Nagita Slavina Buka Suara Soal Anjloknya Pendapatan RANS, Bidik IP dan AI
Setelah mencatatkan penurunan kinerja yang cukup dalam, Nagita Slavina akhirnya angkat bicara mengenai kondisi terbaru PT RANS Entertainment Tbk. Di tengah tekanan pasar yang semakin ketat, pendiri se...
Setelah mencatatkan penurunan kinerja yang cukup dalam, Nagita Slavina akhirnya angkat bicara mengenai kondisi terbaru PT RANS Entertainment Tbk. Di tengah tekanan pasar yang semakin ketat, pendiri sekaligus pemegang saham utama ini mengungkapkan serangkaian strategi anyar yang akan dijalankan perusahaan ke depan. Fokus utama akan diarahkan pada pengembangan kekayaan intelektual (IP), penyelenggaraan acara atau event, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diambil sebagai respons atas menyusutnya pendapatan yang tercermin pada laporan keuangan terbaru.
Penurunan Pendapatan yang Signifikan
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis di Keterbukaan Informasi BEI per 31 Desember 2025, RANS Entertainment mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp143 miliar, turun tajam 32% secara year-on-year dari posisi Rp210 miliar pada tahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pun merosot hingga 82%, dari Rp28 miliar menjadi hanya Rp5 miliar. Tekanan ini terutama berasal dari segmen bisnis digital dan media yang menghadapi pengetatan belanja iklan serta persaingan dari platform global.
Di lantai bursa, saham RANS dengan kode RANS juga mengalami koreksi cukup dalam. Sejak awal tahun, harga saham perusahaan milik keluarga Raffi Ahmad dan Nagita ini telah terkikis lebih dari 25%, mencerminkan sentimen investor yang cenderung wait and see terhadap prospek perusahaan. Capital outflow dari saham sektor teknologi dan media turut memperberat tekanan.
Pivot Strategis ke Kekayaan Intelektual
Dalam penjelasannya, Nagita Slavina menegaskan bahwa perusahaan kini akan mengalihkan fokus dari model bisnis yang terlalu bergantung pada pendapatan iklan digital ke arah pengembangan intellectual property. “Kami melihat potensi besar dari IP yang kami miliki, baik berupa karakter, cerita, maupun format acara. Ke depan, investasi akan kami arahkan untuk membangun dan mengomersialisasikan aset-aset tersebut,” ujar Nagita. RANS akan menggencarkan produksi konten berbasis IP yang dapat didistribusikan lintas platform, termasuk serial animasi, film pendek, hingga merchandise eksklusif.
Strategi ini dirancang agar perusahaan memiliki sumber pendapatan yang lebih berulang dan tidak semata-mata bergantung pada fluktuasi anggaran iklan. Dengan memiliki IP yang kuat, RANS dapat meraih royalti dan lisensi, serupa dengan model yang diterapkan oleh perusahaan hiburan global. RANS sendiri telah memiliki sejumlah karakter yang dikenal luas, terutama yang melekat pada figur publik Raffi Ahmad dan Nagita, yang ke depannya akan dikemas menjadi properti komersial tersendiri.
Bangkitnya Bisnis Event dan AI
Selain IP, pihaknya akan memperkuat lini bisnis perhelatan atau event. Pasar konser dan festival di Tanah Air yang terus bertumbuh dinilai sebagai lahan subur yang belum tergarap maksimal. “Event memberikan pengalaman langsung kepada audiens dan engagement yang lebih kuat. Ini adalah cara kami mendekatkan brand dengan penggemar sekaligus menciptakan aliran kas yang lebih pasti,” imbuh Nagita. RANS berencana menggelar sedikitnya lima event berskala besar sepanjang tahun ini, mulai dari konser keluarga hingga festival olahraga dan hiburan.
Pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi pilar ketiga. Nagita menyebut bahwa AI akan diintegrasikan dalam proses produksi konten untuk meningkatkan efisiensi dan personalisasi. Teknologi ini diharapkan dapat memangkas biaya hingga 30% dalam jangka panjang, sekaligus memberikan rekomendasi konten yang lebih tepat sasaran kepada audiens digital. RANS juga tengah menjajaki penggunaan AI generatif untuk menciptakan karakter virtual yang dapat berinteraksi secara real-time, membuka peluang monetisasi baru.
Analisis: Optimisme yang Butuh Pembuktian
Di satu sisi, langkah diversifikasi ini dinilai tepat oleh sejumlah pengamat. Ekonom dari Lembaga Riset Ekonomi dan Bisnis, Dodi Prasetyo, menyatakan bahwa perusahaan media perlu memiliki pilar pendapatan alternatif di saat lanskap digital berubah cepat. “Kunci keberlanjutan bisnis hiburan saat ini adalah kepemilikan IP yang bisa diekspansi ke berbagai saluran. Jika eksekusinya baik, RANS berpotensi membalikkan tren penurunan,” ujarnya. Potensi efisiensi dari AI juga menjadi sorotan positif, mengingat margin operasional RANS yang terus tertekan.
Di sisi lain, skeptisisme tetap ada. Membangun IP membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit. Tidak ada jaminan bahwa setiap karakter atau cerita akan langsung diterima pasar. Bisnis event pun rentan terhadap faktor eksternal seperti perizinan dan kondisi ekonomi makro yang mempengaruhi daya beli tiket. “Perjalanan menuju profitabilitas melalui IP dan AI adalah maraton, bukan sprint. Investor mungkin perlu bersabar sebelum melihat dampak signifikan pada bottom line,” tambah Dodi.
Dengan strategi ini, RANS Entertainment di bawah arahan Nagita Slavina berupaya menunjukkan komitmen untuk bertransformasi. Apakah suntikan inovasi ini mampu mendongkrak kembali kinerja keuangan dan kepercayaan pasar, hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, persaingan di industri hiburan dan media tidak akan menunggu.
Baca juga:
Comments (0)