Oct 19, 2026
Bisnis

LPS Tekankan Ketangguhan Generasi Muda di Tengah Dinamika Ekonomi Lampung

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal IV 2024, pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung tercatat 4,91 persen secara year-on-year, sedikit di bawah rata-rata nasional yang berada di kisa...

LPS Tekankan Ketangguhan Generasi Muda di Tengah Dinamika Ekonomi Lampung

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal IV 2024, pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung tercatat 4,91 persen secara year-on-year, sedikit di bawah rata-rata nasional yang berada di kisaran 5,02 persen. Angka ini menjadi konteks penting ketika Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyoroti peran generasi muda dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Dalam sebuah forum literasi keuangan di Lampung Financial Festival, Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, membagikan pandangannya mengenai ketangguhan, pembelajaran berkelanjutan, dan etos kerja sebagai fondasi menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Fundamental Makro dan Tantangan Likuiditas Daerah

Di satu sisi, indikator makro Lampung menunjukkan tren yang relatif stabil. Tingkat inflasi daerah pada akhir 2024 berada di kisaran 2,4 persen year-on-year, masih dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan) perbankan di wilayah Sumatra bagian selatan juga terjaga di bawah 3 persen, menandakan fundamental sektor keuangan yang cukup sehat. Namun, di sisi lain, indeks inklusi keuangan Lampung baru mencapai sekitar 75 persen, tertinggal dari rata-rata nasional yang menyentuh 88 persen pada 2024. Kesenjangan ini menunjukkan masih besarnya ruang bagi edukasi finansial, terutama bagi segmen usia produktif 18-35 tahun yang mendominasi struktur demografi provinsi tersebut.

Dalam konteks inilah pesan Anggito mengenai ketangguhan menjadi relevan. Ia menekankan bahwa generasi muda tidak cukup hanya memahami produk keuangan, tetapi juga perlu membangun daya tahan terhadap tekanan sentimen pasar dan godaan imbal hasil instan. Menurutnya, kemampuan bertahan dan belajar dari kegagalan merupakan modal utama yang sering diabaikan dalam literasi keuangan konvensional.

"Ketangguhan bukan soal tidak pernah gagal, tetapi soal bagaimana kita bangkit dan terus belajar dari setiap proses," ujar Anggito dalam forum tersebut, seperti dikutip dari keterangan resmi LPS.

Pro: Ekosistem Keuangan Mulai Ramah bagi Anak Muda

Dari perspektif optimistis, beberapa indikator menunjukkan perbaikan. Jumlah rekening simpanan nasabah muda di perbankan Lampung mengalami kenaikan sekitar 11 persen year-on-year pada 2024. Penetrasi layanan keuangan digital juga meningkat, dengan transaksi via mobile banking tumbuh 23 persen. LPS sendiri mencatat tingkat bunga penjaminan simpanan yang stabil, memberikan rasa aman bagi nasabah kecil. Kombinasi ini menciptakan peluang bagi anak muda untuk mulai membangun portofolio sederhana, meski tetap dengan pemahaman risiko yang memadai.

Anggito juga menyinggung pentingnya pembelajaran berkelanjutan di tengah derasnya arus informasi. Literasi yang baik, menurutnya, membantu generasi muda membedakan antara peluang investasi yang fundamental dan skema yang hanya mengandalkan hype tanpa data.

Kontra: Risiko Capital Outflow dan Volatilitas Global

Meski demikian, tantangan eksternal tidak bisa diabaikan. Ketegangan geopolitik dan kebijakan suku bunga global berpotensi memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan ini dapat memengaruhi likuiditas perbankan dan valuasi aset, yang pada akhirnya berdampak pada daya beli masyarakat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Lampung untuk 2025 berada di kisaran 4,8-5,0 persen, dengan risiko penurunan apabila ekspor komoditas melemah. Bagi anak muda yang baru memasuki pasar kerja, ketidakpastian ini menuntut kesiapan keterampilan dan fleksibilitas karier.

Anggito mengingatkan bahwa kerja keras tetap menjadi faktor penentu, namun harus disertai strategi dan adaptasi. Ia mendorong generasi muda untuk tidak hanya mengejar hasil instan, tetapi membangun kompetensi jangka panjang yang tahan terhadap siklus ekonomi.

Secara keseluruhan, pesan dari forum tersebut menegaskan bahwa stabilitas ekonomi daerah bertumpu pada kualitas sumber daya manusia. Dengan fundamental yang relatif terjaga namun dihadapkan pada volatilitas eksternal, kombinasi antara literasi, ketangguhan, dan etos kerja menjadi kunci. Bagi para pemangku kepentingan, tantangan berikutnya adalah memperluas akses edukasi keuangan agar inklusi tidak hanya menjadi angka, tetapi menjadi praktik nyata di lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User