Minyak Mentah Menguat di Tengah Bayang-Bayang Konflik AS-Iran

Pasar minyak global melanjutkan tren penguatan terbatas pada perdagangan Kamis (10/7), dengan harga acuan internasional ditutup lebih tinggi dibanding sesi sebelumnya. Kontrak Brent untuk pengiriman S...

Minyak Mentah Menguat di Tengah Bayang-Bayang Konflik AS-Iran

Pasar minyak global melanjutkan tren penguatan terbatas pada perdagangan Kamis (10/7), dengan harga acuan internasional ditutup lebih tinggi dibanding sesi sebelumnya. Kontrak Brent untuk pengiriman September terapresiasi ke US$76,56 per barel, mencatat kenaikan 0,3 persen secara harian. Serupa, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus di New York Mercantile Exchange (NYMEX) menguat ke posisi US$72,34 per barel. Meski tipis, pergerakan ini mengindikasikan pasar masih bergulat dengan kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, di tengah upaya menakar sinyal permintaan global.

Katalis di Balik Penguatan Harga

Sejumlah faktor fundamental menjadi penopang kenaikan harga pada sesi ini. Pertama, data resmi dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa stok minyak mentah komersial Amerika Serikat mengalami penurunan mingguan sebesar 2,1 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juli, lebih besar dari konsensus analis yang hanya memperkirakan penurunan 1,2 juta barel. Penurunan stok ini, yang biasanya terjadi pada puncak musim berkendara di negara konsumen terbesar dunia tersebut, mengirimkan sinyal bahwa permintaan domestik tetap solid. Selain itu, stok di pusat distribusi utama Cushing, Oklahoma, juga tercatat turun tipis, menambah tekanan pada sisi pasokan jangka pendek.

Kedua, sisi suplai global masih dilingkupi disiplin produksi dari aliansi OPEC+. Kelompok produsen yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia ini konsisten menjalankan kesepakatan pemangkasan produksi kumulatif lebih dari 5 juta barel per hari sejak akhir 2022, yang mencakup pemotongan wajib dan sukarela. Kepatuhan kolektif pada bulan Juni tercatat di atas 90 persen, menurut estimasi lembaga pelacak tanker, sehingga memperketat ketersediaan minyak di pasar spot. Di samping itu, keberhasilan Arab Saudi menaikkan harga jual resmi (OSP) ke Asia untuk bulan Agustus juga dipandang sebagai sinyal kepercayaan produsen terhadap keberlanjutan permintaan, khususnya dari Tiongkok dan India.

Dari ranah moneter, pelemahan indeks dolar AS turut memberikan angin segar. Greenback terpantau terdepresiasi sekitar 0,4 persen ke level 104,15 terhadap sekeranjang mata uang utama, karena pelaku pasar memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada September mendatang. Dolar yang lebih lemah membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang non-AS, sehingga mendorong aksi beli.

Bayang-bayang Konflik AS-Iran Belum Sirna

Meski harga terkerek naik, penguatan tersebut masih tertahan oleh ketidakpastian eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar terus memantau perkembangan terbaru setelah Washington mengumumkan putaran sanksi baru terhadap program rudal Iran awal pekan ini. Sebagai balasan, pernyataan dari komandan militer Iran yang menegaskan kemampuan untuk "menutup Selat Hormuz jika diperlukan" langsung menyulut kekhawatiran serius. Selat sempit yang memisahkan Iran dan Semenanjung Arab itu merupakan arteri vital energi dunia, dilewati sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima konsumsi global.

Di satu sisi, eskalasi memberikan premium risiko yang menyokong harga, karena setiap guncangan di selat tersebut berpotensi melumpuhkan rantai pasok energi internasional. Di sisi lain, ketegangan ini juga menimbulkan kecemasan akan perlambatan ekonomi akibat lonjakan harga energi yang terlalu tinggi, yang pada gilirannya justru dapat menghancurkan permintaan. Analis menilai bahwa sejauh ini pasar memperhitungkan skenario dasar di mana kedua pihak tetap terlibat dalam perang mulut tanpa konfrontasi militer langsung. "Ketegangan sudah diperhitungkan, tetapi faktor kejutan tetap menjadi risiko yang membayangi," ujar seorang analis senior dari lembaga konsultan energi yang menolak disebutkan identitasnya.

Selain Selat Hormuz, investor juga mengamati dinamika ekspor minyak Iran yang meskipun di bawah sanksi ketat, secara diam-diam mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Laporan intelijen pelayaran menyebut pengapalan minyak Iran menyentuh level tertinggi dalam lima tahun ke atas 1,5 juta barel per hari. Jika angka ini terganggu oleh konflik baru, defisit pasokan akan langsung terasa di pasar. Sebaliknya, jika AS dan Iran secara diam-diam melanjutkan kelonggaran pengawasan ekspor, pasokan ilegal ini justru mengimbangi risiko.

Proyeksi Permintaan Global dan Sinyal Makro

Penguatan harga kemarin juga dibalut oleh divergensi proyeksi lembaga-lembaga energi utama. International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya memangkas estimasi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi hanya 1,1 juta barel per hari, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 1,3 juta barel per hari, dengan alasan perlambatan ekonomi di Eropa dan Tiongkok yang lebih dalam dari perkiraan. Namun, OPEC dalam publikasi terpisah tetap optimistis dengan angka 1,4 juta barel per hari, ditopang oleh ekspansi konsumsi di Asia non-OECD. Kedua angka ini menjadi tarik-menarik yang akan sangat mempengaruhi arah harga dalam beberapa minggu ke depan.

Data ekonomi makro global juga memberikan gambaran campuran. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Tiongkok versi Caixin untuk Juni berada di 48,9, masih di zona kontraksi untuk tiga bulan beruntun, menyiratkan permintaan bahan bakar dari raksasa Asia itu belum pulih. Sebaliknya, data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat kuartal II yang dirilis minggu lalu menunjukkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh di atas ekspektasi, mencapai 2,8 persen secara tahunan yang disetahunkan. Ketimpangan ini menempatkan minyak pada posisi serba salah: fundamen fisik masih ketat, namun ada ancaman permintaan di horizon.

Posisi Spekulan dan Arah Pasar ke Depan

Laporan komitmen pedagang (COT) terbaru memperlihatkan spekulan keuangan memangkas posisi beli bersih (net long) pada kontrak berjangka minyak Brent dan WTI untuk pekan kedua berturut-turut. Posisi net long turun sekitar 15.000 lot, menjadi total 180.000 lot, menandakan berkurangnya keyakinan terhadap reli lebih lanjut. Kendati demikian, volume opsi beli (call option) untuk kontrak jangka pendek justru naik, mengisyaratkan bahwa pelaku pasar ingin melindungi diri dari risiko lonjakan tajam akibat gejolak geopolitik.

Memasuki sisa kuartal ketiga, para analis memperkirakan harga akan bergerak dalam kanal US$74–US$80 per barel untuk Brent, dengan bias positif jika ketegangan AS-Iran betul-betul memanas dan tidak ada lonjakan produksi signifikan dari negara non-OPEC. Namun, risiko koreksi tetap terbuka apabila negosiasi dagang AS-Tiongkok tahap berikutnya gagal mencapai kesepakatan atau jika data ekonomi global terus memburuk. Pasar dengan demikian akan terus mencermati setiap headline dari kawasan Teluk, laporan mingguan stok AS, dan sinyal dari bank sentral global.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User