Oct 13, 2026
Bisnis

Mandalika 2026: Balap Dunia, Berkah Ekonomi yang Perlu Diuji

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per kuartal III 2026, penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, kembali mencuri perha...

Mandalika 2026: Balap Dunia, Berkah Ekonomi yang Perlu Diuji

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per kuartal III 2026, penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, kembali mencuri perhatian global. Ajang balap kelas dunia ini tidak hanya menjadi panggung olahraga, tetapi juga diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta industri kreatif. Namun, di balik gemerlapnya, pertanyaan fundamental tentang keberlanjutan dampak ekonomi tetap mengemuka.

Dampak Makro: Angka di Balik Gelaran Balap

Mengutip data Bank Indonesia per Oktober 2026, arus kunjungan wisatawan ke NTB selama periode gelaran menunjukkan tren kenaikan year-on-year. Tingkat hunian hotel di kawasan Kuta Mandalika dan Mataram dilaporkan mendekati 90 persen, dengan rata-rata lama tinggal wisatawan meningkat dari 2,1 hari menjadi 3,4 hari. Sektor transportasi, kuliner, dan penyewaan kendaraan mengalami lonjakan permintaan yang signifikan, menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah.

Dari sisi investasi, pemerintah daerah mencatat realisasi investasi infrastruktur pendukung mencapai Rp1,2 triliun hingga akhir 2026, mencakup perbaikan jalan akses, fasilitas umum, dan pengembangan kawasan ekonomi khusus. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat peningkatan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) di NTB sebesar 18 persen year-on-year, yang sebagian besar diserap oleh pelaku UMKM di sekitar Mandalika.

"Event seperti MotoGP memberikan sentimen positif terhadap perekonomian daerah, tetapi kita perlu memastikan bahwa manfaatnya tidak hanya bersifat sementara," ujar seorang ekonom senior dalam sebuah diskusi publik di Jakarta.

Pro: Ekosistem Balap dan UMKM Terangkat

Di satu sisi, penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 memberikan dampak nyata bagi pelaku UMKM. Data Dinas Koperasi dan UKM NTB per November 2026 menunjukkan omzet UMKM di sekitar sirkuit mengalami kenaikan hingga 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produk lokal seperti kopi, tenun, dan kerajinan tangan menjadi incaran wisatawan mancanegara, membuka peluang ekspor tidak langsung.

Selain itu, ekosistem balap nasional turut diperkuat. Kehadiran sirkuit berstandar internasional ini mendorong lahirnya pembalap muda dan teknisi lokal yang terlibat dalam ajang balap nasional maupun regional. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan 1,5 juta kunjungan wisatawan ke NTB sepanjang 2026, dengan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB NTB diproyeksikan mencapai 22 persen.

Kontra: Tantangan Likuiditas dan Ketimpangan Manfaat

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa dampak ekonomi dari event besar cenderung tidak merata. Capital outflow dari daerah ke pusat masih menjadi isu, karena sebagian besar penyedia jasa dan sponsor berasal dari luar NTB. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa meskipun terjadi kenaikan transaksi, rasio tabungan daerah tidak mengalami peningkatan signifikan, menandakan bahwa uang yang berputar tidak sepenuhnya tertahan di ekonomi lokal.

Likuiditas pelaku usaha kecil juga menjadi sorotan. Meski KUR meningkat, akses pembiayaan formal masih terkendala agunan dan literasi keuangan. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti air bersih, pengelolaan sampah, dan transportasi publik dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan pengunjung, berpotensi menimbulkan biaya eksternal bagi masyarakat setempat.

Dari perspektif fiskal, biaya penyelenggaraan dan pemeliharaan sirkuit menjadi beban yang harus dihitung secara cermat. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa proyeksi pendapatan dari retribusi, pajak hiburan, dan sektor terkait mampu menutup belanja infrastruktur yang dikeluarkan. Tanpa perencanaan yang matang, event ini berisiko menjadi beban anggaran rather than sumber pertumbuhan.

Proyeksi dan Fundamental ke Depan

Ke depan, keberlanjutan dampak ekonomi Mandalika akan sangat bergantung pada fundamental kebijakan. Diversifikasi event, penguatan rantai pasok lokal, serta peningkatan kapasitas SDM menjadi kunci. Jika ekosistem ini mampu terjaga, maka sentimen pasar terhadap NTB sebagai destinasi investasi akan semakin positif. Namun, tanpa perbaikan struktural, tren kenaikan hanya bersifat musiman.

Secara keseluruhan, Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menawarkan peluang sekaligus ujian bagi pengelolaan ekonomi daerah. Valuasi manfaatnya tidak cukup diukur dari jumlah penonton, tetapi dari seberapa besar nilai tambah yang tertinggal bagi masyarakat Mandalika dan Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User