Berdasarkan data penyelenggara dan otoritas kawasan ekonomi khusus per awal 2025, gelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, membukukan rekor baru dengan 157.875 penonton selama periode balapan. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan event tersebut di Indonesia, sekaligus menandai titik balik penting bagi strategi sport tourism nasional yang digarap serius oleh InJourney melalui anak usaha pengelola kawasan.
Bagi pembaca awam, sport tourism adalah model pariwisata yang menjadikan ajang olahraga sebagai magnet utama kunjungan. Alih-alih wisatawan datang hanya untuk bersantai, mereka datang karena ada event, lalu membelanjakan uang di akomodasi, kuliner, transportasi, dan cendera mata. Di sinilah nilai ekonominya terasa: setiap penonton yang hadir bukan sekadar angka keramaian, melainkan potensi belanja yang bergulir ke pelaku usaha lokal.
Fundamental Ekonomi di Balik Lonjakan Penonton
Di satu sisi, capaian 157.875 penonton menunjukkan bahwa fundamental daya tarik Mandalika sebagai destinasi kelas dunia semakin kokoh. Tren kunjungan year-on-year memperlihatkan kurva yang menanjak, mencerminkan sentimen pasar yang positif terhadap kualitas penyelenggaraan, infrastruktur sirkuit, dan konektivitas penerbangan menuju Lombok. Efek bergandanya pun berlapis: okupansi hotel di kawasan Kuta Mandalika dan Mataram meningkat, permintaan transportasi darat naik, dan likuiditas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar venue ikut terdorong.
Menurut sejumlah pelaku usaha kuliner dan penginapan lokal, periode balapan menjadi puncak omzet tahunan yang bisa menembus beberapa kali lipat dibanding bulan biasa. Ini penting karena sport tourism menawarkan pola kunjungan yang relatif terprediksi, berbeda dari wisata musiman yang bergantung cuaca atau libur panjang.
Di sisi lain, euforia angka penonton perlu dibaca dengan kepala dingin. Rekor keramaian tidak otomatis diterjemahkan menjadi kesejahteraan merata. Sebagian ekonom mengingatkan bahwa manfaat ekonomi cenderung terkonsentrasi pada pelaku usaha yang memiliki akses modal, jaringan, dan lokasi strategis. UMKM di pelosok Lombok bisa jadi hanya menikmati limpahan tidak langsung. Selain itu, biaya penyelenggaraan event kelas dunia—termasuk perawatan sirkuit, logistik, dan promosi—menuntut rasio manfaat-biaya yang harus terus diuji secara transparan.
Pro dan Kontra Dampak Jangka Panjang
Pro: keberhasilan Mandalika memperkuat posisi Indonesia dalam peta sport tourism global. Dengan valuasi promosi yang setara puluhan miliar rupiah dari eksposur media internasional, event ini berfungsi sebagai etalase yang jauh lebih efisien dibanding iklan konvensional. Portofolio event yang berkelanjutan dapat menarik investor sektor perhotelan, restoran, dan infrastruktur pendukung, sekaligus memperluas basis penerimaan daerah dari pajak dan retribusi.
Kontra: masih ada risiko capital outflow dan kebocoran ekonomi bila pasokan barang serta jasa sebagian besar dipasok dari luar daerah. Tanpa penguatan kapasitas lokal, sebagian besar belanja pengunjung bisa mengalir keluar NTB. Selain itu, ketergantungan pada satu-dua event besar membuat ekonomi kawasan rentan terhadap guncangan—pembatalan, cuaca ekstrem, atau perubahan kalender balapan dunia bisa langsung memukul pendapatan pelaku usaha.
"Rekor penonton adalah sinyal permintaan yang kuat, tetapi keberlanjutan sport tourism ditentukan oleh seberapa dalam rantai pasok lokal terlibat," ujar seorang pengamat ekonomi pariwisata, menekankan pentingnya pemberdayaan UMKM sebagai fondasi.
Proyeksi dan Langkah Penguatan ke Depan
Ke depan, InJourney menegaskan komitmen mengembangkan ekonomi lokal dan UMKM sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi Mandalika. Pendekatannya mencakup pelatihan pelaku usaha, kurasi produk lokal, hingga integrasi UMKM ke dalam ekosistem event. Jika dijalankan konsisten, proyeksi kontribusi sektor ini terhadap produk domestik regional bisa meningkat signifikan dalam beberapa tahun.
Namun, indikator keberhasilan tidak boleh berhenti pada jumlah penonton. Parameter seperti rata-rata belanja per pengunjung, lama tinggal, tingkat keterlibatan UMKM, dan rasio tenaga kerja lokal harus diukur dan dipublikasikan secara berkala. Dengan begitu, narasi sport tourism tidak sekadar merayakan rekor, tetapi benar-benar menghadirkan fundamental ekonomi yang inklusif dan tahan guncangan.
Pada akhirnya, 157.875 penonton adalah modal awal yang berharga. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga tren ini agar tidak sekadar menjadi lonjakan sesaat, melainkan fondasi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Comments (0)