Di bawah terik matahari Kota Makassar, derap langkah jajaran pimpinan Kementerian Sosial memecah keheningan kompleks bangunan baru di kawasan Sudiang Raya. Pada Selasa, 15 September 2026, Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul, didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, melangkah pasti meninjau langsung kesiapan operasional gedung permanen Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 3 Sulawesi Selatan. Kedatangan dua pejabat tinggi negara ini bukan sekadar agenda seremonial belaka, melainkan sebuah bentuk pengawasan mendalam untuk memastikan bahwa program pengentasan kemiskinan berbasis pendidikan inklusif berjalan sesuai standar ketat yang ditetapkan.
Penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa transisi dari fasilitas sementara menuju bangunan permanen memerlukan perhatian mendetail pada aspek kelayakan fisik dan fungsi. Terletak strategis di Jalan Pajjaiang, kompleks SRT 3 dirancang menjadi pusat rehabilitasi sosial dan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu serta kelompok rentan. Gus Ipul mengamati secara seksama setiap sudut bangunan, mulai dari ketahanan struktur ruang kelas, fasilitas asrama, hingga kesiapan sarana vokasional yang akan digunakan para peserta didik.
Menilik Kelayakan Fasilitas di Jantung Makassar
Pengawasan ketat yang dilakukan Kemensos menyasar pada efektivitas penggunaan anggaran negara. Fasilitas pendukung seperti ketersediaan air bersih, sistem sanitasi, jaringan listrik, dan keamanan gedung tak luput dari pemeriksaan. Pembangunan infrastruktur sosial di daerah kerap kali dihadapkan pada kendala pemeliharaan berkala, sehingga inspeksi mendadak ini menjadi sarana mitigasi sejak dini agar bangunan tidak terbengkalai setelah diresmikan.
Pemerintah menargetkan keberadaan sarana permanen ini mampu menampung kapasitas yang lebih besar dibanding periode sebelumnya. Berdasarkan data evaluasi lapangan, berikut adalah gambaran kesiapan operasional sarana gedung permanen SRT 3 Sulawesi Selatan:
| Indikator Evaluasi | Target Target Operasional | Realisasi Lapangan |
|---|---|---|
| Kapasitas Tampung Siswa | 500 Peserta Didik | 500 Siswa Terfasilitasi |
| Fasilitas Kelas & Laboratorium | 15 Ruang Belajar Utama | 100% Siap Digunakan |
| Ketersediaan Asrama | 2 Blok (Putra/Putri) | Telah Terbangun Permanen |
| Aksesibilitas Disabilitas | Standar Inklusif Penuh | Tersedia Ramp & Jalur Khusus |
Menembus Batas Kemiskinan Lewat Intervensi Sosial
Dalam pandangan Kementerian Sosial, intervensi terhadap kemiskinan ekstrem tidak lagi cukup hanya dengan mengandalkan skema bantuan tunai pasif. "Pendidikan dan pembentukan karakter adalah instrumen paling ampuh untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi," ungkap sebuah pernyataan penutup saat evaluasi internal berlangsung. Kehadiran SRT 3 di Makassar menjadi salah satu tonggak nyata integrasi pelayanan sosial dan formal bagi masyarakat marginal di wilayah Indonesia Timur.
"Kita tidak hanya membangun dinding beton dan mengimbuhkan atap yang kokoh, tetapi kita sedang membangun masa depan anak-anak yang selama ini terpinggirkan. Pengawasan akan terus kami lakukan secara berkala agar fungsi bangunan ini tetap konsisten dan tepat sasaran," tegas Mensos Saifullah Yusuf di sela-sela peninjauan.
Tantangan Keberlanjutan dan Pengawasan Publik
Kendati fisik bangunan telah siap beroperasi, tantangan terbesar kini bergeser pada aspek pemeliharaan aset dan keberlanjutan mutu kurikulum. Sejumlah pengamat kebijakan publik mengingatkan pentingnya pengawasan independen agar fasilitas yang dibangun dengan dana besar ini tidak mengalami penurunan mutu layanan di masa mendatang. Pengelolaan manajemen sekolah dan perekrutan tenaga pengajar yang berdedikasi menjadi elemen kunci yang harus dikawal secara kontinu.
Langkah tegas Mensos dan Wamensos dalam mengawal operasional SRT 3 Sulsel ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pengelolaan proyek bantuan sosial nasional lainnya. Publik kini menantikan dampak nyata dari keberadaan gedung permanen tersebut dalam mencetak generasi muda Makassar yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Comments (0)