Sep 09, 2026
Nasional

Mentan Amran Ungkap Penyebab Harga Beras RI Kalah Murah dari Vietnam

Kesenjangan harga komoditas pangan pokok kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah upaya pemerintah mengejar target swasembada pangan nasional, fakta di lap

Mentan Amran Ungkap Penyebab Harga Beras RI Kalah Murah dari Vietnam

Kesenjangan harga komoditas pangan pokok kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah upaya pemerintah mengejar target swasembada pangan nasional, fakta di lapangan menunjukkan bahwa harga beras produksi petani Indonesia masih sulit bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Kondisi ini menyingkap persoalan struktural yang sudah mengakar dalam tata kelola pertanian domestik.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman secara terbuka mengakui ketimpangan efisiensi tersebut. Menurutnya, tingginya harga jual beras lokal bukan semata-mata karena ketidakefisienan petani, melainkan akibat disparitas intervensi anggaran negara yang timpang jauh jika dikomparasikan dengan sokongan pemerintah di kawasan Asia Tenggara.

"Biaya produksi beras kita lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam karena alokasi subsidi untuk petani kita masih terlampau kecil," ujar Amran dalam keterangannya.

Ketimpangan Struktur Biaya dan Subsidi Input

Beban operasional petani Indonesia dinilai kian membengkak akibat keterbatasan akses terhadap input produksi yang terjangkau. Komponen vital seperti pupuk bersubsidi, benih unggul bersertifikat, hingga modernisasi alat mesin pertanian (alsintan) belum terdistribusi secara merata dan masif. Sebaliknya, Vietnam dan Thailand secara konsisten menggelontorkan dukungan fiskal langsung untuk menekan ongkos tanam hingga panen.

Faktor-faktor kunci yang memicu tingginya biaya produksi di dalam negeri meliputi:

  • Ketergantungan Pupuk Non-Subsidi: Kuota pupuk subsidi yang kerap terbatas memaksa petani membeli pupuk nonsubsidi dengan harga berkali-kali lipat.
  • Skala Usaha Tani yang Terfragmentasi: Rata-rata kepemilikan lahan petani gurem Indonesia berada di bawah 0,5 hektare, sehingga skala ekonomi sulit tercapai.
  • Logistik dan Rantai Pasok: Tingginya biaya distribusi antarwilayah di negara kepulauan mendongkrak harga akhir gabah kering panen (GKP) hingga ke penggilingan.

Komparasi Dukungan Sektor Beras Regional

Untuk memahami jurang daya saing ini, analisis perbandingan kebijakan antaranegara memberikan gambaran yang lebih transparan terkait porsi proteksi dan stimulus negara terhadap petani:

Indikator Indonesia Vietnam & Thailand
Intervensi Subsidi Terbatas pada kuota dan input spesifik Dukungan masif dari hulu, riset, hingga insentif ekspor
Infrastruktur Irigasi Masih menghadapi kendala sedimentasi dan jaringan tersier Sistem irigasi modern terintegrasi di Delta Sungai Mekong
Tingkat Mekanisasi Sedang bertransisi menuju mekanisasi penuh Telah mengadopsi mekanisasi terintegrasi sejak dini

Urgensi Reformasi Kebijakan Pertanian

Pengakuan Mentan Amran dinilai sejumlah pakar ekonomi pertanian sebagai sinyal penting untuk merevisi arah kebijakan anggaran. Jika pemerintah ingin menekan harga beras di tingkat konsumen tanpa mengorbankan kesejahteraan petani, intervensi subsidi tidak bisa lagi dipandang sebagai sekadar bantuan sosial, melainkan investasi strategis kedaulatan pangan.

Tanpa lompatan anggaran subsidi yang terukur serta pembenahan rantai pasok dari hulu ke hilir, ketergantungan terhadap impor beras berisiko terus berulang saat terjadi guncangan iklim maupun lonjakan harga pasar global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User