Mati Listrik Justru Melahirkan Harta Rp23,55 Triliun, Kisah Sehat Sutardja
Jakarta - Di balik pencapaian luar biasa seorang individu kerap tersembunyi kisah yang tak terduga. Sehat Sutardja, seorang pria kelahiran Jakarta, kini tercatat memiliki kekayaan bersih mencapai Rp23...
Jakarta - Di balik pencapaian luar biasa seorang individu kerap tersembunyi kisah yang tak terduga. Sehat Sutardja, seorang pria kelahiran Jakarta, kini tercatat memiliki kekayaan bersih mencapai Rp23,55 triliun berdasarkan data Forbes per akhir 2025. Namun, jalan menuju puncak itu tidaklah mulus. Ironisnya, justru kondisi kelistrikan yang tidak stabil di rumah masa kecilnyalah yang menjadi pemantik inovasi dan kesuksesannya.
Masa Kecil di Tengah Keterbatasan Energi
Sutardja tumbuh di sebuah kawasan permukiman di Jakarta pada era 1970-an, ketika pasokan listrik masih sering mengalami pemadaman bergilir. Mati listrik bisa terjadi dua hingga tiga kali seminggu, terkadang berlangsung berjam-jam. Bagi banyak orang, kondisi ini adalah gangguan biasa. Namun bagi Sutardja muda, pengalaman tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana menciptakan perangkat elektronik yang bisa beroperasi secara stabil dan hemat energi, bahkan dalam kondisi daya yang tidak menentu?
Keterbatasan itu memacunya untuk mendalami dunia teknik elektro. Sang ayah, seorang pemilik bengkel kecil, mendorong minatnya dengan memberikan komponen-komponen bekas untuk diutak-atik. Di sebuah ruang sempit yang sering gelap gulita, Sutardja menghabiskan malam-malamnya membaca buku teknik dan merancang sirkuit di bawah cahaya lampu minyak. "Saya belajar bahwa efisiensi energi bukan sekadar konsep, melainkan kebutuhan nyata," ujarnya dalam sebuah wawancara eksklusif. Ketekunan inilah yang kemudian mengantarnya meraih beasiswa ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi di bidang teknik elektro.
Dari Ide Sederhana ke Perusahaan Teknologi Global
Di Amerika, Sutardja bertemu dengan istrinya, Weili Dai, yang juga seorang insinyur. Bersama-sama mereka mendirikan Marvell Technology Group pada tahun 1995, dengan modal awal yang minim. Visi awal perusahaan hanya satu: merancang semikonduktor dengan efisiensi daya terbaik di kelasnya. Konsep ini terinspirasi langsung dari pengalaman masa kecilnya di Jakarta—di mana setiap watt listrik sangat berharga.
Marvell memulai langkahnya dengan mengembangkan chip pengelola sinyal untuk hard disk drive. Namun terobosan besar terjadi saat mereka berhasil menciptakan prosesor hemat daya yang kemudian menjadi standar di perangkat seluler dan pusat data. Pada tahun 2024, Marvell telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan semikonduktor terbesar di dunia, dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp800 triliun. Kekayaan pribadi Sutardja yang mencapai Rp23,55 triliun sebagian besar berasal dari kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut.
Inovasi kunci Marvell adalah teknologi “adaptive voltage scaling,” yang memungkinkan chip menyesuaikan konsumsi dayanya secara real-time berdasarkan beban kerja. Teknologi ini kini digunakan oleh raksasa teknologi global untuk mengurangi jejak karbon pusat data mereka. Menurut laporan Bloomberg, penghematan energi yang dihasilkan oleh chip Marvell di seluruh dunia setara dengan konsumsi listrik 3 juta rumah tangga per tahun.
Dampak Ekonomi dan Jejak di Tanah Air
Kisah Sutardja bukan hanya tentang kekayaan pribadi, melainkan juga kontribusinya pada ekosistem teknologi Indonesia. Melalui yayasan yang didirikannya pada tahun 2018, ia telah memberikan ratusan beasiswa bagi mahasiswa teknik elektro di berbagai universitas di Tanah Air. “Saya ingin memastikan bahwa anak-anak muda Indonesia tidak harus mengalami mati listrik seperti saya untuk termotivasi. Mereka harus punya akses pada pendidikan dan fasilitas yang memadai,” tegasnya.
Dari sisi ekonomi makro, perjalanan Sutardja menunjukkan bahwa pengalaman keterbatasan infrastruktur dapat menjadi pendorong lahirnya solusi berdaya saing global. Di Indonesia, rasio elektrifikasi memang telah mencapai 99,4% pada kuartal III-2025, namun kualitas pasokan di beberapa daerah masih belum merata. Menurut catatan Kementerian ESDM, durasi pemadaman rata-rata nasional masih berada di kisaran 12 jam per tahun. Di tengah tantangan itu, inovasi efisiensi energi menjadi sangat relevan, tidak hanya untuk menghemat biaya tetapi juga untuk mendukung transisi energi hijau.
Namun, ada pula catatan kritis. Di satu sisi, kesuksesan Sutardja membuktikan bahwa talenta Indonesia mampu bersaing di panggung global. Di sisi lain, fakta bahwa ia harus berkiprah di Amerika Serikat untuk mewujudkan idenya mencerminkan masih adanya kesenjangan dalam ekosistem riset dan industrialisasi semikonduktor di dalam negeri. Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor chip, dengan nilai impor semikonduktor mencapai USD 3,2 miliar pada tahun 2024 menurut data BPS. Padahal, potensi pasar semikonduktor di Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh 8,5% per tahun hingga 2030.
Pemerintah melalui Kemenperin sebenarnya telah meluncurkan roadmap pengembangan industri semikonduktor nasional, namun investasi di sektor ini masih terhambat oleh kebutuhan modal yang besar serta persaingan ketat dari negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam. Besarnya kekayaan yang dihasilkan Sutardja—yang setara dengan 2,5% dari total APBN 2024—setidaknya menjadi pengingat bahwa industri ini menyimpan nilai ekonomi yang sangat besar bila digarap serius.
Di akhir perbincangan, Sutardja menyampaikan pesan sederhana: "Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Justru dari sana kita bisa menemukan solusi yang mungkin tidak terpikirkan oleh mereka yang hidup dalam kenyamanan." Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa terkadang, kegelapan bisa menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju kesuksesan.
Baca juga:
Comments (0)