MALANG — Penelitian Mahasiswa UB soal Ritual Gunung Kawi Picu Kontroversi

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai destinasi ziarah spiritual yang menarik ribuan pengunjung setiap bulannya. Namun, d

Aug 13, 2026 - 09:50
0 0
MALANG — Penelitian Mahasiswa UB soal Ritual Gunung Kawi Picu Kontroversi

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai destinasi ziarah spiritual yang menarik ribuan pengunjung setiap bulannya. Namun, di balik aura religius dan keindahan alamnya, jejak praktik mistis—termasuk ritual pesugihan—kerap menjadi whispers di kalangan masyarakat lokal dan peziarah. Baru-baru ini, fokus publik kembali tertuju ke situs bersejarah tersebut usai seorang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengangkat hubungan antara ritual-ritual tersebut dengan kondisi kesehatan mental sebagai bagian dari penelitian akademisnya. Temuan awal yang dihasilkan dari kajian itu tidak hanya menggemparkan kalangan akademik, tetapi juga memicu gelombang bantahan keras dari pihak pengelola situs ziarah yang menegaskan bahwa aktivitas di Gunung Kawi murni bernuansa keagamaan.

Dalam konteks akademik, penelitian yang mengaitkan praktik kepercayaan lokal dengan disiplin ilmu psikologi memang masih jarang dilakukan secara terbuka di Indonesia. Mahasiswa yang menjalankan penelitian ini diketahui berasal dari program studi yang mempelajari perilaku manusia dan memilih topik tersebut berdasarkan fenomena sosial yang ia amati selama bertahun-tahun di sekitar kawasan Gunung Kawi. Ia mencurigai bahwa ada korelasi signifikan antara partisipasi dalam ritual-ritual tertentu yang dianggap menyimpang dengan gangguan kecemasan, insomnia, hingga gejala depresi pada sejumlah pengunjung. Dugaan itu kemudian diuji melalui pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatif selama beberapa bulan.

Proses Penelitian di Lapangan

  1. Mahasiswa tersebut memulai kajian dengan studi literatur pada awal tahun akademik 2024/2025 untuk memetakan hubungan antara ritual mistis dan kesehatan jiwa yang pernah dilaporkan di berbagai kasus internasional.
  2. Pada pertengahan tahun, ia melakukan pengumpulan data primer di sekitar kawasan Gunung Kawi dengan mewawancarai puluhan responden yang terdiri dari peziarah rutin, juru kunci, pedagang lokal, dan beberapa mantan peserta ritual non-standar.
  3. Selama proses di lapangan, peneliti mengamati bahwa sebagian pengunjung datang dengan beban ekonomi berat dan harapan instan untuk memperbaiki nasib, yang kemudian menjadi variabel utama dalam analisis dampak psikologisnya.

Dari proses panjang tersebut, mahasiswa itu menyusun temuan awal yang menunjukkan pola menarik. Sebanyak 28 dari 40 responden yang mengaku pernah terlibat dalam praktik ritual di luar jalur ziarah resmi melaporkan mengalami gangguan tidur berkepanjangan dalam tiga bulan pasca pelaksanaan. Lebih dari 60 persen di antaranya menunjukkan gejala kecemasan tinggi dan perasaan bersalah yang berulang, sementara sebagian kecil mengaku mengalami episode halusinasi ringan. Data tersebut kemudian dikaitkan dengan tekanan psikologis akibat konflik kognitif antara keyakinan spiritual dan realitas sosial yang tidak kunjung berubah.

Kontroversi dan Bantahan Pengelola

  1. Pengelola situs ziarah Gunung Kawi segera merespons temuan tersebut dengan menggelar konferensi pers singkat pada akhir pekan lalu, menegaskan bahwa seluruh kegiatan di kawasan tersebut diawasi ketat dan tidak ada ruang bagi praktik pesugihan.
  2. Pihak pengelola juga mempertanyakan kredibilitas metode penelitian, mengingat kajian tersebut dilakukan oleh individu tanpa koordinasi resmi dengan manajemen destinasi sehingga dikhawatirkan mengandung bias subjektif.
  3. Tokoh agama dan sesepuh setempat turut angkat bicara, menyebut bahwa menyamakan tradisi ziarah dengan praktik mistis berbahaya dapat menimbulkan stigma negatif yang merusak reputasi Gunung Kawi sebagai warisan spiritual.

Bantahan tersebut sontak memicu perdebatan di berbagai platform media sosial. Sebagian netizen mendukung perlunya kajian ilmiah terhadap fenomena yang dianggap sensitif, sementara kelompok lain menilai penelitian ini berpot merendahkan kearifan lokal. Sementara itu, pihak Universitas Brawijaya melalui fakultas terkait menyatakan bahwa penelitian mahasiswa tersebut masih dalam tahap revisian dan belum merupakan hasil final yang dapat dijadikan rujukan mutlak. Pihak kampus juga menegaskan komitmennya untuk menjaga akademik etika serta menghormati dinamika sosial di masyarakat sekitar objek penelitian.

Implikasi bagi Kesehatan Mental dan Pariwisata

Meski kontroversial, penelitian ini membuka diskusi penting mengenai urgensi layanan kesehatan mental di kawasan wisata religius. Psikolog klinis yang dimintai tanggapannya menyebut bahwa individu dengan beban ekonomi tinggi dan ekspektasi magis terhadap perubahan nasib memang rentan mengalami stres akut ketika harapan tidak tercapai. Fenomena tersebut, menurutnya, bukanlah pembuktian akan kekuatan mistis tertentu, melainkan refleksi dari kondisi psikososial masyarakat yang memerlukan intervensi berbasis komunitas. Di sisi lain, pakar pariwisata berargumen bahwa pengelola destinasi perlu memperketat filter informasi dan meningkatkan edukasi spiritual kepada pengunjung agar tidak terjebak dalam praktik-praktik di luar koridor keagamaan yang sah.

Dengan mempertimbangkan kompleksitas isu ini, para pihak sepakat bahwa pendekatan interdisipliner—melibatkan antropologi, psikologi, dan studi agama—merupakan kunci untuk memahami fenomena di Gunung Kawi tanpa merendahkan nilai-nilai kepercayaan yang telah ada ratusan tahun. Penelitian ini, meski masih mentah, setidaknya mengingatkan bahwa di balik setiap ritual dan tradisi, ada manusia dengan kondisi psikologis yang perlu diperhatikan.

[SOCIAL_TWEET]: Penelitian mahasiswa UB soal ritual pesugihan di Gunung Kawi & dampak kesehatan mentalnya jadi

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User