Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pariwisata per akhir 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan tertinggi, yakni 18,7 persen year-on-year sepanjang 2024–2025. Dalam konteks itulah penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika kembali menjadi sorotan. InJourney selaku holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor aviasi dan pariwisata mendorong sinergi lintas sektor untuk menjadikan ajang balap internasional itu sebagai katalis pertumbuhan ekonomi daerah, bukan sekadar perhelatan olahraga semata.
Mandalika dan Fundamental Ekonomi NTB
Secara fundamental, kehadiran MotoGP di Mandalika sejak 2022 telah mengubah lanskap ekonomi kawasan Lombok Tengah. Data Dinas Pariwisata NTB mencatat tingkat hunian kamar (occupancy rate) hotel berbintang di sekitar Mandalika melonjak dari rata-rata 52 persen pada bulan biasa menjadi 89 persen pada pekan balapan. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pariwisata dan retribusi daerah juga mengalami kenaikan signifikan. Nilai transaksi ekonomi yang berputar selama satu pekan event diperkirakan menembus angka Rp1,5 triliun, mencakup akomodasi, konsumsi, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
InJourney memandang angka-angka itu sebagai fondasi yang bisa diperkuat melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku industri kreatif, dan maskapai penerbangan. Penambahan frekuensi penerbangan langsung ke Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid menjadi instrumen penting untuk menjaga likuiditas kunjungan wisatawan. Tanpa dukungan konektivitas, sentimen pasar terhadap destinasi super prioritas ini berisiko melemah pasca-event.
Pro: Katalis Pengembangan Destinasi Berkelanjutan
Di satu sisi, para pendukung strategi ini menilai MotoGP memiliki efek berganda (multiplier effect) yang terukur. Setiap rupiah belanja event diperkirakan menciptakan tambahan output ekonomi daerah hingga 2,3 kali dalam jangka menengah. Infrastruktur pendukung seperti jalan akses, jaringan air bersih, dan fasilitas umum yang dibangun menjelang event menjadi aset permanen bagi masyarakat. Proyeksi Kementerian Pariwisata menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB menembus 1,8 juta orang pada 2026, dengan rata-rata pengeluaran per wisatawan (average spending) sekitar USD1.200 per kunjungan.
"Event internasional seperti MotoGP bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Kuncinya adalah bagaimana kolaborasi ini dijaga konsisten sepanjang tahun," ujar seorang analis pariwisata di Jakarta.
Dari kacamata investasi, keberadaan sirkuit kelas dunia meningkatkan valuasi kawasan sekitar. Harga properti di kawasan Kuta Mandalika dilaporkan mengalami kenaikan 25–30 persen dalam tiga tahun terakhir, meski sebagian pengamat mengingatkan potensi bubble jika permintaan tidak diimbangi pasokan akomodasi yang terencana.
Kontra: Beban Fiskal dan Risiko Capital Outflow
Di sisi lain, kritik terhadap model pembiayaan event juga menguat. Sejumlah ekonom menyoroti beban fiskal negara melalui penyertaan modal dan penjaminan yang harus dihitung cermat. Rasio pengembalian investasi (return on investment) event besar sering kali tidak sebanding dengan biaya penyelenggaraan, terutama bila menghitung biaya oportunitas dan depresiasi infrastruktur. Ada pula kekhawatiran soal crowding out, yaitu anggaran daerah yang tersedot untuk event sehingga alokasi untuk pendidikan dan kesehatan berkurang.
Risiko lain adalah capital outflow. Sebagian keuntungan dari penyelenggaraan event mengalir ke operator asing pemegang lisensi, sehingga manfaat bersih bagi ekonomi domestik perlu dihitung lebih transparan. Selain itu, sifat event yang musiman membuat tren kunjungan pasca-balapan kerap menurun tajam. Tanpa kalender event pendukung sepanjang tahun, potensi penurunan 40–50 persen okupansi hotel pada bulan-bulan setelah MotoGP menjadi ancaman nyata bagi pelaku usaha.
Sinergi sebagai Penentu Arah
Pada akhirnya, keberhasilan MotoGP Mandalika 2026 sebagai katalis ekonomi tidak ditentukan oleh gemerlapnya balapan semata, melainkan oleh kualitas sinergi antar pemangku kepentingan. Jika kolaborasi yang digagas InJourney mampu menjawab persoalan konektivitas, distribusi manfaat, dan keberlanjutan program, maka Mandalika berpotensi menjadi contoh bagaimana sport tourism mengangkat perekonomian daerah secara struktural. Sebaliknya, bila sinergi hanya bersifat seremonial, event ini berisiko menjadi beban fiskal tanpa jejak pertumbuhan yang berarti.
Comments (0)