Oct 14, 2026
Bisnis

Mandalika Ride Out dan Dinamika Ekonomi Wisata Otomotif

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, dengan wisata berbasis event atau e...

Mandalika Ride Out dan Dinamika Ekonomi Wisata Otomotif

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, dengan wisata berbasis event atau event tourism menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat. Salah satu agenda yang menyita perhatian adalah Mandalika Ride Out, sebuah kegiatan touring motor menuju Sirkuit Mandalika yang digelar bersamaan dengan rangkaian Pertamina Grand Prix of Indonesia. Kegiatan ini menempuh jarak sekitar 1.400 kilometer dan tidak sekadar menjadi perjalanan hobi, melainkan juga ajang pengenalan ekosistem bisnis energi kepada peserta.

Di Satu Sisi: Efek Berganda bagi Ekonomi Daerah

Di satu sisi, event berskala nasional seperti ini menghadirkan efek berganda yang nyata bagi perekonomian daerah. Setiap peserta touring yang melintasi jalur Jawa hingga Lombok berpotensi membelanjakan uang untuk bahan bakar, penginapan, konsumsi, dan oleh-oleh. Jika diasumsikan rata-rata pengeluaran per peserta mencapai Rp3,5 juta hingga Rp5 juta selama perjalanan, maka dengan ratusan peserta, nilai transaksi yang berputar bisa menembus miliaran rupiah. Angka ini belum termasuk belanja penonton dan wisatawan yang datang ke kawasan Mandalika saat balapan berlangsung.

Dari kacamata makro, kegiatan semacam ini memperkuat tren positif penerimaan devisa pariwisata yang pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran USD14 miliar. Sektor akomodasi, transportasi, dan usaha mikro di sepanjang jalur touring menjadi penerima manfaat langsung. Ini juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong perputaran uang di daerah, bukan hanya terpusat di Jakarta dan Bali. Bagi pelaku UMKM lokal, momentum ini menjadi peluang meningkatkan likuiditas usaha mereka.

Selain itu, keterlibatan perusahaan energi dalam kegiatan ini menunjukkan strategi pemasaran berbasis pengalaman atau experiential marketing. Peserta diajak mengenal rantai bisnis energi secara langsung, mulai dari penyediaan bahan bakar, layanan di rest area, hingga infrastruktur pendukung. Pendekatan ini berpotensi memperkuat loyalitas konsumen terhadap produk dan layanan perusahaan, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja korporasi dan penerimaan negara.

Di Sisi Lain: Tantangan Fundamental dan Sentimen Pasar

Di sisi lain, ada sejumlah catatan kritis yang perlu diperhatikan. Pertama, ketergantungan pada event berskala besar menimbulkan risiko keberlanjutan. Ketika euforia balapan usai, aktivitas ekonomi di kawasan Mandalika dan sekitarnya berpotensi mengalami penurunan tajam. Tanpa strategi diversifikasi, infrastruktur mahal seperti sirkuit dan hotel bisa menjadi beban biaya tetap yang tidak terserap optimal sepanjang tahun. Rasio okupansi hotel di kawasan Mandalika pada periode non-event diketahui jauh lebih rendah dibanding saat gelaran MotoGP atau event besar lainnya.

Kedua, dari perspektif fiskal, penyelenggaraan event berskala internasional membutuhkan biaya yang tidak kecil. Pemerintah daerah dan pusat harus menghitung dengan cermat apakah penerimaan pajak dan retribusi yang dihasilkan mampu menutup belanja infrastruktur, subsidi, dan biaya operasional. Jika tidak, yang terjadi adalah defisit fiskal yang harus ditanggung anggaran negara, sementara manfaat ekonominya lebih banyak dinikmati pelaku usaha tertentu.

Ketiga, faktor eksternal turut memengaruhi. Sentimen pasar global, fluktuasi harga minyak dunia, serta potensi capital outflow dari pasar keuangan domestik bisa memengaruhi kemampuan perusahaan energi membiayai kegiatan pemasaran semacam ini. Ketika harga minyak mengalami kenaikan, biaya operasional melonjak, dan anggaran promosi sering menjadi pos yang pertama dievaluasi. Sebaliknya, saat harga minyak turun, tekanan pendapatan membuat efisiensi menjadi keharusan.

"Event tourism memang memiliki multiplier effect yang tinggi, tetapi tanpa perencanaan jangka panjang, manfaatnya bisa bersifat sementara dan tidak menyentuh fundamental ekonomi daerah secara struktural," ujar seorang ekonom pariwisata dalam sebuah diskusi publik.

Proyeksi dan Catatan Penutup

Ke depan, proyeksi dampak ekonomi dari kegiatan seperti Mandalika Ride Out sangat bergantung pada tiga hal: konsistensi penyelenggaraan, keterlibatan pelaku usaha lokal, dan strategi pasca-event. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa infrastruktur yang dibangun tetap produktif di luar musim balapan, misalnya melalui kalender event yang berkelanjutan atau pengembangan kawasan ekonomi khusus pariwisata.

Dari sisi pelaku usaha energi, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi memperkuat posisi di pasar yang kompetitif. Namun, valuasi perusahaan tetap akan ditentukan oleh fundamental kinerja, bukan semata sentimen dari event. Bagi pembaca, penting untuk melihat fenomena ini secara berimbang: antusiasme peserta dan geliat ekonomi daerah adalah sinyal positif, tetapi keberlanjutan dan dampak fiskalnya tetap perlu dicermati dengan data. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah event bukan diukur dari kemeriahan sesaat, melainkan dari seberapa besar ia memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User