Ketegangan antara keluarga Spencer dan takhta monarki Inggris kembali mencuat ke ruang publik. Earl Charles Spencer, adik kandung mendiang Putri Diana, merilis memoar terbaru yang membongkar percakapan rahasia di balik hari-hari paling kelam Kerajaan Inggris pada Agustus 1997. Dalam buku berjudul Swan Song: Diana, My Sister, Spencer menuding Raja Charles III—yang saat itu masih berstatus Pangeran Wales—mengeluarkan pernyataan dingin terkait eksistensi sang mantan istri sesaat setelah tragedi kecelakaan maut di Paris.
Bocoran naskah yang diterbitkan oleh surat kabar Daily Mail menjelang peluncuran resmi buku tersebut memicu kegemparan di London. Spencer mengklaim bahwa Charles sempat berucap bahwa publik dunia akan segera melupakan Diana. Klaim ini langsung menuai respons keras dari pihak monarki yang selama beberapa dekade berupaya memperbaiki citra hubungan domestik istana.
Kronologi Perselisihan Pasca-Tragedi Paris 1997
Berdasarkan investigasi naratif yang dituangkan dalam memoar tersebut, ketegangan memuncak beberapa hari menjelang pemakaman kenegaraan Diana. Rekonstruksi kejadian memaparkan rangkaian perdebatan sengit di balik pintu istana:
- 31 Agustus 1997: Putri Diana dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan tragis di terowongan Pont de l'Alma, Paris, yang memicu gelombang duka global tanpa preseden.
- Awal September 1997: Pejabat senior istana merancang prosesi pemakaman resmi dan mengusulkan agar Pangeran William (15) dan Pangeran Harry (12) berjalan kaki mengiringi peti jenazah ibu mereka.
- Konfrontasi Internal: Charles Spencer menolak keras usulan tersebut demi melindungi kondisi psikologis kedua keponakannya yang masih di bawah umur, meyakini Diana tidak akan pernah mengizinkan hal itu.
- Pernyataan Kontroversial: Di tengah adu argumen yang memanas, Pangeran Charles dilaporkan merespons kekhawatiran Spencer dengan kalimat yang memicu luka mendalam.
"Tenang saja, dia akan segera dilupakan oleh publik," tutur Spencer menirukan ucapan Charles saat perselisihan mengenai protokol pemakaman memuncak.
Dampak Psikologis Terhadap William dan Harry
Perdebatan mengenai prosesi pemakaman tersebut meninggalkan luka jangka panjang bagi para pangeran muda. Di kemudian hari, Pangeran Harry dalam berbagai kesempatan dan memoar pribadinya mengakui bahwa keputusan memaksa anak berusia 12 tahun berjalan di belakang peti jenazah ibunya di hadapan jutaan pasang mata dan sorotan kamera global merupakan tindakan yang sangat traumatis.
Fakta sejarah justru membuktikan kebalikan dari klaim ucapan Charles tersebut. Warisan sosial, pengaruh kemanusiaan, dan popularitas Putri Diana tetap bertahan kuat melintasi generasi, bahkan hingga seperempat abad setelah kepergiannya.
Bantahan Keras Pihak Istana Buckingham
Menanggapi beredarnya penggalan buku yang berpotensi mencederai reputasi Raja Charles III, pihak kerajaan langsung mengambil langkah tegas. Istana Buckingham secara terbuka membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa narasi yang disampaikan Spencer sepenuhnya tidak berdasar.
Pihak kerajaan menegaskan bahwa fokus utama keluarga kerajaan pada hari-hari pasca-kematian Diana adalah menjaga kesejahteraan Pangeran William dan Pangeran Harry di tengah sorotan publik internasional yang sangat intens. Perselisihan verbal ini kembali membuka lembaran lama mengenai dinamika kekuasaan dan friksi emosional antara Istana Buckingham dan keluarga mendiang Putri Wales.
Comments (0)