Musim Kemarau di Ranupani: Petani Panen Kentang Granola, Bersiap Tanam Kubis
RANUPANI – Lanskap pertanian di kawasan Ranupani, lereng Gunung Semeru, kembali diramaikan oleh aktivitas panen. Memasuki puncak musim kemarau, para petani mulai menuai hasil budidaya kentang variet...
RANUPANI – Lanskap pertanian di kawasan Ranupani, lereng Gunung Semeru, kembali diramaikan oleh aktivitas panen. Memasuki puncak musim kemarau, para petani mulai menuai hasil budidaya kentang varietas Granola yang telah ditanam beberapa bulan sebelumnya. Hamparan ladang yang semula hijau kini berubah warna menjadi cokelat keemasan, dihiasi tumpukan umbi segar yang siap diangkut ke pasar.
Siklus tanam di wilayah berketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut ini memang sangat bergantung pada pola musim. Musim kemarau yang berlangsung antara Juni hingga September justru menjadi periode ideal bagi petani untuk melakukan panen raya kentang, karena intensitas sinar matahari yang tinggi mendorong pertumbuhan umbi optimal dan memperkecil risiko serangan penyakit akibat kelembapan berlebih. “Kami sudah menunggu momen ini sejak awal tanam,” ujar Sukardi, salah satu petani setempat yang lahannya berada di blok Dusun Besuk.
Keunggulan Varietas Granola di Dataran Tinggi
Varietas Granola bukanlah pendatang baru di dunia pertanian hortikultura nasional. Kentang ini telah lama menjadi primadona karena karakteristiknya yang sesuai dengan selera pasar dan industri. Secara fisik, umbinya berbentuk bulat lonjong dengan kulit berwarna kuning cerah dan daging yang padat. Kadar air yang relatif rendah membuat kentang Granola tidak mudah hancur saat digoreng, sehingga sangat diminati oleh sektor hotel, restoran, kafe, dan pabrik pengolahan keripik.
Dari segi agronomi, varietas ini mampu beradaptasi dengan baik di dataran tinggi. Di Ranupani, dengan suhu rata-rata harian 15–20 derajat Celsius, masa tanam hingga panen berkisar 100–110 hari. Produktivitasnya dapat mencapai 20–25 ton per hektare pada kondisi budidaya optimal. Petani menanam Granola menggunakan sistem guludan, dengan jarak tanam yang memungkinkan sirkulasi udara lancar dan perkembangan umbi maksimal.
Dampak Musim Kemarau dan Strategi Petani
Meskipun musim kemarau membawa keuntungan dalam hal penyinaran, petani tetap menghadapi tantangan ketersediaan air. Sumber pengairan utama di Ranupani adalah sungai-sungai kecil yang debitnya menyusut drastis pada Juli hingga Agustus. Untuk menyiasati hal itu, petani menggunakan sistem irigasi tetes sederhana pada musim tanam, dan pada saat panen seperti sekarang, mereka mengandalkan embun pagi yang cukup tebal serta sisa kelembapan tanah vulkanik yang kaya bahan organik.
Harga jual kentang Granola di tingkat petani pun mengalami dinamika. Pada awal musim panen seperti ini, pasokan melimpah cenderung menekan harga ke kisaran Rp8.000–Rp10.000 per kilogram, turun sekitar 15% dari harga normal di luar musim panen raya. Namun petani tetap diuntungkan karena volume panen yang besar. Sebagian hasil langsung dibawa oleh tengkulak ke pasar induk di Lumajang dan Probolinggo, sementara sisanya disortir lebih lanjut untuk memenuhi pesanan pasar modern yang mensyaratkan ukuran umbi seragam.
Rotasi Tanaman: Menyambung Napas Lahan
Setelah panen kentang selesai, lahan tidak langsung ditanami kembali dengan komoditas yang sama. Praktik rotasi tanaman sudah menjadi pengetahuan turun-temurun yang dipatuhi petani Ranupani. Lahan bekas kentang akan diolah ulang, diberi pupuk dasar, kemudian ditanami kubis dan bawang daun secara tumpangsari. Kubis dipilih karena mampu menyerap sisa hara yang berbeda dari yang digunakan kentang, sehingga menjaga keseimbangan unsur hara tanah. Sementara itu, bawang daun berfungsi ganda: sebagai tanaman aromatik yang bernilai jual tinggi dan sebagai penolak hama alami bagi kubis.
Pergiliran ini juga terbukti menekan serangan penyakit tular tanah seperti layu bakteri dan nematoda yang kerap menyerang tanaman kentang secara monokultur. Dengan masa tanam kubis sekitar 80–90 hari, petani dapat memanen dua hingga tiga komoditas dalam setahun, menjaga arus pendapatan tetap stabil sepanjang musim. “Setelah kubis, nanti kami tanami kentang lagi di musim hujan akhir tahun,” tambah Sukardi.
Panen kentang Granola di musim kemarau bukan sekadar ritme alam yang diikuti, melainkan juga cerminan ketangguhan petani dataran tinggi dalam membaca musim dan mengelola lahan. Di tengah tekanan perubahan iklim dan fluktuasi pasar, kearifan lokal dalam siklus tanam menjadi kunci ketahanan pangan skala komunitas. Ranupani pun kembali membuktikan bahwa dari tanah vulkanik yang subur, harapan ekonomi tumbuh bersama setiap umbi yang terangkat dari bumi.
Baca juga:
Comments (0)