Cape Town — Sidang Komite Portofolio Olahraga, Seni dan Budaya Parlemen Afrika Selatan berlangsung sangat alot ketika Menteri Olahraga Gayton McKenzie secara terbuka menuntut Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan (Safa) mengembalikan dana negara sebesar R30 juta rand (sekitar Rp27 miliar). Tuntutan itu dilontarkan setelah para pejabat Safa dinilai bersikap mengelirukan saat menjawab pertanyaan anggota parlemen soal keterlambatan implementasi VAR, rangkaian kesalahan administrasi, hingga polemik gaji pelatih tim nasional.
Sidang Panas di Gedung Parlemen Cape Town
Rapat pendengaran yang digelar di Cape Town itu menjadi momen keterbukaan langka antara eksekutif dan federasi sepak bola nasional. Sejumlah anggota komite menyatakan frustrasi karena jawaban pejabat Safa dianggap bertele-tele dan tidak menjawab inti persoalan. McKenzie bahkan tak ragu memotong jalannya persidangan dengan pernyataan tegas bahwa kepercayaan publik terhadap Safa telah terkikis akibat penyalahgunaan dana yang diduga berulang.
"Uang rakyat tidak boleh dibegitu saja. Kami menuntut dana sebesar R30 juta itu dikembalikan ke kas negara, titik," ujar McKenzie di depan anggota komite.
Pernyataan tersebut langsung memancing perdebatan sengit. Beberapa anggota parlemen mendukung sikap menteri, sementara lainnya meminta proses audit dilakukan lebih dahulu sebelum tuntutan pengembalian dipaksakan.
Kronologi Sengketa Antara Pemerintah dan Safa
Berdasarkan jalannya sidang, urutan peristiwa yang memicu konfrontasi ini dapat dirangkum sebagai berikut:
- Dana hibah pemerintah cair ke Safa untuk mendukung program pembinaan dan operasional sepak bola nasional.
- Kesalahan administrasi besar terjadi di lingkungan Safa, termasuk kegagalan pengelolaan dokumen kepelatihan dan kelayakan pemain yang memicu sanksi internasional bagi tim nasional.
- Implementasi VAR tertunda berulang kali, membuat kompetisi domestik tertinggal dari standar teknologi dunia meski anggaran sudah dialokasikan.
- Struktur gaji pelatih mencuat sebagai sorotan, dengan pertanyaan tentang transparansi kontrak dan besaran pembayaran pelatih tim nasional.
- Parlemen memanggil pejabat Safa, dan jawaban mereka yang dianggap mengelirukan memicu McKenzie menuntut pengembalian penuh dana R30 juta.
VAR Tertunda dan Kesalahan Administrasi Jadi Sorotan Utama
Isu teknologi wasit video assistant referee (VAR) menjadi salah satu pemicu kemarahan terbesar dalam sidang. Anggota komite menyoroti bagaimana rencana penerapan VAR di liga domestik telah diumumkan berulang kali selama beberapa musim, namun hingga kini belum berjalan optimal. Padahal, dana untuk pelatihan wasit dan penyediaan infrastruktur teknologi telah berasal dari dukungan publik.
Kesalahan administrasi juga menjadi catatan merah. Dunia sepak bola nasional sempat diguncang skandal pemain yang diturunkan padahal sedang menjalani sanksi, sebuah kelalaian yang berujung pada pengurangan poin dan mempermalukan nama negara di mata FIFA. Anggota parlemen menilai kesalahan semacam itu tidak bisa dibiarkan tanpa konsekuensi finansial.
Polemik Gaji Pelatih Tim Nasional Membuka Luka Lama
Sesi sidang kemudian bergeser ke ranah remunerasi. Para pengawas mempertanyakan mengapa gaji pelatih tim nasional begitu besar, sementara pembinaan usia muda dan liga amatir justru kekurangan dana. Jawaban pejabat Safa mengenai mekanisme kontrak dan sumber pendanaan dianggap tidak meyakinkan.
- Transparansi kontrak pelatih dinilai belum memadai dan belum pernah diaudit terbuka.
- Kesenjangan anggaran antara gaji elite dan pembinaan akademi semakin lebar.
- Akunabilitas publik atas setiap rupiah—atau rand—yang masuk ke Safa menjadi tuntutan utama legislator.
"Kami bukan anti-sepak bola. Kami pro-akunabilitas. Setiap sen yang keluar dari kantong pajak harus bisa dipertanggungjawabkan," tegas salah satu anggota komite.
Tekanan Reformasi Menggantung di Atas Safa
Hingga rapat ditutup, Safa belum memberikan komitmen resmi mengenai pengembalian dana tersebut. McKenzie menegaskan ia akan memastikan tuntutan ini dieskalasi, termasuk kemungkinan melibatkan auditor negara dan mekanisme hukum jika federasi tetap mengelak. Pengamat olahraga menilai konfrontasi ini menandai era baru hubungan pemerintah–federasi di Afrika Selatan, di mana subsidi publik tidak lagi mengalir tanpa syarat. Langkah berikutnya kini menunggu jadwal rapat lanjutan yang diharapkan mempertemukan laporan audit independen dengan keterangan tertulis Safa.
[SOCIAL_TWEET]: Menteri Olahraga Afrika Selatan Gayton McKenzie menantang Safa di sidang parlemen: kembalikan dana R30 juta! VAR bolong, administrasi berantakan, gaji pelatih bikin geleng. #Safa #McKenzie #SepakBola[SOCIAL_TG]: ⚽ PARLEMEN AFRIKA SELATAN | Menteri Olahraga McKenzie menuntut Safa kembalikan dana R30 juta rand usai sidang alot soal keterlambatan VAR, kesalahan administrasi, dan kontroversi gaji pelatih. Safa belum berkomitmen—audit negara mengintai. Detail lengkap di Beritadua.com.
Comments (0)