Material Pijar Gunung Karangetang Bakar Vegetasi Sekitar Kawah
Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara, kembali menunjukkan peningkatan. Pada pengamatan terakhir, gunung setinggi 1.784 meter di atas perm...
Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara, kembali menunjukkan peningkatan. Pada pengamatan terakhir, gunung setinggi 1.784 meter di atas permukaan laut itu melontarkan material pijar dari kawah utamanya. Lontaran tersebut menyambar area lereng yang ditumbuhi vegetasi kering, memicu kebakaran semak belukar di sekitar puncak.
Fenomena ini terekam oleh kamera pemantau milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Rabu sore. Lontaran material pijar terlihat jelas dari pos pengamatan. Suara gemuruh lemah juga terdengar mengiringi setiap hembusan. Hingga malam hari, titik api masih terpantau membakar alang-alang di radius sekitar 500 meter dari bibir kawah.
Kronologi dan Kondisi Terkini
Berdasarkan data seismik, letusan tipe strombolian itu dimulai sekitar pukul 18.30 WITA. Kolom abu kelabu setinggi 300 hingga 500 meter teramati condong ke arah barat laut. Material pijar berukuran bongkah lava membara terlontar sejauh 1.000 meter dari pusat erupsi. Petugas Pos Pemantau Gunung Karangetang di Desa Ondong, Siau Barat, mengonfirmasi bahwa beberapa lontaran mencapai area yang lebih rendah, mengakibatkan titik api baru.
“Api yang muncul berasal dari kontak langsung bongkahan lava bersuhu tinggi dengan ilalang kering. Tidak ada ancaman langsung terhadap permukiman, tetapi kami meminta warga meningkatkan kewaspadaan,” ujar seorang petugas PVMBG melalui sambungan telepon. Saat ini, rekahan di tubuh kubah lava masih mengeluarkan pijaran terus-menerus, menandakan bahwa suplai magma dari dapur gunung masih cukup besar.
Status Gunung dan Imbauan Keselamatan
Gunung Karangetang saat ini berada pada Level III atau Siaga, sebagaimana ditetapkan PVMBG sejak awal tahun 2025. Dengan status tersebut, masyarakat maupun wisatawan dilarang beraktivitas di dalam radius 2,5 kilometer dari kawah utama, serta sektoral sejauh 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di sisi selatan dan tenggara. Radius itu dinilai rawan terdampak awan panas guguran atau lontaran material vulkanik.
Pemerintah Kabupaten Siau Tagulandang Biaro melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiagakan tim reaksi cepat. Jalur evakuasi di beberapa desa, seperti di Ulu Siau dan Pehe, diperiksa ulang. “Kami sudah membagikan masker dan mengimbau warga untuk tidak mendekati zona bahaya, terutama saat malam hari karena pijaran api mudah terlihat dan bisa menarik perhatian,” jelas Kepala Pelaksana BPBD setempat.
Karakteristik Letusan dan Dampak Lingkungan
Sebagai gunung api tipe strato dengan kubah lava aktif, Karangetang dikenal memiliki erupsi efusif dan eksplosif yang silih berganti. Pada fase saat ini, aktivitas didominasi oleh pertumbuhan kubah lava dan guguran lava pijar. Ketika kubah tidak stabil, bagian tepinya akan runtuh dan menghasilkan awan panas guguran. Namun, insiden kali ini lebih dipengaruhi oleh lontaran tunggal material pijar yang meluncur jauh dari kawah.
Ahli vulkanologi menjelaskan bahwa vegetasi di sekitar kawah sangat rentan terbakar karena kondisi kemarau yang membuat ilalang mengering. “Lontaran bongkahan lava dengan suhu lebih dari 800 derajat Celsius akan langsung membakar apa pun yang mudah terbakar. Ini bagian dari dinamika alami gunung api yang berada di daerah tropis,” kata Dr. Irwan Meilano, pengamat gunung api dari Institut Teknologi Bandung. Ia menambahkan bahwa kebakaran vegetasi seperti ini dapat memicu erosi tanah di lereng atas jika tidak segera terpantau.
Dari sisi kualitas udara, abu letusan bercampur asap kebakaran menyebar tipis ke sejumlah desa. BPBD melaporkan bahwa konsentrasi partikel debu masih dalam batas aman, namun kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia diimbau menggunakan masker.
Sejarah Aktivitas dan Kesiapsiagaan
Gunung Karangetang merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, dengan catatan letusan terus-menerus sejak tahun 1675. Aktivitas signifikan terakhir terjadi pada akhir tahun 2024, ketika gunung ini menghasilkan luncuran awan panas hingga sejauh 2 kilometer ke lembah. Letusan pada periode itu juga mengakibatkan korban luka ringan akibat terkena material vulkanik. Kendati demikian, kesiapsiagaan warga di pulau tersebut tergolong baik karena mereka telah terbiasa hidup berdampingan dengan ancaman vulkanik.
Pos pemantauan PVMBG beroperasi 24 jam dengan peralatan seismometer, tiltmeter, dan CCTV termal. Data kegempaan menunjukkan peningkatan gempa vulkanik dangkal dalam sepekan terakhir, yang mengindikasikan pergerakan magma ke permukaan. “Kami terus memonitor deformasi kubah. Jika terjadi perubahan signifikan, status bisa dinaikkan menjadi Awas,” ujar petugas PVMBG.
Hingga laporan ini ditulis, aktivitas Karangetang masih fluktuatif. Masyarakat di sekitar gunung diharapkan tetap tenang namun waspada, mematuhi rekomendasi resmi, dan tidak terpengaruh informasi yang tidak jelas sumbernya. Upaya mitigasi struktural dan kultural terus dilakukan untuk mengurangi risiko bencana.
Baca juga:
Comments (0)