Listrik Sering Mati, Sehat Sutardja Kini Miliki Harta Rp23,55 Triliun
Di tengah gelapnya malam Jakarta puluhan tahun silam, seorang anak muda tidak menyangka bahwa pemadaman listrik yang rutin dialaminya justru menjadi pintu menuju kekayaan luar biasa. Sehat Sutardja, p...
Di tengah gelapnya malam Jakarta puluhan tahun silam, seorang anak muda tidak menyangka bahwa pemadaman listrik yang rutin dialaminya justru menjadi pintu menuju kekayaan luar biasa. Sehat Sutardja, pria kelahiran ibu kota itu, kini tercatat memiliki harta senilai Rp23,55 triliun berkat perjalanan panjangnya dari lantai rumah yang sering mati lampu menuju jajaran orang terkaya di dunia.
Awal Mula dari Gulita Jakarta
Sehat tumbuh di lingkungan sederhana Jakarta pada era 1970-an hingga 1980-an, ketika pasokan listrik masih belum stabil. Pemadaman bergilir, terutama di malam hari, adalah hal yang lumrah. Namun, alih-alih mengeluh, ia memanfaatkan kegelapan itu untuk menyalakan rasa ingin tahunya. Dengan penerangan seadanya—lampu minyak atau senter baterai—ia mulai mengutak-atik radio dan perangkat elektronik sederhana. Ketertarikannya pada cara kerja arus listrik dan komponen elektronik terus tumbuh. Pengalaman langsung menghadapi mati listrik menanamkan obsesi awal tentang bagaimana penyimpanan dan pengaturan daya yang efisien bisa mengubah hidup.
Ketika teman-teman sebayanya bermain di luar, Sehat sering ditemukan membaca buku sains atau bereksperimen dengan sirkuit dasar. Ia belajar secara otodidak, tetapi semangatnya membawanya mengejar pendidikan formal di bidang teknik elektro. Bakatnya bersinar dan memberinya beasiswa untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat—sebuah lompatan yang kelak membawanya ke pusat inovasi dunia.
Dari Rakitan Elektronik ke Laboratorium Silicon Valley
Sehat menempuh pendidikan sarjana di Iowa State University lalu meraih gelar Master dan PhD dari University of California, Berkeley—salah satu kampus teknik paling bergengsi. Di sinilah, pengetahuan mendalam tentang semikonduktor dan manajemen daya yang dipicu oleh pengalaman masa kecilnya bertemu dengan peluang industri. Bersama istrinya, Weili Dai, dan saudaranya, Pantas Sutardja, ia mendirikan Marvell Technology pada 1995. Modal awal mereka berasal dari tabungan pribadi dan keyakinan bahwa pasar membutuhkan solusi penyimpanan data, jaringan, dan pemrosesan sinyal yang lebih hemat energi.
Perusahaan mengambil pendekatan fabless—merancang cip tetapi tidak memiliki pabrik sendiri—sehingga bisa fokus pada desain inovatif dengan profil risiko yang lebih rendah. Visi Sehat tentang efisiensi daya, yang berakar dari kenangan rumah tanpa listrik, menjadi benang merah produk Marvell: cip yang lebih cepat, lebih dingin, dan lebih irit energi dibandingkan kompetitor.
Marvell dan Ledakan Kekayaan
Penawaran umum perdana (IPO) Marvell di bursa Nasdaq pada tahun 2000, tepat di puncak gelembung internet, menjadi tonggak awal akumulasi kekayaannya. Meski mengalami turbulensi pascadotcom, Marvell bertahan dan berkembang menjadi pemasok utama cip penyimpanan (HDD controller), prosesor jaringan, serta komponen untuk infrastruktur data center dan kendaraan. Kemitraan strategis dengan raksasa teknologi seperti Western Digital, Seagate, dan beberapa produsen peralatan jaringan memperkuat pendapatan perusahaan, yang dalam banyak tahun kuartalan melampaui US$1 miliar.
Pada puncak kepemilikan sahamnya, Sehat Sutardja menguasai porsi signifikan Marvell. Ketika harga saham meroket didorong ledakan permintaan cip dan booming AI generatif pada 2023–2024, kekayaannya meroket. Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index per pertengahan 2025, nilai kekayaan bersihnya—dihitung dari kepemilikan langsung dan tidak langsung di Marvell serta investasi lainnya—setara dengan Rp23,55 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS). Angka ini menempatkan Sehat sebagai salah satu individu terkaya di Indonesia, meski ia telah lama menetap di Amerika Serikat.
Faktor Pendorong di Balik Angka Fantastis
Kenaikan kekayaan Sehat bukan semata karena keberuntungan. Ada tiga katalis utama. Pertama, ledakan pasar cip AI: Marvell memproduksi prosesor jaringan dan optik yang menjadi tulang punggung pusat data hyperscale, yang permintaannya meledak bersamaan dengan pengembangan model bahasa besar seperti ChatGPT dan infrastruktur cloud. Kedua, restrukturisasi strategis: setelah kontroversi tata kelola perusahaan pada 2016 yang memaksa Sehat dan Weili mundur dari posisi eksekutif, tim manajemen baru tetap menjalankan peta jalan teknologinya, sehingga nilai sahamnya sebagai pemegang saham utama justru menguat. Ketiga, diversifikasi portofolio: selain saham Marvell, Sehat memiliki investasi di perusahaan rintisan semikonduktor lain dan aset properti di kawasan Silicon Valley yang nilainya terus naik.
Dampak dan Warisan
Kisah Sehat Sutardja sering dikutip sebagai contoh bagaimana keterbatasan justru melahirkan inovasi. Di Indonesia, namanya diabadikan dalam beberapa program beasiswa teknik, dan ia kerap memberikan kuliah tamu tentang kewirausahaan berbasis teknologi. Meski kekayaannya fantastis, ia dikenal berkepribadian rendah hati dan lebih suka berbicara soal teknik daripada soal jumlah nol di rekeningnya. Mantan koleganya di Marvell menyebut ia masih bisa menjelaskan skema rangkaian elektronik secara rinci, warisan dari hari-harinya merakit radio di bawah cahaya remang saat listrik padam.
Ke depan, dengan Marvell terus berekspansi ke cip AI khusus dan teknologi 5G/6G, para analis memperkirakan nilai kekayaan Sehat berpotensi bertambah. Namun, bagi Sehat sendiri—yang pernah tinggal dalam kegelapan Jakarta—pencapaian terbesarnya tetaplah mencegah dunia mengalami kegelapan serupa melalui inovasi manajemen daya yang ia rintis. Dari mati listrik di rumah kecil, lahirlah harta Rp23,55 triliun yang menerangi jalan bagi generasi insinyur selanjutnya.
Baca juga:
Comments (0)