Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tekanan yang berkelanjutan. Fenomena ini tidak dapat dikaitkan dengan satu penyebab, melainkan merupakan hasil dari interaksi antara faktor eksternal dan domestik. Untuk memahami kondisi tersebut, perlu dilihat secara berimbang melalui dua lensa, yaitu fundamental (kondisi ekonomi yang mendasari suatu negara) dan sentimen pasar (persepsi pelaku pasar terhadap risiko atau peluang di masa kini maupun masa depan).
Tekanan Eksternal yang Membatasi Penguatan Rupiah
Di satu sisi, pergerakan Rupiah sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah kebijakan moneter (kebijakan pengendalian jumlah uang beredar dan suku bunga) dari bank sentral AS, yaitu Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan data dari Bank Indonesia, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mengalami kenaikan dari 4,20% pada September 2024 menjadi 4,38% pada September 2025, atau mengalami kenaikan sebesar 0,18% secara year-on-year. Kenaikan ini turut mendorong indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan Dolar terhadap enam mata uang utama dunia, untuk berada di kisaran 100,7 pada September 2025, naik dibandingkan kisaran 100,2 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbedaan imbal hasil ini berimplikasi terhadap aliran modal asing. Ketika imbal hasil aset AS menjadi lebih menarik, pelaku pasar cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang, sehingga memicu capital outflow (keluarnya modal asing dari suatu negara ke negara lain). Berdasarkan data Bank Indonesia, aliran modal asing bersih pada pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham domestik secara kumulatif mengalami capital outflow sebesar Rp 48,9 triliun pada periode Januari hingga September 2025. Kondisi ini turut menekan likuiditas (ketersediaan dana yang siap digunakan untuk transaksi) valas (valuta asing) di pasar domestik, sehingga permintaan terhadap Dolar AS meningkat dan Rupiah mengalami tekanan.
Di sisi lain, tidak seluruh tekanan berasal dari kebijakan suku bunga. Ketegangan geopolitik, perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah mitra dagang utama, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang masih moderat turut membentuk sentimen pasar. Namun, tanpa adanya daya tarik imbal hasil yang memadai, sentimen tersebut cenderung lebih mudah memicu aksi jual aset rupiah dibandingkan aksi beli. Hal ini menunjukkan bahwa, dalam tren saat ini, perbedaan imbal hasil masih menjadi pendorong utama, bukan semata-mata ketakutan pasar.
Faktor Domestik yang Juga Berperan
Di satu sisi, fundamental perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Berdasarkan data BPS, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II 2025 tumbuh sebesar 4,87% secara year-on-year, sedikit melambat dibandingkan triwulan II 2024 yang tumbuh sebesar 5,05%. Meskipun mengalami penurunan, angka ini masih berada di atas rata-rata pertumbuhan beberapa negara berkembang lainnya. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Berdasarkan data BPS, pada periode Januari hingga Agustus 2025, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar USD 16,06 miliar, turun dibandingkan surplus sebesar USD 24,76 miliar pada periode yang sama tahun 2024. Surplus ini berperan dalam menjaga pasokan valas, meski tidak cukup untuk sepenuhnya meredam tekanan eksternal.
Namun, di sisi lain, terdapat beberapa indikator domestik yang turut membatasi ruang penguatan Rupiah. Salah satunya adalah rasio (perbandingan antara dua angka untuk menilai kondisi tertentu) defisit transaksi berjalan (current account deficit) terhadap PDB. Berdasarkan data Bank Indonesia, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2025 tercatat sebesar 0,9% dari PDB, melambat dibandingkan triwulan I 2025 sebesar 1,1% dari PDB, namun masih menunjukkan kebutuhan terhadap pembiayaan dari luar negeri. Kebutuhan ini, dikombinasikan dengan capital outflow, dapat menambah tekanan terhadap permintaan valas. Selain itu, dari sisi portofolio (kumpulan aset yang dimiliki) investor asing, pembaruan posisi kepemilikan SBN dan saham perlu diperhatikan, mengingat pergeseran aliran modal dapat terjadi dengan cepat ketika sentimen pasar berubah.
Tidak kalah penting adalah aspek valuasi (penilaian wajar suatu aset berdasarkan indikator ekonomi) dan kebijakan domestik. Bank Indonesia telah menempuh langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk melalui intervensi di pasar valas, pengelolaan likuiditas, dan penerbitan instrumen valas. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meredam volatilitas (pergerakan harga yang cepat naik-turun), bukan untuk mengarahkan kurs ke level tertentu. Hal ini menjadi pembeda penting, mengingat stabilitas kurs dapat mendukung perencanaan ekonomi, namun ruang untuk penguatan akan sangat bergantung pada keseimbangan antara penawaran dan permintaan valas.
Proyeksi dan Keseimbangan Kedua Perspektif
Di satu sisi, berdasarkan fundamental saat ini, terdapat ruang bagi tekanan Rupiah untuk mereda apabila tren global mengalami pergeseran. Misalnya, apabila imbal hasil obligasi AS mengalami penurunan secara berkelanjutan, capital outflow berpotensi melambat, sehingga tekanan terhadap kurs dapat berkurang. Selain itu, kesinambungan surplus perdagangan dan perbaikan rasio transaksi berjalan dapat turut memperkuat daya tahan ekonomi domestik dalam jangka menengah.
Di sisi lain, proyeksi tersebut tidak terlepas dari risiko. Apabila sentimen pasar kembali memburuk akibat faktor tak terduga, pelaku pasar dapat memprioritaskan likuiditas dalam bentuk Dolar AS, sehingga mempercepat capital outflow meski fundamental domestik tidak berubah drastis. Kondisi ini kerap terjadi pada negara berkembang, di mana respons terhadap sentimen dapat bersifat lebih cepat dibandingkan respons terhadap perubahan fundamental.
"Pergerakan nilai tukar Rupiah saat ini merupakan cerminan dari interaksi yang kompleks antara kebijakan moneter global, aliran modal, dan ketahanan fundamental domestik. Oleh karena itu, analisis yang berimbang perlu menilai keduanya secara bersamaan, bukan secara terpisah." - Dr. Telisa Aulia Falianty, Ekonom Senior, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (konteks analisis makro terkini).
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan mengapa Rupiah masih tertekan terletak pada keseimbangan kedua perspektif tersebut. Tekanan eksternal, khususnya perbedaan imbal hasil dan capital outflow, menjadi faktor pendorong utama dalam tren saat ini. Sementara itu, ketahanan fundamental domestik, seperti surplus perdagangan dan pertumbuhan PDB yang masih positif, menjadi faktor penahan yang mencegah tekanan menjadi lebih dalam. Kedua sisi ini saling berinteraksi, membentuk dinamika kurs yang masih bergejolak, namun tidak sepenuhnya terlepas kendali. Pemahaman akan interaksi ini menjadi kunci untuk menilai arah pergerakan Rupiah secara objektif, tanpa terjebak pada satu sisi penjelasan saja.
Comments (0)