Oct 08, 2026
Bisnis

Komitmen Iklim Indonesia dan Tantangan Aksi Nyata di Lapangan

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika per akhir 2024, suhu rata-rata nasional tercatat mengalami kenaikan sekitar 0,8 derajat Celsius dibandin...

Komitmen Iklim Indonesia dan Tantangan Aksi Nyata di Lapangan

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika per akhir 2024, suhu rata-rata nasional tercatat mengalami kenaikan sekitar 0,8 derajat Celsius dibandingkan periode praindustri, sementara intensitas bencana hidrometeorologi meningkat dari sekitar 2.000 kejadian pada 2014 menjadi lebih dari 3.500 kejadian pada 2023. Angka-angka ini menjadi latar mengapa pemerintah kembali menegaskan posisi Indonesia dalam kerja sama iklim internasional, dengan penekanan bahwa komitmen global harus berujung pada tindakan yang terukur, bukan sekadar deklarasi di forum multilateral.

Dari Komitmen Global ke Implementasi Domestik

Dalam berbagai forum internasional, Indonesia secara konsisten menyuarakan pentingnya penerjemahan komitmen iklim menjadi langkah konkret. Posisi ini sejalan dengan target Nationally Determined Contribution (NDC) yang menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen dengan usaha sendiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030. Target tersebut mencakup sektor energi, kehutanan, pertanian, limbah, dan industri pengolahan.

Di satu sisi, diplomasi iklim yang aktif membuka peluang pendanaan hijau, transfer teknologi, dan kerja sama riset yang selama ini menjadi kendala struktural. Indonesia memiliki modal karbon hutan yang besar, dengan tutupan hutan sekitar 120 juta hektare, serta potensi energi terbarukan yang belum tergarap optimal.

Di sisi lain, kritik terhadap kecepatan implementasi domestik masih mengemuka. Proses transisi energi memerlukan restrukturisasi subsidi, penyesuaian tarif, dan kepastian regulasi yang kerap berbenturan dengan tekanan pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Rasio energi terbarukan dalam bauran energi nasional masih berada di kisaran 13 persen pada 2023, sementara target 2025 sebesar 23 persen membutuhkan percepatan yang signifikan.

Transisi Energi dan Tekanan pada Fundamental Ekonomi

Dari sudut pandang makroekonomi, agenda iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan berdampak langsung pada fundamental fiskal dan neraca pembayaran. Pemerintah mengalokasikan anggaran perubahan iklim sekitar Rp102 triliun pada 2023, atau setara 4,3 persen dari total belanja negara. Nilai ini diperkirakan akan mengalami kenaikan seiring kebutuhan adaptasi dan mitigasi yang kian mendesak.

Peluang pembiayaan internasional menjadi salah satu alasan utama pentingnya kerja sama lintas negara. Instrumen seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) menawarkan komitmen awal sekitar USD20 miliar, meski realisasinya masih menghadapi tantangan struktural, termasuk porsi pinjaman yang dominan dan kebutuhan proyek yang bankable. Di sinilah sentimen pasar terhadap risiko transisi (transition risk) mulai memengaruhi valuasi sektor energi dan industri padat karbon.

"Komitmen tanpa instrumen fiskal dan regulasi yang konsisten hanya akan menjadi angka di atas kertas," ujar seorang ekonom lingkungan dari lembaga riset independen, yang meminta identitasnya tidak disebutkan.

Pandangan tersebut menggambarkan bahwa aksi iklim perlu disandingkan dengan kepastian iklim investasi. Tanpa adanya kepastian tersebut, capital outflow dari sektor energi konvensional justru berpotensi menciptakan gejolak likuiditas di pasar domestik.

Pro dan Kontra Percepatan Agenda Iklim

Pro: Percepatan agenda iklim membuka ruang bagi diversifikasi ekonomi, penciptaan lapangan kerja hijau, dan peningkatan daya saing ekspor di tengah tren global menuju standar karbon yang lebih ketat, seperti mekanisme Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Uni Eropa.

Kontra: Beban biaya transisi berpotensi menekan daya beli rumah tangga dan meningkatkan biaya produksi industri manufaktur dalam jangka pendek, terutama jika pembiayaan internasional tidak terealisasi sesuai proyeksi.

Keseimbangan inilah yang menjadi inti dari diplomasi iklim Indonesia saat ini. Keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya komitmen yang diumumkan di forum global, tetapi dari konsistensi implementasi di tingkat tapak, mulai dari pengelolaan lahan gambut, pengendalian deforestasi, hingga pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, ruang fiskal untuk membiayai transisi tetap terbatas. Karena itu, kerja sama internasional yang bersifat teknis, terukur, dan berkeadilan menjadi prasyarat. Tanpa itu, target iklim hanya akan menjadi narasi tahunan tanpa jejak nyata pada penurunan indeks kerentanan iklim nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User