Mubasyier Fatah Resmi Jabat Bendahara Umum PP ISNU

Jakarta, Beritadua.com — Praktisi keamanan siber terkemuka, Mubasyier Fatah, secara resmi dilantik sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul

Mubasyier Fatah Resmi Jabat Bendahara Umum PP ISNU

Jakarta, Beritadua.com — Praktisi keamanan siber terkemuka, Mubasyier Fatah, secara resmi dilantik sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) periode 2024-2029. Sosok yang menggabungkan ketajaman teknologi dengan akar tradisi Islam ini diharapkan membawa angin segar bagi modernisasi organisasi.

Pelantikan tersebut berlangsung di Kantor PP ISNU, Jakarta Pusat, Sabtu (14/9) lalu. Mubasyier, yang juga dikenal sebagai konsultan keamanan digital bagi sejumlah kementerian, menyatakan siap mengelola anggaran organisasi secara transparan dengan dukungan teknologi terkini.

“Tantangan terbesar organisasi keagamaan saat ini bukan hanya keberlanjutan program sosial, tetapi juga menjaga integritas data dan keuangan di tengah ancaman peretas yang terus meningkat. Saya akan terapkan sistem pelaporan keuangan real-time berbasis cloud yang aman, agar setiap rupiah bisa dipertanggungjawabkan oleh para sarjana NU,” ujar Mubasyier saat ditemui seusai acara.

Dari Panggung Siber ke Panggung Organisasi

Nama Mubasyier Fatah tak asing di dunia keamanan siber Indonesia. Selama lebih dari satu dekade, ia telah menangani puluhan kasus peretasan besar, termasuk pembobolan data perbankan dan serangan ransomware terhadap sistem pemerintahan. Keahliannya dalam forensik digital dan penetration testing membuatnya kerap diundang sebagai ahli di persidangan cyber crime.

Namun, darah biru Nahdliyin rupanya tak terbendung. Sebagai santri lulusan sejumlah pesantren di Jawa Timur, Mubasyier tetap aktif di jaringan intelektual NU. Bergabungnya ia di jajaran kepengurusan PP ISNU menandai perpaduan langka antara dunia teknologi tinggi dan nilai-nilai keislaman tradisional.

“Bagi saya, ini adalah pulang. Saya mungkin bergulat dengan kode-kode dan malware sepanjang hari, tetapi nafas perjuangan tetap berdenyut di urat nadi Nahdlatul Ulama. Sekarang saatnya saya mengamankan amaliah organisasi dari gempuran digital,” tambahnya.

Memperkuat Infrastruktur Digital ISNU

Selama ini, banyak organisasi masyarakat (ormas) Islam menghadapi kendala klasik: pencatatan keuangan manual yang rawan manipulasi, rendahnya keamanan sistem informasi, serta minimnya pemahaman pengurus terhadap risiko siber. Mubasyier menegaskan bahwa ISNU di bawah kepemimpinannya di bidang bendahara akan menerapkan standar keamanan ISO 27001 pada pengelolaan data anggota dan keuangan.

Langkah konkret yang segera dijalankan antara lain:

  • Audit menyeluruh terhadap server dan situs web PP ISNU, yang menurut Mubasyier, “pernah bolong di beberapa sisi”.
  • Penyusunan buku saku “Hemat Digital” untuk para pengurus cabang di seluruh Indonesia, berisi panduan menghindari penipuan online dan melindungi data pribadi.
  • Kerja sama dengan perusahaan teknologi lokal untuk menyediakan sistem absensi dan pembayaran iuran anggota berbasis aplikasi terenkripsi.
  • Pelatihan berkala tentang social engineering dan perlindungan kata sandi bagi seluruh jajaran sekretariat.

Ketua Umum PP ISNU, Ir. H. Ali Mahsun, menyambut baik langkah-langkah tersebut. “Kehadiran Pak Mubasyier adalah jawaban atas kebutuhan kami akan pengelolaan anggaran yang modern. Kita ingin ISNU menjadi contoh bagi organisasi keagamaan lain, bahwa kemajuan teknologi bukanlah musuh, justru alat dakwah yang efektif,” kata Ali dalam sambutannya.

