Oct 10, 2026
Bisnis

Lima Sektor Hijau Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Baru

Berdasarkan data Kementerian Keuangan dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, potensi kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim jika dibiarkan tanpa intervensi pendanaan yang memadai mencapai...

Lima Sektor Hijau Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Baru

Berdasarkan data Kementerian Keuangan dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, potensi kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim jika dibiarkan tanpa intervensi pendanaan yang memadai mencapai Rp544 triliun. Angka ini mencerminkan akumulasi risiko pada sektor pertanian, kelautan, infrastruktur pesisir, hingga kesehatan masyarakat. Di tengah tekanan fiskal yang masih berlangsung pascapandemi, kebutuhan pembiayaan hijau menjadi salah satu agenda paling mendesak dalam kerangka kebijakan ekonomi nasional.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menawarkan pendekatan baru dengan mengidentifikasi lima mesin pertumbuhan hijau sebagai katalis. Pendekatan ini tidak sekadar berbicara soal komitmen lingkungan, melainkan menjadikan transisi energi dan ekonomi sirkular sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang terukur.

Lima Sektor Prioritas dan Proyeksi Kontribusinya

Kelima sektor yang dimaksud meliputi energi terbarukan, transportasi listrik, pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular, pertanian cerdas iklim, serta industri hijau berbasis sumber daya lokal. Berdasarkan proyeksi internal pemerintah, pengembangan energi terbarukan diproyeksikan mampu menyerap investasi hingga USD 20 miliar per tahun pada 2030, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terus meningkat secara year-on-year.

Sektor kendaraan listrik, misalnya, mencatat kenaikan penjualan signifikan dalam dua tahun terakhir. Indeks penetrasi kendaraan listrik nasional naik dari sekitar 0,7 persen pada 2022 menjadi hampir 3 persen pada 2024. Angka ini memang masih kecil dibandingkan negara tetangga, namun tren pertumbuhannya termasuk yang tercepat di kawasan ASEAN.

Di sisi lain, pengembangan ekonomi sirkular diproyeksikan mampu mengurangi volume limbah nasional hingga 30 persen pada 2030. Nilai ekonomi dari daur ulang material diperkirakan menambah nilai tambah sektor manufaktur sebesar Rp80 triliun hingga Rp120 triliun per tahun. Sementara itu, pertanian cerdas iklim diarahkan untuk menjaga ketahanan pangan yang selama ini menjadi fondasi stabilitas ekonomi nasional.

Pro: Peluang Pertumbuhan dan Penciptaan Lapangan Kerja

Dari perspektif optimistis, pendekatan lima mesin pertumbuhan hijau menawarkan beberapa keunggulan fundamental. Pertama, diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi mengurangi ketergantungan pada komoditas ekstraktif yang harganya sangat fluktuatif. Kedua, penciptaan lapangan kerja hijau diproyeksikan mencapai 1,5 juta hingga 2 juta pekerjaan baru dalam satu dekade, mulai dari teknisi panel surya hingga analis data energi.

Ketiga, dari sisi likuiditas global, sentimen pasar terhadap instrumen keuangan berkelanjutan terus menguat. Penerbitan obligasi hijau (green bonds) nasional mencatat kenaikan dari sekitar Rp5 triliun pada 2019 menjadi lebih dari Rp20 triliun pada 2024. Ini menunjukkan bahwa portofolio investor institusional semakin mengarah pada aset yang memenuhi kriteria environmental, social, and governance (ESG).

"Transisi hijau bukan biaya, melainkan investasi jangka panjang yang akan menentukan posisi kompetitif Indonesia di rantai nilai global," ujar seorang pejabat tinggi di bidang koordinasi perekonomian dalam sebuah forum diskusi ekonomi baru-baru ini.

Kontra: Tantangan Pembiayaan dan Risiko Eksekusi

Namun, di sisi lain, terdapat sejumlah catatan kritis yang tidak bisa diabaikan. Pertama, kebutuhan pembiayaan transisi hijau jauh melampaui kapasitas fiskal negara. Estimasi kebutuhan investasi untuk mencapai target iklim nasional berkisar USD 280 miliar hingga 2030, atau sekitar Rp4.400 triliun dengan asumsi kurs Rp15.700 per dolar AS. Dari jumlah tersebut, pemerintah hanya mampu membiayai sekitar 20–25 persen melalui anggaran negara.

Kedua, risiko capital outflow tetap menjadi bayangan. Ketika suku bunga global, khususnya The Fed, masih berada pada level tinggi, investor cenderung memindahkan dananya dari pasar negara berkembang ke aset safe haven. Hal ini bisa menekan nilai tukar rupiah dan pada akhirnya memperbesar biaya impor teknologi hijau yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Ketiga, tantangan eksekusi di lapangan tidak kalah pelik. Regulasi yang tumpang tindih antar kementerian dan pemerintah daerah, keterbatasan sumber daya manusia terampil, serta resistensi dari sektor industri konvensional menjadi hambatan struktural. Rasio elektrifikasi energi terbarukan nasional masih berkisar 13–14 persen dari total bauran energi, jauh di bawah target 23 persen pada 2025.

Valuasi dan Arah Kebijakan ke Depan

Dari kacamata valuasi, sektor hijau saat ini diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba yang relatif premium dibandingkan sektor konvensional. Ini mencerminkan ekspektasi pasar yang tinggi, namun juga menyimpan risiko koreksi jika realisasi pertumbuhan tidak sesuai proyeksi. Indeks saham berbasis keberlanjutan di bursa domestik mencatat kenaikan sekitar 8 persen secara year-on-year, sedikit di bawah indeks gabungan yang naik sekitar 10 persen.

Ke depan, kunci keberhasilan lima mesin pertumbuhan hijau terletak pada kemampuan menciptakan ekosistem pembiayaan campuran (blended finance) yang melibatkan pemerintah, swasta, lembaga multilateral, dan filantropi. Tanpa itu, potensi kerugian Rp544 triliun hanya akan menjadi angka statistik tanpa solusi nyata. Di satu sisi, optimisme terhadap tren ekonomi hijau patut dijaga. Di sisi lain, kehati-hatian terhadap fundamental dan likuiditas global tetap harus menjadi kompas utama dalam setiap pengambilan kebijakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User