Di tengah maraknya tren diet rendah karbohidrat dan narasi kesehatan yang kerap memojokkan konsumsi biji-bijian, sebuah fakta fisiologis mendasar kembali diangkat ke ruang publik. Pakar nutrisi terkemuka, Diego Sívori, membongkar sejumlah miskonsepsi populer terkait konsumsi karbohidrat dalam program televisi LN+. Berlawanan dengan stigma bahwa karbohidrat selalu membebani sistem pencernaan, Sívori menegaskan bahwa sajian nasi justru menempati posisi teratas sebagai asupan yang paling ramah bagi saluran cerna manusia.
Klaim tersebut menantang pandangan arus utama yang kerap menyamaratakan semua jenis karbohidrat sebagai pemicu rasa begah dan perlambatan metabolisme. Menurut penelusuran klinis, struktur pati pada beras yang telah dimasak memiliki ikatan kimia yang relatif sederhana untuk dipecah oleh enzim pencernaan manusia dibanding makronutrien kompleks lainnya.
“Banyak orang meyakini bahwa karena merupakan karbohidrat, mencernanya akan sangat sulit. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada yang lebih mudah dicerna daripada sepiring nasi,” tegas Diego Sívori dalam siaran tersebut.
Dilema Beras Putih Melawan Beras Merah
Dalam pemaparannya, Sívori menggarisbawahi distingsi krusial antara beras putih dan beras merah (pecah kulit). Kendati narasi kebugaran modern kerap mendewakan serat tinggi pada beras merah untuk menjaga indeks glikemik, dari sudut pandang efisiensi mekanis lambung dan usus, beras putih justru lebih unggul.
Lapisan bekatul atau sekam pada beras merah menuntut kerja enzim dan kontraksi saluran cerna yang jauh lebih berat. Kondisi ini kerap memicu fermentasi berlebih di usus besar bagi individu dengan sensitivitas pencernaan tertentu.
| Parameter | Nasi Putih | Nasi Merah / Gandum Utuh |
|---|---|---|
| Beban Kerja Saluran Cerna | Sangat Rendah (Cepat diserap) | Sedang hingga Tinggi (Proses lama) |
| Kandungan Serat Kasar | Minimal | Tinggi |
| Kecocokan untuk Lambung Sensitif | Sangat Direkomendasikan | Berisiko Menimbulkan Gas |
Sívori secara spesifik menyatakan: “Untuk mendapatkan hasil pencernaan yang optimal dan ringan, konsumsi beras putih jauh lebih baik dibandingkan beras merah.” Hal ini membantah generalisasi bahwa makanan olahan alami selalu lebih ramah bagi semua kondisi lambung.
Bukan Karbohidratnya, Melainkan 'Koleganya'
Investigasi atas keluhan gangguan pencernaan pascakonsumsi karbohidrat sering kali salah sasaran. Sívori menegaskan bahwa penyebab utama rasa kantuk berat, perut kembung, dan gangguan asam lambung setelah menyantap nasi maupun pasta bukanlah bahan pokoknya, melainkan bahan pendampingnya.
Dalam istilah nutrisi, masalah sesungguhnya terletak pada komposisi lemak jenuh dan bumbu olahan yang menyertai piring makan tersebut. Karbohidrat murni kerap menjadi kambing hitam atas kombinasi kalori ekstrem yang dipicu oleh bahan-bahan lain:
- Keju olahan tinggi lemak: Menghambat laju pengosongan lambung secara drastis.
- Saus berbasis krim kental: Menuntut sekresi empedu berlebih yang memicu rasa mual atau begah.
- Daging olahan dan sosis berlemak: Menambah beban proteolisis sekaligus memperlambat motilitas usus.
“Apa yang saya sampaikan mengenai beras juga berlaku penuh untuk pasta. Masalah terbesarnya bukan pada karbohidrat itu sendiri, melainkan ‘teman-temannya’—yaitu keju berlebih, saus krim, dan aneka daging olahan,” pungkas Sívori.
Comments (0)