Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2025, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Namun, tantangan terbesar yang masih membelit pelaku usaha mikro adalah akses pasar yang terbatas. Menjawab persoalan itu, Pertamina melalui program tanggung jawab sosialnya membawa 38 UMKM binaan untuk tampil dalam pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, INACRAFT, yang digelar di Jakarta pada Oktober 2026.
Partisipasi ini bukan sekadar ajang unjuk produk. Pameran menjadi jembatan bagi pelaku usaha kecil untuk bertemu langsung dengan pembeli potensial, baik dari pasar domestik maupun mancanegara. Selama ini, banyak UMKM mampu memproduksi barang berkualitas, tetapi kesulitan menembus rantai distribusi yang dikuasai pemain besar. Kehadiran di pameran berskala internasional membuka peluang kontrak dagang, kemitraan, hingga ekspor perdana.
Dorongan Pertumbuhan dan Perluasan Jaringan Pelanggan
Program pembinaan UMKM yang dijalankan Pertamina mencakup pelatihan standarisasi produk, pengemasan, pencatatan keuangan, hingga pemasaran digital. Dari sisi korporasi, langkah ini menjadi bagian dari upaya menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan di sekitar wilayah operasi perusahaan. UMKM yang lolos kurasi dipilih berdasarkan kualitas produk, konsistensi pasokan, dan potensi pertumbuhan.
Di satu sisi, keikutsertaan dalam pameran bergengsi memberi dampak langsung terhadap tren penjualan. Pelaku usaha biasanya mencatat kenaikan transaksi selama dan setelah pameran, seiring bertambahnya basis pelanggan baru. Sentimen pasar terhadap produk kerajinan Indonesia juga masih positif, terutama di segmen fesyen etnik, kriya, dan dekorasi rumah. Nilai ekspor produk kerajinan nasional pada 2024 tercatat di kisaran USD 800 juta, dan angka itu diproyeksikan bertumbuh seiring pemulihan permintaan global.
Di sisi lain, tantangan tetap membayangi. Biaya produksi yang fluktuatif, keterbatasan bahan baku berkualitas, serta kebutuhan sertifikasi ekspor menjadi penghambat struktural yang tidak selesai hanya dengan sekali pameran. Sebagian UMKM juga masih rapuh dari sisi likuiditas, sehingga sulit memenuhi pesanan besar dalam waktu singkat meski peluang sudah di depan mata.
"Pendampingan tidak boleh berhenti di panggung pameran. Yang menentukan keberlanjutan adalah bagaimana UMKM mampu menjaga mutu, kapasitas produksi, dan akses pembiayaan setelah kontrak pertama didapat," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan.
Pro dan Kontra Pendekatan Korporasi
Pro: keterlibatan Badan Usaha Milik Negara dalam pembinaan UMKM mempercepat transfer pengetahuan, memperluas jejaring, dan memberi legitimasi pasar. UMKM binaan cenderung lebih siap menghadapi standar pembeli internasional. Kontra: skema ini dinilai belum merata. Jumlah 38 UMKM relatif kecil dibanding total pelaku usaha nasional yang mencapai puluhan juta unit. Ketergantungan pada satu program juga berisiko jika pendampingan berhenti ketika prioritas korporasi berubah.
Dari kacamata fundamental ekonomi, penguatan UMKM berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan. Setiap unit usaha yang naik kelas berpotensi menyerap tenaga kerja tambahan dan menggerakkan usaha pendukung di sekitarnya. Namun, dampak makro baru terasa bila program semacam ini terjadi dalam skala masif dan berkelanjutan, bukan sporadis.
Proyeksi dan Catatan ke Depan
Ke depan, keberhasilan partisipasi di INACRAFT 2026 patut diukur bukan hanya dari nilai transaksi selama pameran, melainkan dari jumlah kerja sama yang berlanjut setelahnya. Diperlukan indikator yang jelas: berapa UMKM yang berhasil menembus pasar ekspor, berapa kenaikan omzet year-on-year, dan bagaimana rasio keberlanjutan usaha setelah program berakhir.
Bagi pembaca awam, istilah capital outflow atau likuiditas mungkin terdengar teknis, tetapi sederhananya: UMKM butuh modal berputar agar bisa memproduksi ulang ketika pesanan datang. Tanpa itu, peluang sebesar apa pun akan lewat begitu saja. Pameran hanyalah pintu masuk. Yang menentukan adalah kesiapan di balik pintu tersebut.
Dengan kata lain, mendorong UMKM ke panggung internasional adalah langkah strategis, tetapi tidak cukup berdiri sendiri. Diperlukan sinergi antara korporasi, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha itu sendiri agar valuasi usaha terus naik dan manfaatnya terasa hingga ke akar ekonomi rakyat.
Comments (0)