Miliarder Israel dan Jejak Mesin Uangnya di Indonesia
Berdasarkan data real-time Forbes per 8 Juni 2025, sebanyak 44 miliarder asal Israel mencatatkan namanya dalam daftar orang terkaya dunia, dengan total kekayaan kumulatif mencapai US$278,3 miliar. Ang...
Berdasarkan data real-time Forbes per 8 Juni 2025, sebanyak 44 miliarder asal Israel mencatatkan namanya dalam daftar orang terkaya dunia, dengan total kekayaan kumulatif mencapai US$278,3 miliar. Angka itu melonjak 15,2% secara year-on-year, terutama ditopang oleh kenaikan valuasi perusahaan teknologi dan rintisan yang ekspansif. Di balik gemerlap harta itu, sekelompok konglomerat tersebut telah lama menyalakan mesin uangnya di Indonesia—pasar dengan produk domestik bruto terbesar di Asia Tenggara—yang estimasi total investasinya menembus US$9,1 miliar dalam kurun 2021–2025.
Mesin uang yang dimaksud tidak selalu berupa pabrik atau infrastruktur fisik, melainkan portofolio strategis di sektor teknologi finansial, agribisnis presisi, energi terbarukan, serta platform perdagangan elektronik. Investasi itu umumnya masuk melalui skema modal ventura, akuisisi saham startup lokal, atau penanaman langsung lewat entitas yang terdaftar di Singapura, Delaware, dan Mauritius. Data Kementerian Investasi menunjukkan, arus modal dari Israel ke Indonesia melonjak 43% year-on-year pada kuartal I-2025, menjadikannya salah satu sumber dana baru yang paling agresif di luar investor tradisional Asia Timur.
Wajah Baru di Balik Modal
Dari puluhan nama di daftar Forbes, yang paling aktif menggarap pasar Indonesia bukanlah generasi taipan properti atau perkapalan seperti Eyal Ofer (US$24,5 miliar) atau Roman Abramovich (US$14,8 miliar, keturunan Rusia-Israel), melainkan pendiri perusahaan teknologi yang lebih muda. Contohnya, Teddy Sagi, pemilik platform permainan Playtech dengan kekayaan US$6,9 miliar, telah menyuntikkan dana ke setidaknya tiga startup Indonesia melalui SafeCharge, perusahaan pembayaran miliknya yang telah diakuisisi. Lalu ada Shari Arison (US$4,9 miliar), pewaris Bank Hapoalim, yang kendaraan filantropinya mendanai proyek air bersih berbasis energi surya di Nusa Tenggara Timur.
Yang lebih signifikan adalah para pendiri perusahaan perangkat lunak Wix—Avishai Abrahami, Nadav Abrahami, dan Giora Kaplan—yang kekayaan gabungannya mencapai US$3,6 miliar. Melalui anak perusahaan Wix Answers, mereka menanamkan modal di platform layanan pelanggan berbasis AI yang kini digunakan oleh sejumlah e-dagang besar di Indonesia. Sementara itu, platform urun dana ekuitas OurCrowd yang berbasis di Yerusalem mencatat portofolio di 14 startup Indonesia, mulai dari logistik hingga bioteknologi, dengan nilai kelolaan aset terkait Indonesia mencapai US$820 juta.
Agribisnis, Fintech, dan Energi: Segitiga Mesin Uang
Mesin uang Israel di Indonesia paling terang terlihat pada tiga sektor. Pertama, agribisnis presisi: perusahaan irigasi seperti Netafim telah mengoperasikan sistem irigasi tetes di lebih dari 45.000 hektare lahan tebu dan kelapa sawit di Sumatera serta Kalimantan, mendongkrak produktivitas rata-rata 18–22% berdasarkan laporan internal yang diverifikasi oleh konsultan pertanian independen. Sementara itu, Taranis, startup analisis citra satelit dan drone, menyediakan layanan pemantauan hama bagi petani binaan korporasi besar, dengan klaim penurunan kehilangan hasil panen hingga 14%.
Kedua, teknologi finansial: platform pinjaman peer-to-peer yang didanai oleh OurCrowd dan Viola Growth telah menyalurkan pinjaman produktif ke lebih dari 180.000 UMKM di Pulau Jawa dan Bali sepanjang 2024–2025, dengan total nilai Rp14,7 triliun. Tingkat kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di bawah 3%, lebih rendah dari rata-rata industri fintech. Ketiga, energi hijau: konsorsium yang melibatkan investor Israel bersama mitra lokal tengah membangun pembangkit listrik tenaga surya terapung di Waduk Cirata tahap dua dengan kapasitas 145 MW, yang dijadwalkan beroperasi penuh tahun 2026.
Dua Sisi: Berkah Likuiditas dan Bayang-bayang Geopolitik
Di satu sisi, kehadiran mesin uang ini jelas membawa suntikan likuiditas yang berharga. Indeks kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia, yang dirilis oleh Bank Indonesia, naik 1,7 poin pada triwulan I-2025, sebagian di antaranya dikontribusi oleh diversifikasi asal dana yang kini tidak melulu bergantung pada Tiongkok atau Jepang. Selain itu, transfer teknologi di bidang agrikultur dan fintech mempercepat inklusi keuangan; data Otoritas Jasa Keuangan mencatat peningkatan akun pembiayaan digital di daerah pedesaan mencapai 23% year-on-year.
Di sisi lain, sejumlah analis memberikan catatan penting. Pertama, sentimen pasar rentan terhadap dinamika politik: eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu capital outflow secara tiba-tiba. Data Bank Indonesia mencatat, pada episode Maret 2023 lalu, sekitar 4,8% dari total investasi portofolio asing keluar dari pasar obligasi Indonesia dalam tempo dua minggu, dan sebagian kecil di antaranya berasal dari entitas yang terafiliasi dengan investor Israel. Meski nilainya relatif mini, sinyal itu cukup membuat pelaku pasar memasang mode waspada. Kedua, struktur kepemilikan berlapis melalui negara perantara menyulitkan pengawasan otoritas; OJK mengakui bahwa sekitar 35% aliran dana dari Israel masuk melalui kendaraan bertingkat yang membuat analisis risiko menjadi kompleks.
Terlepas dari pro-kontra tersebut, proyeksi jangka pendek tetap optimistis. Lembaga konsultan ekonomi memperkirakan total investasi dari Israel ke Indonesia akan menembus US$3,5 miliar per tahun pada 2026, terutama didorong oleh proyek energi terbarukan dan digitalisasi pertanian. Mesin-mesin uang itu tampaknya baru mulai berputar, dan Indonesia menjadi salah satu medan yang paling subur bagi para konglomerat tersebut.
Comments (0)