Mengukur Prospek dan Hambatan Energi Terbarukan Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2023, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) dalam portofolio energi nasional baru mencapai sekitar 13,1 persen, masih jau...

Oct 10, 2026 - 19:32
0 0
Mengukur Prospek dan Hambatan Energi Terbarukan Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2023, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) dalam portofolio energi nasional baru mencapai sekitar 13,1 persen, masih jauh dari target 23 persen pada 2025. Angka ini menjadi sorotan ketika diskusi publik mengenai transisi energi kembali mengemuka, termasuk dalam program podcast yang membahas potensi sekaligus tantangan pengembangan EBT di Tanah Air. Pertanyaannya kini bukan lagi soal urgensi, melainkan seberapa cepat Indonesia mampu mengonversi komitmen menjadi kapasitas terpasang yang nyata.

Potensi Alam yang Melimpah, Pemanfaatan yang Timpang

Di satu sisi, Indonesia dianugerahi sumber daya terbarukan yang luar biasa. Potensi surya tercatat mencapai sekitar 3.294 gigawatt (GW), sementara potensi hidro sekitar 95 GW, bioenergi 57 GW, dan angin 155 GW. Namun, kapasitas terpasang pembangkit EBT hingga awal 2024 baru berkisar 13 GW, atau kurang dari 1 persen dari total potensi. Artinya, ada jurang yang sangat lebar antara ketersediaan sumber daya dan realisasi investasi.

Sebaliknya, ketergantungan pada energi fosil masih dominan. Batu bara menyumbang lebih dari 60 persen bauran energi primer nasional, disusul minyak dan gas. Kondisi ini membuat intensitas karbon ekonomi Indonesia relatif tinggi dibanding negara ASEAN lain, sekaligus menciptakan kerentanan terhadap volatilitas harga energi global dan sentimen pasar internasional.

Pro: Sinyal Kebijakan dan Pendanaan Mulai Menguat

Dari kacamata optimistis, sejumlah indikator fundamental menunjukkan perbaikan. Pemerintah telah menerbitkan Perpres 112/2022 yang mengatur percepatan pengembangan EBT, termasuk skema harga dan kontrak yang lebih menarik bagi investor. Selain itu, instrumen pendanaan hijau seperti green bond dan sustainability-linked loan mulai tumbuh; OJK mencatat nilai penerbitan obligasi hijau domestik menembus Rp20 triliun hingga pertengahan 2024.

Likuiditas global juga memberi angin segar. Berbagai dana internasional, termasuk Just Energy Transition Partnership (JETP), menjanjikan komitmen sekitar USD20 miliar untuk mempercepat pensiun dini pembangkit batu bara dan membiayai proyek terbarukan. Bagi sebagian analis, ini adalah sinyal bahwa valuasi proyek EBT di Indonesia mulai dilirik sebagai aset jangka panjang yang menjanjikan.

"Transisi energi bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan strategi ekonomi untuk menurunkan risiko fiskal dan menciptakan lapangan kerja baru," ujar seorang pengamat energi dalam sebuah forum diskusi publik.

Kontra: Biaya, Regulasi, dan Tantangan Infrastruktur

Di sisi lain, sejumlah hambatan struktural masih membelit. Biaya produksi listrik dari EBT, terutama surya dan angin, masih kerap dipersepsikan lebih mahal dibanding batu bara yang mendapat berbagai insentif. Intermitensi pasokan—karena matahari dan angin tidak selalu tersedia—menuntut investasi tambahan pada penyimpanan energi dan jaringan transmisi yang andal, yang justru belum merata di luar Jawa.

Regulasi di tingkat daerah juga kerap menjadi ganjalan. Proses perizinan lahan, tumpang tindih tata ruang, dan negosiasi tarif dengan PLN dapat memakan waktu bertahun-tahun. Akibatnya, banyak proyek EBT yang masuk dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) justru tertunda, sehingga target bauran energi terus bergeser. Belum lagi potensi capital outflow jika iklim investasi dianggap kurang kompetitif dibanding negara tetangga seperti Vietnam atau Filipina.

Dari sisi fiskal, subsidi energi fosil yang masih besar—mencapai ratusan triliun rupiah per tahun—menciptakan distorsi pasar. Selama harga listrik dari fosil tidak mencerminkan biaya eksternal karbon, EBT akan sulit bersaing secara fair. Ini adalah persoalan fundamental yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kampanye atau podcast inspiratif.

Proyeksi dan Jalan Tengah

Ke depan, proyeksi sejumlah lembaga menunjukkan Indonesia membutuhkan investasi hingga USD1,1 triliun hingga 2050 untuk mencapai net zero emission. Angka ini menuntut kolaborasi pemerintah, swasta, dan lembaga multilateral. Rasio elektrifikasi yang sudah di atas 99 persen menjadi modal awal, tetapi kualitas pasokan dan keberlanjutannya tetap menjadi pekerjaan rumah.

Kesimpulannya, potensi EBT Indonesia nyata, namun tantangannya tidak kalah besar. Diperlukan reformasi regulasi, insentif fiskal yang konsisten, serta penguatan infrastruktur jaringan agar transisi energi tidak sekadar menjadi narasi tahunan. Tanpa itu, target bauran EBT hanya akan menjadi angka di atas kertas, sementara ketergantungan pada energi fosil terus mengakar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User