Mendag Kumpulkan Pengusaha, Target Transaksi TEI 2026 USD 17,5 Miliar
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang dipaparkan dalam CEO Gathering, target transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung tahun ini ditetapkan sebesar USD 17,5 miliar, setara de...
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang dipaparkan dalam CEO Gathering, target transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung tahun ini ditetapkan sebesar USD 17,5 miliar, setara dengan sekitar Rp 270 triliun dengan asumsi kurs Rp 15.500 per dolar AS. Angka itu menjadi patokan sekaligus ujian bagi kemampuan pelaku usaha domestik membidik pembeli sebelum pameran dagang terbesar di Asia Tenggara ini resmi digelar. Menteri Perdagangan Budi Santoso sengaja mengumpulkan para pengusaha dalam CEO Gathering agar persiapan tidak berjalan mendadak, dengan fokus utama mendorong peningkatan ekspor nasional.
Pendekatan yang ditempuh tahun ini berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Alih-alih hanya menunggu pembeli asing datang ke lokasi pameran, pengusaha didorong untuk mencari dan mengunci buyer lebih awal. Strategi ini lahir dari pengalaman bahwa nota kesepahaman yang diteken di lokasi pameran belum menjamin nilai transaksi terwujud; yang menentukan adalah kelanjutan negosiasi dan kontrak yang benar-benar dieksekusi setelah acara usai.
Target USD 17,5 Miliar dan Strategi Menjaring Buyer Lebih Awal
Bagi pembaca awam, TEI dapat dipahami sebagai etalase produk Indonesia untuk pasar dunia. Ribuan pelaku usaha memamerkan produk unggulan, mulai dari manufaktur, makanan dan minuman, hingga jasa, sementara pembeli dari puluhan negara dipertemukan langsung dengan produsen melalui sesi business matching. Logika menjaring buyer sebelum pameran cukup sederhana: kontak yang dibangun lebih dulu memberi waktu bagi kedua pihak untuk bernegosiasi harga, menguji sampel produk, dan memeriksa kelayakan mitra. Dengan demikian, hari-hari pameran dapat digunakan untuk menuntaskan transaksi, bukan memulai perkenalan dari nol.
Di Satu Sisi: Fundamental Ekspor yang Masih Menopang
Di satu sisi, fundamental ekspor Indonesia masih menyisakan ruang optimisme. Tren ekspor nonmigas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan year-on-year di sejumlah produk manufaktur, ditopang kebijakan hilirisasi yang memperluas portofolio komoditas bernilai tambah, dari bahan mentah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi. Diversifikasi pasar juga terus berjalan, sehingga ketergantungan terhadap satu negara tujuan semakin berkurang. Sentimen pasar terhadap prospek perdagangan domestik kian membaik seiring stabilnya nilai tukar dan daya beli mitra dagang yang perlahan pulih.
“Strategi mengunci buyer lebih awal memang langkah yang tepat, tetapi keberhasilannya bergantung pada kualitas produk dan kesiapan kapasitas produksi,” ujar seorang pengamat perdagangan internasional dalam diskusi terpisah. Menurutnya, pameran hanyalah jembatan; reputasi dan konsistensi mutu yang menentukan apakah pembeli kembali pada tahun berikutnya.
Di Sisi Lain: Tekanan Global dan Risiko Realisasi
Di sisi lain, jalan menuju target itu tidak mulus. Perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama, ketegangan geopolitik, dan kebijakan proteksionis di beberapa negara masih menekan permintaan global. Kondisi ini diperberat oleh ancaman capital outflow dari pasar negara berkembang ketika suku bunga acuan global berada di level tinggi, yang pada akhirnya menyempitkan likuiditas pembiayaan ekspor. Istilah capital outflow merujuk pada keluarnya dana asing dari dalam negeri dalam jumlah besar, yang dapat menekan nilai tukar dan memperberat biaya impor bahan baku.
Kontra dari strategi kejar target juga datang dari sisi daya saing. Negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand menawarkan produk sejenis dengan harga lebih kompetitif, sehingga valuasi produk Indonesia harus benar-benar sepadan dengan kualitasnya. Selain itu, rasio realisasi transaksi pameran terhadap target kerap menjadi sorotan; sebagian perjanjian yang ditandatangani di atas panggung tidak selalu berujung pada pengiriman barang, karena pembeli masih menimbang logistik, tarif, dan kepastian pasokan.
Proyeksi: Keberhasilan Diukur dari Realisasi, Bukan Komitmen
Ke depan, proyeksi pencapaian target TEI ke-41 akan bergantung pada tiga variabel utama: kesiapan pelaku usaha memenuhi pesanan, daya saing harga di tengah persaingan regional, dan pemulihan permintaan dari pasar tujuan. Pengusaha yang telah mengunci buyer sejak sekarang diyakini memiliki posisi tawar lebih kuat, karena waktu menjadi senjata dalam negosiasi. Namun, ukuran keberhasilan pameran sejatinya tidak berhenti pada angka transaksi, melainkan pada kesinambungan kerja sama jangka panjang yang terbentuk setelah pameran usai.
Pada akhirnya, target USD 17,5 miliar adalah cermin ambisi sekaligus cermin realitas. Di satu sisi, angka itu menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap daya saing produk dalam negeri. Di sisi lain, capaiannya akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat pengusaha merespons permintaan pasar global yang terus berubah. Publik tentu berharap gelaran ke-41 ini tidak sekadar mencatat komitmen di atas kertas, tetapi benar-benar mengalir menjadi ekspor yang tercatat di neraca perdagangan.
Comments (0)