Kupang Digital Fest Pacu Transaksi QRIS, Tercatat Hampir 10 Ribu

Perhelatan Kupang Digital Fest 2026 yang berlangsung pada 10–11 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi akselerasi pembayaran digital di Nusa Tenggara Timur. Dalam dua hari penyelenggaraan, tercatat...

Perhelatan Kupang Digital Fest 2026 yang berlangsung pada 10–11 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi akselerasi pembayaran digital di Nusa Tenggara Timur. Dalam dua hari penyelenggaraan, tercatat 9.870 transaksi QRIS hanya dari wahana permainan digital yang disediakan panitia. Sementara itu, transaksi di area bazar UMKM yang juga menggunakan QRIS berhasil membukukan nilai total sebesar Rp157 juta. Angka ini bukan sekadar rekor acara, melainkan indikator yang menunjukkan bahwa penetrasi sistem pembayaran nontunai kian merata ke wilayah Indonesia timur.

Data yang dihimpun dari laporan penyelenggara memperlihatkan bagaimana perpaduan antara hiburan digital dan kebutuhan konsumsi mampu mendorong masyarakat untuk beralih dari uang tunai ke kode QR. Hal ini sejalan dengan agenda nasional Bank Indonesia dalam memperluas akseptasi QRIS hingga ke pelosok, sekaligus menegaskan bahwa NTT bukan lagi daerah pinggiran dalam ekosistem keuangan digital.

Antusiasme Pengunjung dan Perilaku Transaksi

Hampir 10 ribu transaksi yang terjadi di wahana permainan digital menunjukkan bahwa QRIS tidak hanya digunakan untuk belanja kebutuhan pokok, tetapi juga untuk rekreasi dan hiburan. Rata-rata transaksi bernilai kecil, mengindikasikan bahwa masyarakat memanfaatkan QRIS untuk pembelian impulsif dan konsumsi ringan — hal yang sebelumnya identik dengan uang receh. Fakta bahwa pengunjung dengan nyaman memindai kode QR di tengah keramaian festival menandakan tingkat kepercayaan dan literasi yang meningkat.

Dari sisi demografi, pengunjung didominasi oleh generasi muda yang akrab dengan gawai. Namun, kehadiran pendampingan dari petugas di setiap wahana turut membantu pengunjung yang baru pertama kali mencoba QRIS. Ini merupakan transfer pengetahuan yang efektif, di mana festival berperan sebagai laboratorium hidup inklusi keuangan. Bank Indonesia mencatat bahwa hingga akhir tahun 2025, jumlah pengguna QRIS di NTT telah tumbuh 23% secara year-on-year, dan ajang seperti Kupang Digital Fest berpotensi menambah angka tersebut secara signifikan.

Dampak pada UMKM Lokal

Di satu sisi, pencatatan transaksi bazar UMKM senilai Rp157 juta memberikan gambaran optimistis. Pelaku usaha kecil yang sebelumnya hanya mengandalkan pembayaran tunai kini mendapatkan kanal baru yang lebih efisien dan aman. Tidak ada lagi keluhan tentang uang pas atau risiko menerima uang palsu. Pencatatan digital juga memudahkan pedagang dalam mengelola arus kas dan bahkan membangun rekam jejak kredit yang dapat dimanfaatkan untuk mengakses pembiayaan formal.

Di sisi lain, ada tantangan yang perlu diantisipasi. Infrastruktur jaringan internet di beberapa titik NTT masih fluktuatif, yang dapat mengganggu kelancaran transaksi. Beberapa pedagang di bazar melaporkan kendala teknis saat puncak keramaian, seperti terputusnya koneksi atau lambatnya respons sistem. Hal ini mengingatkan bahwa digitalisasi harus diiringi penguatan infrastruktur, termasuk ketersediaan listrik dan jaringan telekomunikasi yang andal. Selain itu, biaya transaksi — meski kecil — tetap menjadi beban yang perlu disiasati oleh UMKM dengan margin tipis.

Prospek dan Tantangan Digitalisasi

Kesuksesan Kupang Digital Fest 2026 membuka peluang replikasi model serupa di kabupaten lain di NTT. Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dapat menjadikan festival berbasis digital sebagai katalis tahunan untuk memperluas basis pengguna QRIS. Secara makro, peningkatan transaksi nontunai turut mendorong efisiensi sistem pembayaran nasional, mengurangi beban pencetakan uang kartal, dan meningkatkan transparansi peredaran uang di daerah.

Namun, perlu keseimbangan antara percepatan digital dan kesiapan masyarakat. Digitalisasi yang dipaksakan tanpa edukasi berkelanjutan dapat menciptakan kesenjangan baru, terutama bagi penduduk di pedalaman yang belum tersentuh layanan internet. Oleh karena itu, program literasi digital harus berjalan paralel dengan penyediaan infrastruktur. Data dari BPS menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan di NTT meningkat dari 65,1% pada 2024 menjadi 69,8% di awal 2026, namun masih di bawah rata-rata nasional. QRIS bisa menjadi jembatan, asalkan pendekatannya tidak sekadar mengejar kuantitas transaksi, tetapi juga kualitas pengalaman pengguna.

Dengan hampir 10 ribu transaksi di satu ajang, optimisme terhadap ekonomi digital di NTT mendapat fondasi yang lebih kokoh. Festival ini membuktikan bahwa digitalisasi bukan monopoli kota besar. Ketika hiburan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan kebijakan pembayaran nasional disatukan, hasilnya bisa melampaui ekspektasi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User