Jakarta – Maulana Wiga, Ketua Asosiasi Startup Transformasi Industri Indonesia atau STARFINDO yang baru terpilih, bertolak ke Shenzhen, China, untuk menghadiri rangkaian pertemuan pada Rabu (2/9/2026) waktu setempat. Misi yang diusung bukan sekadar partisipasi diplomatik simbolis, melainkan langkah kunci bagi Indonesia dalam upaya mencapai lompatan strategis di rantai nilai ekonomi digital global.
Shenzhen: Dari Desa Nelayan ke Tolok Ukur Inovasi Dunia
Shenzhen merupakan kota yang dalam kurun waktu lebih dari empat puluh tahun telah bertransformasi dari desa nelayan terpencil menjadi tolok ukur inovasi global. Pada 2026, kota ini dipercaya menjadi tuan rumah rangkaian pertemuan APEC dan akan menampilkan ekosistem inovasi sains dan teknologi yang lengkap kepada 21 ekonomi anggota APEC sebagai "jendela industri teknologi tinggi".
Bagi Maulana Wiga, kehadiran di Shenzhen menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana sebuah kota dapat membangun rantai inovasi yang utuh. "Kita bisa melihat daya saing inovasi Shenzhen tidak berasal dari terobosan tunggal pada satu teknologi tertentu, melainkan dibangun di atas rantai inovasi yang lengkap, mulai dari penelitian dasar hingga aplikasi industri. Bahkan sebuah jalur yang jelas dari laboratorium hingga lini produksi," ujarnya.
Mengapa Shenzhen Dipilih Jadi Tuan Rumah APEC
Pemilihan Shenzhen sebagai tuan rumah KTT Pemimpin Ekonomi APEC bukanlah kebetulan. Kota yang berbatasan langsung dengan Hong Kong ini, dalam lebih dari empat dekade terakhir, telah berkembang dari Zona Ekonomi Khusus pertama di Tiongkok menjadi basis manufaktur mutakhir kelas dunia sekaligus pusat inovasi global. Posisi geografis dan sejarah transformasinya menjadikannya representasi nyata dari lompatan teknologi yang ingin ditunjukkan kepada dunia.
Salah satu sektor yang paling mencolok adalah kecerdasan buatan. Menurut Maulana Wiga, Shenzhen telah membangun ekosistem industri AI yang sangat lengkap, mencakup dari chip AI, kerangka kerja algoritma, model dasar, hingga aplikasi perangkat lunak dan perangkat keras. "Saya dengar kota ini bisa menampung lebih dari 2.600 perusahaan AI terkemuka," sebutnya.
Kecepatan Shenzhen dan Ekosistem Rantai Pasok
Keunggulan inovasi Shenzhen tidak hanya tercermin pada terobosan teknologi, tetapi juga berakar pada ekosistem industri yang unik. Para wirausahawan di kota ini dapat menemukan perangkat keras yang dibutuhkan hanya dalam waktu 30 menit. Kemampuan integrasi rantai pasokan yang dikenal sebagai "Kecepatan Shenzhen" ini memungkinkan siklus transformasi dari sebuah ide menjadi prototipe produk dipersingkat secara maksimal.
Kecepatan tersebut menjadi pelajaran penting bagi ekosistem startup Indonesia. Dengan rantai pasok yang responsif, waktu yang dibutuhkan untuk menguji dan meluncurkan produk dapat ditekan drastis, sehingga startup mampu beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan pasar global.
Mendorong Transformasi Startup Indonesia
Maulana Wiga menegaskan bahwa kunjungannya ke Shenzhen bukan sekadar observasi, melainkan upaya nyata untuk membawa transfer pengetahuan bagi ekosistem dalam negeri. "Kunjungan saya ini juga demi mendorong startup Indonesia untuk melakukan transformasi melalui penguatan teknologi, kolaborasi lintas sektor, dan akses ke pasar global," pungkasnya.
Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar startup lokal tidak terjebak pada produk konsumen semata, namun mampu masuk ke rantai pasok industri yang bernilai tinggi. Akses ke pasar global, yang dimiliki kota-kota seperti Shenzhen, menjadi referensi bagi STARFINDO dalam merancang program pendampingan anggotanya.
Robotika dan Industri Kecerdasan Berwujud
Industri kecerdasan berwujud dan robotika merupakan salah satu sektor baru yang paling representatif di Shenzhen. Pada tahun 2025, total nilai produksi industri robotika di kota tersebut mencapai 242,6 miliar yuan, meningkat 20,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Angka ini mencerminkan betapa cepatnya adopsi teknologi fisik di pusat manufaktur global tersebut.
Menuju KTT APEC ke-33 di Shenzhen
Puncak dari rangkaian pertemuan ini akan berlangsung pada 18 hingga 19 November 2026, ketika Pertemuan Pemimpin Informal APEC ke-33 diselenggarakan di Shenzhen. Ini merupakan ketiga kalinya Tiongkok menjadi tuan rumah APEC, dan yang pertama kali setelah 12 tahun. Acara besar tersebut mengusung tema "Membangun Komunitas Asia-Pasifik, Memajukan Kemakmuran Bersama" dengan fokus pada tiga bidang prioritas utama, yaitu keterbukaan, inovasi, dan kerja sama.
Kehadiran Indonesia melalui representasi seperti Maulana Wiga diharapkan dapat memetik pelajaran konkret tentang bagaimana membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Dengan memahami kekuatan rantai nilai Shenzhen, STARFINDO berupaya membuka jalan bagi startup Indonesia untuk naik kelas dan berkontribusi pada ekonomi digital nasional yang lebih kompetitif di tingkat regional maupun global.
Comments (0)