Industri pembiayaan kendaraan bermotor melalui perusahaan multifinance tengah menghadapi tekanan yang cukup dalam. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir kuartal I 2025, penyaluran kredit kendaraan bermotor oleh multifinance mencatatkan kontraksi year-on-year sebesar 8,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini menyeret sejumlah sektor turunan, terutama lini bisnis asuransi umum yang selama ini menggantungkan pendapatan premi dari bundling produk dengan kredit kendaraan. Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi pelaku industri keuangan non-bank untuk mengevaluasi kembali strategi pertumbuhan dan diversifikasi portofolionya.
Melemahnya Penyaluran Kredit Kendaraan
Penurunan volume pembiayaan kendaraan di multifinance tidak terjadi dalam ruang hampa. Di satu sisi, pelemahan ini dipicu oleh menurunnya daya beli masyarakat kelas menengah yang menjadi segmen utama pembeli kendaraan roda dua dan roda empat secara kredit. Inflasi harga kebutuhan pokok dan stagnasi pertumbuhan upah riil ikut menggerus kemampuan rumah tangga dalam mengambil komitmen cicilan jangka panjang. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan penurunan pada komponen pembelian barang tahan lama, termasuk kendaraan, yang turun ke level 98,4 atau berada di bawah ambang optimisme 100.
Di sisi lain, multifinance sendiri mulai memperketat kebijakan underwriting sebagai respons terhadap meningkatnya rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF). NPF gross sektor multifinance pada kuartal I 2025 tercatat menyentuh 3,2 persen, naik dari 2,6 persen di periode yang sama tahun lalu. Kenaikan NPF ini terutama disumbang oleh segmen kendaraan bekas, di mana nilai jaminan cenderung terdepresiasi lebih cepat dibandingkan outstanding pinjaman. Dalam situasi seperti ini, multifinance lebih memilih mengerem ekspansi dan selektif menyalurkan pembiayaan baru, yang pada akhirnya menekan total volume kredit yang disalurkan.
Efek Domino ke Industri Asuransi Umum
Hubungan antara multifinance dan asuransi umum bersifat struktural dan saling bergantung. Setiap kontrak pembiayaan kendaraan hampir selalu disertai dengan kewajiban pembelian produk asuransi kendaraan, baik asuransi all risk maupun Total Loss Only (TLO). Penjualan asuransi melalui jalur ini dikenal dengan istilah bancassurance model multifinance, yang berkontribusi cukup signifikan terhadap total pendapatan premi bruto industri asuransi umum nasional. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan bahwa kontribusi lini bisnis asuransi kendaraan bermotor terhadap total premi industri mencapai 26 persen pada tahun 2024, menjadikannya lini dengan porsi terbesar kedua setelah asuransi properti.
Ketika kredit kendaraan di multifinance anjlok, jalur distribusi ini ikut menyempit. Premi bruto asuransi kendaraan bermotor pada kuartal I 2025 mengalami penurunan sebesar 5,3 persen year-on-year menjadi sekitar Rp 14,2 triliun, turun dari Rp 15 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi sinyal peringatan dini bagi perusahaan asuransi yang selama ini terlalu bergantung pada bisnis kendaraan bermotor sebagai mesin pertumbuhan.
Dua Sisi Dampak: Risiko dan Peluang
Pro: Pelemahan penyaluran kredit kendaraan memberikan jeda bagi industri asuransi untuk memperbaiki rasio klaim. Selama beberapa tahun terakhir, rasio klaim bruto asuransi kendaraan bermotor cenderung meningkat, terutama akibat tingginya frekuensi kecelakaan dan kenaikan biaya suku cadang. Menurunnya jumlah polis baru yang diterbitkan bisa mengurangi tekanan klaim dalam jangka pendek, memberi ruang bagi perusahaan asuransi untuk mengkonsolidasikan cadangan teknis dan memperbaiki profitabilitas underwriting. Selain itu, seleksi risiko yang lebih ketat oleh multifinance berarti polis yang diterbitkan cenderung memiliki profil risiko yang lebih baik, karena nasabah yang lolos seleksi biasanya memiliki kapasitas finansial yang lebih sehat.
Kontra: Ketergantungan pada jalur distribusi multifinance membuat perusahaan asuransi rentan terhadap siklus bisnis pembiayaan. Ketika kredit menyusut, tidak ada mekanisme kompensasi cepat yang mampu mengisi kekosongan pendapatan premi. Perusahaan asuransi yang tidak melakukan diversifikasi kanal distribusi—misalnya melalui platform digital, agen mandiri, atau kemitraan dengan ekosistem otomotif langsung—akan mengalami tekanan likuiditas dan pertumbuhan premi negatif. Dalam jangka menengah, hal ini bisa berdampak pada penurunan pangsa pasar dan valuasi perusahaan di mata investor.
Proyeksi dan Arah Kebijakan
Sejumlah ekonom memperkirakan bahwa tekanan pada sektor multifinance dan asuransi kendaraan masih akan berlanjut setidaknya hingga akhir semester I 2025, seiring dengan masih berlangsungnya konsolidasi fiskal rumah tangga dan ketidakpastian global. Namun, ruang pemulihan mulai terlihat jika Bank Indonesia melanjutkan pelonggaran moneter melalui penurunan suku bunga acuan, yang dapat menstimulasi kembali permintaan kredit kendaraan.
"Kita melihat adanya pergeseran struktural di mana masyarakat kini lebih memprioritaskan pengeluaran pada sektor kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan digital dibandingkan pembelian kendaraan baru. Industri asuransi perlu beradaptasi dengan menciptakan produk-produk mikro yang relevan dengan kebutuhan segmen menengah ke bawah," ujar seorang analis ekonomi senior dalam sebuah diskusi virtual.
Ke depan, kolaborasi antara multifinance dan asuransi perlu diarahkan pada inovasi produk yang lebih fleksibel, seperti asuransi berbasis penggunaan (pay-as-you-drive) atau polis dengan periode lebih pendek yang sesuai dengan kemampuan bayar masyarakat. Diversifikasi ini bukan hanya menjadi strategi bertahan, melainkan juga langkah fundamental untuk menjaga keberlanjutan industri di tengah perubahan lanskap ekonomi dan preferensi konsumen.
Comments (0)