Oct 04, 2026
Bisnis

Kolaborasi Riset Dorong Mutu Pakan Ternak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, subsektor peternakan Indonesia mengalami kenaikan sebesar 5,21 persen secara year-on-year terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar...

Kolaborasi Riset Dorong Mutu Pakan Ternak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, subsektor peternakan Indonesia mengalami kenaikan sebesar 5,21 persen secara year-on-year terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku. Angka ini menunjukkan bahwa peternakan masih menjadi salah satu penggerak ekonomi pedesaan yang berperan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, di balik tren pertumbuhan tersebut, terdapat tantangan yang cukup besar terkait biaya produksi, khususnya pada komponen pakan ternak yang dapat menyumbang hingga 70 persen dari total biaya operasional peternak. Kondisi ini mendorong perlunya terobosan berbasis ilmu pengetahuan untuk menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas maupun kesehatan hewan.

Urgensi Peningkatan Mutu Nutrisi

Salah satu faktor yang menentukan daya saing sektor peternakan adalah ketersediaan pakan yang berkualitas dengan harga terjangkau. Dalam konteks ekonomi, hal ini berkaitan langsung dengan rasio (perbandingan antara dua angka atau nilai untuk menilai efisiensi) biaya terhadap hasil produksi. Semakin efisien rasio tersebut, maka margin usaha peternakan akan semakin terjaga. Berdasarkan proyeksi Kementerian Pertanian, kebutuhan pakan ternak nasional diperkirakan akan terus mengalami kenaikan seiring dengan pertumbuhan populasi ternak, terutama untuk ayam ras, sapi perah dan sapi potong. Di satu sisi, peningkatan kebutuhan ini dapat membuka peluang perluasan pasar bagi industri pakan. Di sisi lain, tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor, seperti jagung, kedelai dan bahan aditif tertentu, turut memengaruhi likuiditas (kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek) pelaku usaha, khususnya peternak skala menengah dan kecil.

Oleh karena itu, riset nutrisi hewan menjadi kebutuhan fundamental (dasar yang menentukan keberlangsungan jangka panjang) bagi sektor ini. Melalui pengujian ilmiah, seperti uji palatabilitas (tingkat kesukaan hewan terhadap suatu pakan), uji kecernaan (seberapa besar nutrisi yang dapat diserap tubuh hewan), feeding trial (percobaan pemberian pakan dalam jangka waktu tertentu) dan formulasi (perhitungan komposisi bahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi), para peneliti dapat menemukan alternatif bahan baku lokal yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga aman untuk dikonsumsi ternak. Langkah ini berpotensi menekan tekanan terhadap neraca perdagangan bahan pakan tanpa mengurangi produktivitas.

Sinergi Antara Industri dan Kampus

Untuk mewujudkan hal tersebut, kolaborasi antara industri makanan hewan dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis. Perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia terlatih, laboratorium dan metodologi penelitian yang terstandar. Sementara itu, industri pakan memiliki akses terhadap skala produksi, data lapangan, jaringan distribusi serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar. Sinergi ini dapat mempercepat proses konversi hasil riset menjadi produk yang siap digunakan oleh peternak. Di satu sisi, kerja sama semacam ini dapat memperkuat valuasi (penilaian terhadap nilai suatu aset atau usaha) sektor riset dan inovasi di Indonesia, sekaligus membuka peluang untuk meningkatkan indeks (ukuran statistik yang menggambarkan perubahan) inovasi nasional. Di sisi lain, terdapat tantangan dalam menjaga keseimbangan kepentingan. Penelitian akademik umumnya berorientasi pada publikasi dan penemuan baru, sedangkan industri berorientasi pada efisiensi biaya dan waktu untuk dapat bersaing di pasar.

Perbedaan orientasi ini perlu dikelola dengan mekanisme yang jelas, seperti pembagian hak kekayaan intelektual, pendanaan bersama dan target luaran yang terukur. Hal ini penting agar sentimen pasar (persepsi pelaku pasar terhadap kondisi tertentu) terhadap inovasi domestik tetap positif, tanpa menimbulkan hambatan bagi kebebasan akademik. Dengan pengelolaan yang tepat, kolaborasi ini dapat membentuk portofolio (kumpulan berbagai aktivitas atau aset) riset yang beragam, namun tetap aplikatif untuk kebutuhan riil peternak.

Dampak Ekonomi Jangka Panjang

Apabila riset nutrisi hewan dapat diimplementasikan secara luas, dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor peternakan, tetapi juga pada perekonomian secara keseluruhan. Penggunaan bahan baku lokal yang teruji secara ilmiah dapat mengurangi capital outflow (arus keluar modal ke luar negeri) akibat impor bahan pakan. Berdasarkan data BPS tahun 2024, nilai impor bahan baku pakan masih berada di kisaran Rp 15,8 triliun, sehingga setiap upaya substitusi (penggantian barang impor dengan barang dalam negeri) yang berhasil dapat menjaga likuiditas devisa (cadangan mata uang asing suatu negara) secara bertahap. Selain itu, efisiensi pakan dapat menekan harga produk peternakan, seperti telur, daging ayam dan susu, yang secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat.

Di satu sisi, keberhasilan ini dapat memperkuat fundamental (kondisi dasar ekonomi yang berpengaruh jangka panjang) sektor pangan, terutama dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Di sisi lain, perlu diperhatikan bahwa adopsi teknologi baru membutuhkan waktu dan biaya bagi peternak skala kecil. Tanpa pendampingan yang memadai, kesenjangan adopsi dapat terjadi, sehingga manfaat ekonomi tidak merata. Oleh karena itu, hasil riset perlu disosialisasikan dengan bahasa yang sederhana dan disesuaikan dengan kapasitas peternak, agar inovasi tersebut benar-benar dapat dirasakan di lapangan.

Langkah Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Kolaborasi riset antara industri dan kampus merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan berkelanjutan. Tren global menunjukkan bahwa negara-negara dengan sistem riset terintegrasi cenderung lebih mampu bertahan terhadap guncangan harga bahan pangan. Dengan memanfaatkan keunggulan masing-masing pihak, Indonesia berpotensi membangun ekosistem inovasi yang tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan hewan.

Ke depan, keberhasilan upaya ini akan bergantung pada konsistensi pendanaan, tata kelola yang transparan dan komitmen untuk menjawab permasalahan nyata. Dengan data ilmiah sebagai landasan, sinergi ini dapat menjadi salah satu pilar untuk menjaga stabilitas sektor peternakan, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif bagi seluruh pelaku, mulai dari peneliti, pelaku industri, hingga peternak di pelosok negeri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User