Ancaman Siber Mengintai Organisasi Keagamaan

Mubasyier memaparkan, sepanjang tahun 2024, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 700 juta serangan siber di Indonesia, dengan 23% di antaranya menyasar sektor non-pemerintah, termasuk lembaga keagamaan. Modusnya beragam: dari pencurian data jamaah melalui formulir pendaftaran online palsu, hingga pemerasan dengan menyusup ke sistem donasi digital.

“Peretas tidak lagi sekadar mengincar bank atau perusahaan besar. Mereka tahu, ormas keagamaan mengelola data jutaan orang—mulai dari nomor telepon, alamat, hingga riwayat donasi. Data ini sangat berharga di dark market. Kalau kita lengah, maka amal jariyah para donatur bisa jatuh ke tangan yang salah,” tegas pria kelahiran Jombang tersebut.

Beberapa kasus nyata yang diingatkannya:

  • Pengambilalihan akun media sosial masjid besar di Jawa Timur yang digunakan untuk meminta sumbangan palsu;
  • Peretasan situs zakat sebuah lembaga amil zakat nasional yang mengekspos data muzaki;
  • Ransomware yang mengunci berkas-berkas administrasi sebuah pesantren modern, dengan tuntutan tebusan senilai Rp350 juta.

Kolaborasi dan Edukasi

Untuk melawan ancaman itu, Mubasyier berencana membentuk satuan tugas keamanan siber di bawah koordinasi bendahara umum. Satgas ini akan terdiri dari para sarjana NU yang berkecimpung di bidang IT, keamanan, dan hukum. Mereka akan bertugas melakukan pemantauan ancaman serta merespon insiden secara cepat.

“Saya sudah menghubungi beberapa teman di komunitas white hat hacker Indonesia. Mereka bersedia secara sukarela membantu ISNU mengamankan sistemnya. Ini adalah jihad digital—menjaga umat dari kejahatan di dunia maya,” kata Mubasyier dengan nada setengah berkelakar.

Di sisi edukasi, program “Ramadan Cyber Safe” akan digulirkan pada bulan puasa mendatang. Rencananya, seribu dai muda akan mendapat modul singkat tentang keamanan digital, sehingga bisa menyampaikan khotbah yang relevan di masjid-masjid dan majelis taklim. “Anak-anak muda kita banyak yang menjadi korban karena kurang paham, bukan karena tidak beriman. Tugas kita membantu mereka dengan bahasa yang mudah dipahami,” imbuhnya.

Harapan dan Proyeksi

Sebagai bendahara, Mubasyier juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi organisasi. Ia ingin menggiatkan unit usaha berbasis digital—seperti marketplace produk pesantren—dengan sistem keuangan yang terpadu. “Dengan keamanan yang terjamin, kita bisa lebih agresif berbisnis. Keuntungan akan kembali ke umat, membiayai beasiswa, klinik gratis, dan kegiatan dakwah yang lebih luas,” ujarnya.

Para pengamat organisasi Islam menilai, penunjukan Mubasyier adalah strategi PP ISNU untuk rebranding di era 4.0. “Ini langkah brilian. ISNU yang biasanya identik dengan seminar dan diskursus keislaman, kini bisa tampil dengan wajah teknokratis yang tetap membumi,” kata Dr. Syamsul Rizal, analis gerakan sosial dari Universitas Indonesia.

Depan kita, tantangan tetap besar. Namun, Mubasyier Fatah tampak tenang. Baginya, setiap byte data dan setiap rupiah sumbangan adalah amanat—dan menjaga amanat dengan teknologi adalah bentuk ibadah paling modern. “Kita akan bangun digital fortress untuk nahdliyin,” pungkasnya.

[SOCIAL_TWEET]: Mubasyier Fatah, ahli siber & santri, resmi jadi Bendahara Umum PP ISNU. Kini jaga data jutaan nahdliyin dari peretas. "Sedekah digital harus aman," katanya. #ISNUSehatDigital #CyberNahdliyin #MubasyierBendahara[SOCIAL_TG]: 🔐 Mubasyier Fatah dilantik sebagai Bendahara Umum PP ISNU. Bawa misi keamanan siber, siap audisi server & bikin buku saku anti-peretasan untuk pengurus NU. Yuk dukung jihad digital nahdliyin! 💻✨

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User