Manusia dan AI Bersinergi di Balik Kinerja Bank Jago

Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai transaksi digital banking pada 2023 mencapai Rp 45.486,9 triliun, mengalami kenaikan 11,98% year-on-year, dan tren adopsi layanan perbankan digital terus berlanj...

Aug 21, 2026 - 13:44
0 0
Manusia dan AI Bersinergi di Balik Kinerja Bank Jago

Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai transaksi digital banking pada 2023 mencapai Rp 45.486,9 triliun, mengalami kenaikan 11,98% year-on-year, dan tren adopsi layanan perbankan digital terus berlanjut hingga 2024. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan mencatat penyaluran kredit perbankan nasional tumbuh 10,39% pada Desember 2024, sebuah sinyal bahwa fundamental industri tetap ekspansif di tengah penyesuaian suku bunga. Dalam lanskap persaingan itu, Bank Jago — bank yang sejak awal memposisikan diri sebagai bank berbasis teknologi — menjadikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai perangkat pendamping yang bekerja berdampingan dengan manusia. Teknologi ini diandalkan untuk meringankan beban kerja rutin para karyawan internal yang mereka sebut Jagoan, sehingga tenaga kerja bisa dialihkan ke layanan bernilai lebih tinggi.

AI di Balik Layar: dari Skor Kredit hingga Deteksi Kecurangan

Dalam operasional perbankan digital, AI bekerja di banyak lapisan yang jarang terlihat langsung oleh nasabah. Pada proses pembukaan rekening, sistem berbasis AI membantu verifikasi dokumen dan mendeteksi kecurangan secara real-time. Pada sisi penyaluran kredit, model machine learning menyusun skor kredit alternatif dari kombinasi data transaksi, riwayat pembayaran, hingga pola perilaku keuangan, sehingga keputusan pembiayaan berlangsung lebih cepat bagi segmen yang selama ini sulit mengakses layanan bank konvensional.

Bagi pembaca awam, skor kredit adalah semacam nilai kepercayaan yang dihitung bank dari riwayat keuangan seseorang; semakin tinggi skornya, semakin besar peluang pengajuan disetujui. Dengan bantuan AI, perhitungan ini bisa rampung dalam hitungan detik dan berbasis data yang jauh lebih luas. Namun, klaim efisiensi semacam ini tetap perlu diuji terhadap angka realisasi, bukan sekadar narasi teknologi.

Di Satu Sisi: Efisiensi Biaya, Likuiditas Murah, dan Pertumbuhan

Dari sisi efisiensi, otomatisasi pekerjaan repetitif — menjawab pertanyaan standar, memproses transaksi, menyusun laporan — menekan biaya operasional. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berpotensi membaik seiring skala bisnis tumbuh tanpa diimbangi penambahan karyawan secara proporsional. Laporan keuangan 2024 menunjukkan Bank Jago membukukan laba bersih sekitar Rp 213 miliar, naik mendekati tiga kali lipat dibandingkan Rp 75 miliar pada 2023. Dana pihak ketiga tumbuh ke kisaran Rp 16 triliun dengan rasio CASA di atas 80 persen — CASA adalah porsi simpanan murah, yakni tabungan dan giro, yang biaya dananya lebih rendah daripada deposito.

Likuiditas murah tersebut menjadi modal utama untuk menekan biaya dana dan menjaga margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Portofolio kredit Bank Jago tercatat tumbuh sekitar 44% year-on-year ke kisaran Rp 18 triliun pada 2024, ditopang ekspansi pinjaman produktif dan kolaborasi dengan ekosistem GoTo. Dengan kata lain, di satu sisi, AI berkontribusi pada fundamental yang semakin sehat: pertumbuhan kredit dua digit, kualitas aset terjaga, dan jalur menuju profitabilitas yang lebih berkelanjutan.

Di Sisi Lain: Risiko Model, Keamanan Data, dan Etika

Di sisi lain, ketergantungan pada AI membawa risiko yang tidak bisa diabaikan. Pertama, risiko model: algoritma yang dilatih dari data historis dapat mewarisi bias, misalnya menolak kredit kelompok tertentu secara tidak adil, atau gagal membaca perubahan ekonomi yang cepat. Kedua, risiko siber: semakin banyak data nasabah diproses mesin, semakin luas permukaan serangan bagi peretas. Ketiga, risiko regulasi dan reputasi: sejak Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) berlaku efektif Oktober 2024, setiap pemrosesan data nasabah, termasuk oleh AI, wajib memiliki dasar hukum yang jelas.

Muncul pula pertanyaan etika: jika AI memberikan rekomendasi keuangan yang keliru, siapa yang bertanggung jawab? Karena itu, prinsip human-in-the-loop — manusia memegang kendali akhir atas keputusan — menjadi kata kunci di industri. Manajemen Bank Jago menegaskan posisi ini.

"AI kami tempatkan untuk memperluas kapasitas kerja, bukan menggantikan penilaian manusia; keputusan akhir selalu berada di tangan Jagoan yang terlatih," ujar Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris Tandjung.

Proyeksi: Persaingan Ketat dan Sentimen Pasar

Ke depan, proyeksi industri menunjukkan kompetisi antar bank digital semakin ketat, melibatkan pemain seperti SeaBank, Allo Bank, Superbank, hingga Blu. Faktor pembeda tidak lagi sekadar bunga tabungan, melainkan kualitas layanan berbasis data dan tata kelola risiko AI. Sentimen pasar terhadap saham-saham bank digital cenderung fluktuatif: valuasi yang sempat tinggi pada masa pandemi kemudian terkoreksi ketika investor menuntut profitabilitas nyata, bukan sekadar pertumbuhan jumlah nasabah. Saham Bank Jago (kode JAGO) tercatat mengalami kenaikan signifikan sepanjang 2024 seiring membaiknya laba, menjadikannya salah satu saham perbankan yang paling banyak diperhatikan pasar.

Variabel eksternal tetap menjadi pengawas utama: pergerakan suku bunga global dapat memicu capital outflow, yaitu keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik yang berpotensi menekan likuiditas dan indeks perbankan. Sebaliknya, keputusan Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan menjadi 5,50% pada Januari 2025 memberi ruang penurunan biaya dana dan berpotensi mendorong permintaan kredit baru.

Pada akhirnya, kisah Bank Jago adalah gambaran dilema industri: AI menawarkan efisiensi dan inklusi, tetapi kepercayaan tetap dibangun di atas pengawasan manusia dan kepatuhan regulasi. Bank yang mampu menyeimbangkan keduanya — memakai teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusia — akan menjadi pemenang dalam persaingan jangka panjang. Bagi nasabah, yang terpenting bukanlah seberapa canggih mesin di balik layar, melainkan seberapa aman dan adil layanan yang mereka terima.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User