OJK Dukung Destry Damayanti sebagai Calon Tunggal Gubernur Bank Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III-2024, ekonomi Indonesia tumbuh 4,95 persen year-on-year, sementara Bank Indonesia mencatat inflasi akhir tahun berada di level 1,57 persen,...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III-2024, ekonomi Indonesia tumbuh 4,95 persen year-on-year, sementara Bank Indonesia mencatat inflasi akhir tahun berada di level 1,57 persen, jauh di bawah batas bawah sasaran. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga tersebut, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada proses suksesi di bank sentral. Destry Damayanti tercatat sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia yang akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan dukungan terhadap pencalonan tersebut. Penilaian positif diberikan atas rekam jejak Destry selama berkarier di bank sentral, khususnya kontribusinya dalam mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Rekam Jejak Panjang di Bank Sentral
Destry Damayanti saat ini menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, posisi yang diemban sejak Agustus 2019. Sebelum berkiprah di bank sentral, ia dikenal sebagai ekonom di sektor perbankan swasta dengan pengalaman lebih dari dua dekade. Di internal BI, ia membidangi sejumlah area strategis, mulai dari pengembangan ekonomi dan keuangan syariah hingga pemberdayaan UMKM.
Selama masa jabatannya, bank sentral mencatatkan sejumlah capaian, antara lain pengendalian inflasi yang konsisten dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS yang kini melayani lebih dari 30 juta merchant, mayoritas merupakan pelaku usaha kecil. Capaian ini menjadi modal penting dalam penilaian para pemangku kepentingan.
Dukungan OJK dan Relevansi Sektor UMKM
Dukungan dari OJK memiliki dasar yang kuat jika merujuk pada data. UMKM berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional, setara lebih dari 117 juta jiwa. Kebijakan moneter dan makroprudensial yang berpihak pada segmen ini dinilai krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
"Kesinambungan kebijakan moneter yang prudent sekaligus berpihak pada sektor riil menjadi kombinasi yang dibutuhkan ekonomi Indonesia saat ini," ujar seorang pengamat kebijakan publik di Jakarta.
Sinergi antara BI dan OJK dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) turut menjadi pertimbangan. Koordinasi yang solid antarotoritas dianggap penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global yang meningkat.
Di Satu Sisi: Kepastian dan Kontinuitas bagi Pasar
Di satu sisi, pencalonan figur internal BI memberikan sinyal kepastian bagi pasar keuangan. Kontinuitas kebijakan moneter cenderung terjaga karena sang calon merupakan bagian dari tim perumus kebijakan saat ini. Sentimen pasar biasanya merespons positif calon dari dalam, tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang relatif stabil serta nilai tukar rupiah yang bertahan di kisaran Rp16.000 per dolar AS.
Rekam jejak di bidang UMKM juga selaras dengan agenda penguatan ekonomi kerakyatan. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan saat ini baru sekitar 21 persen, sehingga ruang ekspansi masih sangat besar. Perbaikan akses pembiayaan pada segmen ini berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan kredit perbankan yang pada 2024 tercatat mengalami kenaikan 10,4 persen.
Di Sisi Lain: Tantangan Eksternal dan Ekspektasi Independensi
Di sisi lain, sejumlah tantangan berat menanti gubernur baru. Tekanan eksternal dari kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) berpotensi memicu capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan akan menguji ketangguhan kebijakan.
Selain itu, ekspektasi publik terhadap independensi bank sentral akan terus diuji. Relasi antara BI dan pemerintah dalam mendukung program prioritas seperti hilirisasi dan ketahanan pangan membutuhkan kehati-hatian agar kredibilitas kebijakan moneter tetap terjaga. Fundamental ekonomi yang kuat harus dibarengi komunikasi kebijakan yang transparan dan konsisten.
Ke depan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 5,0 hingga 5,2 persen. Kepemimpinan baru di bank sentral menjadi salah satu penentu tercapainya target tersebut di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Pelaku pasar kini menanti hasil uji kelayakan di parlemen sebelum kepastian definitif diperoleh.
Comments (0)