Langkah Pertama: Identifikasi Orang yang Bisa Dipercaya

Dalam program bincang sore Beritadua.com edisi Jumat (3/7/2026), spesialis kedokteran jiwa Dr. Erickson Arthur S, SpKJ, menekankan bahwa kunci pertama untuk keluar dari jeratan hubungan toksik yang membahayakan adalah mengetahui dengan pasti siapa yang dapat diandalkan sebagai support system. Support system ini bukan sekadar teman ngobrol, melainkan individu atau kelompok yang mampu memberikan dukungan emosional positif, perlindungan, dan bantuan nyata tanpa menghakimi.

“Kalau kekerasan terjadi di antara pasangan, entah suami-istri atau berpacaran, tanyakan pada diri sendiri: siapa yang bisa saya hubungi? Mulailah dari orang-orang terdekat. Ayah, ibu, atau anggota keluarga lain yang selama ini menunjukkan perhatian tulus. Mereka adalah pintu pertama untuk berbagi cerita lebih jauh dan mencari pertolongan,” ujar Dr. Erickson, menyampaikan pandangannya dalam kesempatan tersebut.

“Jangan ragu untuk bercerita. Saat kita mengungkapkan apa yang terjadi, beban psikologis bisa berkurang dan kita mulai melihat masalah dari sudut yang lebih jernih. Orang terdekat yang peduli akan membantu kita menilai situasi dengan lebih objektif dan menemukan langkah aman berikutnya.”

Lebih lanjut, Dr. Erickson menjelaskan bahwa dalam dinamika hubungan yang penuh kekerasan, pelaku sering kali sengaja mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya. Itu sebabnya, mengidentifikasi support system sejak dini menjadi sangat krusial. Bisa jadi korban merasa tidak memiliki siapa-siapa karena sudah lama dijauhkan dari teman atau keluarga, namun selalu ada setidaknya satu orang yang peduli dan bersedia mendengarkan.

Jika opsi keluarga tidak memungkinkan—misalnya karena tinggal berjauhan atau hubungan yang kurang harmonis—alternatif lain adalah sahabat yang sudah dikenal lama, tetangga yang dapat dipercaya, atau bahkan konselor profesional. Dr. Erickson menambahkan bahwa di era digital, berbagai lembaga layanan kesehatan jiwa dan hotline pengaduan kekerasan juga bisa berfungsi sebagai support system awal yang krusial.

Yang terpenting, menurutnya, adalah menepis perasaan malu dan rasa bersalah yang sering kali ditanamkan pelaku kepada korban. “Anda tidak sendiri dan bukan Anda penyebab kekerasan itu terjadi. Meminta bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Semakin cepat Anda meraih tangan yang terulur, semakin besar peluang untuk memutus rantai toksisitas dan memulihkan diri dengan selamat,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User