Upaya percepatan dekarbonisasi sektor transportasi nasional memasuki babak baru. PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi meluncurkan fasilitas Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Proyek skala pilot ini dirancang sebagai episentrum riset, pengujian teknologi, dan optimasi formulasi bahan bakar nabati guna menopang target ambisius produksi bioetanol nasional sebesar 1 juta kiloliter (KL) per tahun.
Langkah strategis di wilayah sentra pertanian Sumatra ini mengindikasikan pergeseran serius Pertamina dalam memetakan rantai pasok energi hijau terbarukan dari hulu ke hilir.
Kronologi dan Peta Jalan Pengembangan
Pembangunan fasilitas percontohan ini tidak lepas dari tekanan pemenuhan mandatori bauran bioetanol yang sempat terkendala pasokan bahan baku domestik. Berikut adalah fase kronologis realisasi program tersebut:
- Fase Inisiasi Riset (2023): Pengkajian potensi biomassa lokal, mencakup limbah tebu (molase) dan singkong, serta pemilihan lokasi strategis di Kabupaten Pesawaran.
- Fase Pembangunan Pilot Plant (2024): Konstruksi infrastruktur laboratorium, unit fermentasi modular, dan sistem distilasi berstandar industri energi di Tegineneng.
- Fase Uji Coba Operasional (Saat Ini): Peluncuran Bioethanol Development Center untuk menguji efisiensi konversi bahan baku nabati menjadi bioetanol fuel grade (kadar kemurnian di atas 99,5%).
- Fase Skalabilitas Komersial (Target Mendatang): Replikasi teknologi teruji ke kilang komersial guna mengamankan target agregat 1 juta KL per tahun.
"Fasilitas di Tegineneng ini berfungsi sebagai jembatan penting antara riset laboratorium dan manufaktur skala besar. Kita harus memastikan teknologi pengolahan mampu menghasilkan bioetanol berbiaya kompetitif tanpa mengorbankan ketahanan pangan," ungkap perwakilan manajemen Pertamina NRE dalam peluncuran tersebut.
Mengurai Ambisi 1 Juta Kiloliter
Target volume 1 juta KL per tahun bukan sekadar angka di atas kertas. Kebutuhan ini mendesak seiring rencana implementasi bertahap bauran bensin-bioetanol (E5 hingga E10) secara nasional. Dari kalkulasi teknis, pemenuhan kuota tersebut membutuhkan pasokan bahan baku secara stabil dan berkelanjutan.
Pemilihan Lampung sebagai lokasi pengembangan didasari oleh ekosistem agroindustri yang mapan. Namun, laporan investigasi lapangan menunjukkan sejumlah faktor krusial yang menentukan keberhasilan proyek ini:
- Efisiensi Konversi Biomassa: Mengoptimalkan teknologi ragi dan enzim agar rasio hasil panen tebu/singkong per liter etanol mencapai titik keekonomian optimal.
- Integrasi Petani Lokal: Skema kemitraan rantai pasok agar serapan komoditas pertanian lokal terlindungi dari fluktuasi harga pasar pangan.
- Penurunan Emisi Karbon: Menghitung jejak karbon (carbon footprint) siklus hidup dari proses panen hingga pembakaran di ruang mesin kendaraan.
Tantangan Tata Kelola Pasokan dan Keberlanjutan
Kehadiran Bioethanol Development Center menjadi batu uji bagi komitmen transisi energi Indonesia. Tantangan utama ke depan bertumpu pada kompetisi lahan antara kebutuhan pangan dan energi. Oleh karena itu, pengujian teknologi di Tegineneng juga difokuskan pada pemanfaatan biomassa generasi kedua (non-pangan), seperti bagas tebu dan limbah tandan kosong kelapa sawit.
Dengan beroperasinya fasilitas ini, pemerintah dan BUMN diharapkan dapat merumuskan kebijakan harga indeks pasar (HIP) bioetanol yang lebih akuntabel guna menarik investasi kilang komersial di berbagai daerah.
Comments (0)