SELAT SUNDA — Tim SAR Gabungan resmi menghentikan operasi pencarian dan pertolongan terhadap rombongan jurnalis serta kru kapal cepat KM Arupadatu I yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. Keputusan penutupan operasi ini diambil setelah proses pencarian intensif selama standar masa operasional tidak membuahkan tanda-tanda keberadaan bangkai kapal maupun korban selamat di area penyisiran.
Penyisiran skala besar yang melibatkan berbagai unsur maritim, mulai dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, hingga armada kapal nelayan lokal, menghadapi kendala berat akibat kondisi oseanografi Selat Sunda yang terkenal ekstrem dan dinamis.
Kronologi Pencarian dan Perluasan Sektor Radar
Berdasarkan catatan tim investigasi lapangan, KM Arupadatu I yang membawa rombongan jurnalis peliputan maritim tersebut kehilangan kontak di tengah cuaca buruk sesaat setelah melewati jalur penyeberangan padat. Rangkaian operasi pencarian berlangsung dengan linimasa sebagai berikut:
- Hari Ke-1 hingga Ke-2: Basarnas mengerahkan armada Rigid Inflatable Boat (RIB) dan kapal patroli cepat menyusul laporan loss of contact. Sektor pencarian difokuskan pada radius 15 mil laut dari titik koordinat sinyal transmisi terakhir.
- Hari Ke-3 hingga Ke-5: Operasi ditingkatkan menjadi skala gabungan dengan bantuan helikopter intai maritim dan kapal KRI berteknologi sonar. Radius pencarian diperluas hingga 40 mil laut mencakup pesisir Banten Barat dan perairan selatan Lampung.
- Hari Ke-6 hingga Ke-7: Pemindaian dasar laut intensif dilakukan di sekitar palung Selat Sunda, namun sapuan arus bawah laut yang mencapai kecepatan lebih dari 4 knot menyulitkan deteksi visual maupun alat pemindai sonar.
"Seluruh metode pencarian permukaan laut, udara, hingga pemindaian hidroakustik telah dimaksimalkan sesuai protokol SAR nasional. Mengingat tidak adanya indikasi baru dan batas waktu regulasi pencarian telah tercapai, maka operasi SAR aktif secara resmi kami nyatakan ditutup," ujar Koordinator Misi SAR Gabungan dalam keterangan resminya.
Tantangan Arus Bawah Laut dan Misteri Insiden
Penyelidikan awal mengindikasikan bahwa KM Arupadatu I berhadapan dengan gelombang tinggi mencapai 3,5 meter yang disertai anomali pusaran arus di sekitar gugusan pulau kecil Selat Sunda. Sempitnya lorong selat dan pertemuan arus laut Jawa dengan Samudra Hindia disinyalir menjadi faktor krusial yang mempercepat pergeseran objek maritim yang mengalami kedaruratan.
Keluarga rombongan jurnalis dan kru kapal telah menerima penjelasan resmi dari otoritas perihal evaluasi teknis penghentian pencarian ini. Meski operasi lapangan gabungan disudahi, otoritas pelabuhan dan stasiun radio pantai (SROP) tetap menyiarkan maklumat pelayaran Notice to Mariners (Notam).
Status Pemantauan Pasif dan Peluang Operasi Lanjutan
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, penutupan operasi aktif tidak menghapus peluang dibukanya kembali pencarian. Jika sewaktu-waktu ditemukan petunjuk baru, serpihan kapal, atau laporan dari kapal komersial dan nelayan yang melintas, operasi SAR dapat langsung diaktifkan kembali oleh Basarnas.
Comments (0)