Komunikasi Rutin Ayah-Anak Jadi Senjata Ampuh Lawan Fatherless
Di tengah dinamika keluarga modern, istilah fatherless atau ketiadaan sosok ayah dalam kehidupan anak semakin mencuat sebagai isu serius di Indonesia. Bukan sekadar ketidakhadiran fisik, fatherless ju...
Di tengah dinamika keluarga modern, istilah fatherless atau ketiadaan sosok ayah dalam kehidupan anak semakin mencuat sebagai isu serius di Indonesia. Bukan sekadar ketidakhadiran fisik, fatherless juga mencakup minimnya keterlibatan emosional dan komunikasi antara ayah dan anak. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu gangguan perkembangan psikologis hingga masalah sosial pada generasi penerus. Menjawab tantangan tersebut, hadir sebuah gerakan baru yang menempatkan komunikasi sederhana sebagai fondasi utama: Gerakan Ayah Mengobrol dengan Anak (GAMAS).
Berdasarkan data dari berbagai lembaga penelitian sosial, sebanyak 20 persen anak di perkotaan dan 15 persen di pedesaan tumbuh tanpa keterlibatan ayah yang bermakna. Angka ini bukan hanya tentang perceraian atau ayah yang merantau, tetapi juga rumah tangga utuh di mana ayah terlalu sibuk bekerja sehingga jarang berinteraksi dengan anak. Dampaknya, anak-anak tersebut cenderung memiliki rasa percaya diri rendah, kesulitan mengelola emosi, hingga performa akademis yang kurang optimal. Di sinilah GAMAS berupaya memutus rantai fatherless dengan pendekatan yang ringan namun strategis: obrolan rutin.
Akar Masalah Fatherless di Indonesia
Fenomena fatherless di Indonesia sering kali berakar pada budaya patriarki yang menempatkan ayah sebagai pencari nafkah utama dan ibu sebagai pengasuh tunggal. Akibatnya, banyak ayah merasa bahwa memberi uang dan memenuhi kebutuhan materi sudah cukup sebagai bentuk tanggung jawab. Pola pikir ini secara tidak langsung membenarkan ketidakhadiran ayah secara emosional dan intelektual dalam perkembangan anak. Studi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2025) menunjukkan bahwa 40 persen ayah mengaku menghabiskan waktu kurang dari satu jam per hari untuk berkomunikasi bermakna dengan anak, sementara 70 persen waktu tersebut habis untuk urusan pekerjaan atau gawai.
Di sisi lain, meningkatnya angka perceraian turut memperparah kondisi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2024, kasus perceraian mencapai 516.334, naik 5 persen dari tahun sebelumnya. Tidak sedikit anak dari perceraian yang kehilangan kontak dengan ayahnya, baik secara hukum maupun psikologis. Ketiadaan figur ayah ini meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi oleh sosok lain, khususnya dalam pembentukan identitas dan ketangguhan mental anak.
Komunikasi: Kunci yang Terlupakan
GAMAS hadir dengan prinsip sederhana: ayah tidak perlu menjadi sempurna, yang terpenting adalah hadir dan mau mendengar. Gerakan ini mendorong para ayah untuk meluangkan waktu setidaknya 15–30 menit setiap hari guna berbincang dengan anak-anak mereka. Topik obrolan bisa apa saja, mulai dari cerita di sekolah, hobi, hingga pertanyaan sederhana seperti “Bagaimana perasaanmu hari ini?” Pendekatan ini sejalan dengan temuan American Psychological Association (APA) yang menyatakan bahwa keterbukaan komunikasi antara ayah dan anak dapat meningkatkan kecerdasan emosional anak hingga 23 persen dan menurunkan risiko perilaku berisiko pada remaja.
“Banyak ayah tidak sadar bahwa dampak dari obrolan lima menit sambil sarapan bisa jauh lebih besar daripada uang jajan yang diberikan. Komunikasi membangun koneksi emosional yang membuat anak merasa dihargai dan aman,” ujar Dr. Rina Andriani, psikolog klinis anak dan keluarga. Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada konsistensi, bukan durasi. Ayah yang setiap hari menyempatkan diri untuk bertanya atau sekadar mendengarkan celotehan anak telah membentuk fondasi ketahanan mental yang kuat.
Gerakan GAMAS: Merajut Kembali Peran Ayah
Inisiatif GAMAS tidak berhenti pada imbauan semata. Melalui kampanye yang menyasar komunitas perkantoran, sekolah, hingga majelis keagamaan, para penggerak GAMAS membekali ayah dengan modul praktis tentang cara memulai dan menjaga obrolan berkualitas dengan anak. Modul ini mencakup teknik active listening, pertanyaan terbuka, serta strategi mengatasi rasa canggung saat berbincang dengan anak remaja. Dalam enam bulan pertama, program pilot di tiga kota besar (Jakarta, Surabaya, dan Medan) berhasil melibatkan lebih dari 5.000 ayah yang berkomitmen menjadwalkan obrolan rutin.
Salah satu peserta, Heru Santoso, seorang manajer di perusahaan teknologi, mengaku bahwa GAMAS mengubah cara pandangnya. “Dulu saya pikir ngobrol itu buang waktu, tapi setelah saya coba setiap malam lima belas menit sebelum tidur, anak saya yang tadinya pendiam mulai banyak cerita. Saya jadi tahu ada temannya yang suka mengganggu, dan kami bisa cari solusi bersama. Rasanya jadi lebih dekat,” tuturnya. Kisah seperti ini bukan isapan jempol; survei internal GAMAS menunjukkan 85 persen ayah peserta merasakan peningkatan kualitas hubungan dengan anak dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Dukungan Ahli dan Harapan ke Depan
Pakar sosiologi keluarga, Prof. Dr. Bambang Waluyo, menilai bahwa gerakan seperti GAMAS merupakan langkah tepat di tengah transformasi peran gender yang sedang berlangsung. “Kita tidak bisa lagi mempertahankan paradigma lama bahwa ayah hanya sebagai penyedia. Anak membutuhkan kehadiran ayah yang aktif dalam keseharian mereka. GAMAS dengan cerdas menerjemahkan kebutuhan itu dalam aksi sederhana yang bisa dilakukan siapa saja,” jelasnya. Ia menambahkan, dari perspektif makro, keterlibatan ayah yang optimal dapat menekan angka kenakalan remaja dan meningkatkan sumber daya manusia di masa depan.
Meski demikian, jalan menuju keluarga yang seimbang tidaklah mulus. Tantangan terbesar adalah kesadaran dan kemauan dari para ayah itu sendiri. Tekanan ekonomi dan budaya kerja yang menuntut jam kerja panjang menjadi penghalang utama. Selain itu, tidak sedikit ayah yang merasa tidak dibekali keterampilan komunikasi yang memadai, sehingga muncul rasa enggan untuk memulai. GAMAS berupaya mengatasi ini dengan menyediakan platform daring berisi panduan, webinar, dan forum diskusi untuk saling berbagi pengalaman.
Ke depan, GAMAS menargetkan perluasan ke 10 provinsi pada akhir tahun dengan menggandeng instansi pemerintah dan swasta. Langkah ini diharapkan tidak hanya menciptakan jutaan obrolan bermakna, tetapi juga mengubah budaya keluarga Indonesia secara fundamental. Sebab, pada akhirnya, tidak ada harta atau pencapaian yang dapat menggantikan kenangan seorang anak tentang ayah yang selalu ada untuk mendengarkan.
Baca juga:
Comments (0)