Oct 15, 2026
Bisnis

Kontrak Ekspor Kacang Hijau dan Rumput Laut RI-China Capai Rp326 Miliar

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Bank Indonesia per awal 2026, nilai kontrak perdagangan komoditas kacang hijau dan rumput laut antara Indonesia dan China menembus 19,59 juta dolar AS atau...

Kontrak Ekspor Kacang Hijau dan Rumput Laut RI-China Capai Rp326 Miliar

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Bank Indonesia per awal 2026, nilai kontrak perdagangan komoditas kacang hijau dan rumput laut antara Indonesia dan China menembus 19,59 juta dolar AS atau setara Rp326 miliar. Angka ini mencakup 14 transaksi dagang yang disepakati dalam satu forum bisnis bilateral. Pencapaian tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian dan perikanan budidaya nasional di tengah tekanan perlambatan ekonomi global yang masih berlangsung.

Bagi pembaca awam, kontrak dagang adalah kesepakatan jual-beli antarnegara dengan nilai dan volume yang telah disepakati. Nilai 19,59 juta dolar AS tersebut memang relatif kecil dibanding total ekspor nasional yang menyentuh ratusan miliar dolar per tahun. Namun, bila dilihat dari sisi tren, komoditas kacang hijau dan rumput laut punya karakteristik pasar yang berbeda dari komoditas massal seperti batubara atau minyak sawit.

Fundamental Sektor: Kacang Hijau dan Rumput Laut

Kacang hijau Indonesia memiliki keunggulan pada kandungan protein dan varietas lokal yang diminati pasar Asia Timur, terutama untuk bahan baku pangan olahan. Sementara rumput laut, khususnya jenis Gracilaria dan Eucheuma, menjadi bahan baku industri agar-agar, kosmetik, dan farmasi yang permintaannya terus mengalami kenaikan year-on-year. China sebagai importir terbesar dunia untuk kedua komoditas ini memiliki kebutuhan pasokan yang konsisten.

Di satu sisi, kesepakatan ini memperkuat fundamental neraca perdagangan Indonesia. Setiap tambahan devisa dari ekspor non-migas membantu menopang stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga likuiditas valuta asing di pasar domestik. Bila kontrak serupa berlanjut secara berkala, dampaknya bisa terasa pada pendapatan petani dan pembudidaya rumput laut di sentra produksi seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur.

Di sisi lain, skala nilai kontrak yang hanya ratusan miliar rupiah dinilai belum signifikan mengubah peta ekspor nasional. Sejumlah pengamat menilai Indonesia masih terjebak pada pola ekspor bahan mentah dengan nilai tambah rendah, sementara China mengolahnya menjadi produk bernilai jauh lebih tinggi.

"Kontrak ini penting sebagai sinyal sentimen pasar, tetapi belum menyelesaikan persoalan struktural berupa hilirisasi yang lemah. Tanpa pengolahan domestik, nilai tambah terbesar tetap dinikmati negara tujuan," ujar seorang ekonom perdagangan internasional.

Pro dan Kontra: Peluang versus Ketergantungan Pasar

Pro: Peningkatan permintaan dari China membuka ruang bagi petani dan pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi. Nilai kontrak Rp326 miliar dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan portofolio ekspor berbasis komoditas pangan dan hasil laut. Diversifikasi mitra dagang pun tetap terjaga karena pasar China memiliki daya serap besar dan stabil.

Kontra: Ketergantungan pada satu pasar utama menyimpan risiko konsentrasi. Bila terjadi guncangan ekonomi di China, sentimen pasar bisa berbalik cepat dan memicu penurunan permintaan. Selain itu, rasio nilai tambah yang rendah membuat valuasi ekspor Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global dan potensi capital outflow dari sektor hulu.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Merujuk pola dagang lima tahun terakhir, ekspor rumput laut Indonesia mengalami kenaikan rata-rata sekitar 6-8 persen per tahun, sedangkan kacang hijau cenderung stagnan akibat keterbatasan lahan dan produktivitas. Proyeksi ke depan bergantung pada kemampuan menjaga kualitas, kontinuitas pasokan, serta sertifikasi standar yang diminta importir.

Pemerintah perlu mendorong hilirisasi agar nilai ekspor tidak berhenti pada bahan mentah. Pengembangan industri agar-agar, pangan olahan, dan produk turunan kacang hijau berpotensi melipatgandakan nilai ekonomi. Tanpa itu, angka Rp326 miliar hanya akan menjadi catatan kecil dalam neraca dagang, bukan lompatan besar bagi kesejahteraan petani dan pembudidaya.

Pada akhirnya, kesepakatan ini layak diapresiasi sebagai modal awal. Namun keberlanjutannya sangat ditentukan oleh kesiapan domestik menghadapi persaingan global yang menuntut efisiensi, kualitas, dan keberlanjutan pasokan jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User