KNEKS Jalin Kemitraan Kampus Perkuat Talenta Ekonomi Syariah
Berdasarkan data Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) per awal 2024, sektor ekonomi dan keuangan syariah nasional mencatat pertumbuhan aset yang signifikan, dengan total aset keuangan ...
Berdasarkan data Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) per awal 2024, sektor ekonomi dan keuangan syariah nasional mencatat pertumbuhan aset yang signifikan, dengan total aset keuangan syariah mencapai lebih dari Rp2.500 triliun atau tumbuh sekitar 9,8 persen year-on-year. Namun, pertumbuhan aset tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Rasio antara kebutuhan industri dan ketersediaan talenta syariah masih menjadi pekerjaan rumah bersama, sehingga KNEKS mengambil langkah strategis dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi untuk memperkuat talenta di bidang ini.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Indeks literasi dan inklusi keuangan syariah masih berada di bawah indeks keuangan konvensional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi keuangan syariah baru menyentuh angka 9,14 persen, sementara indeks inklusi keuangan syariah berkisar 12,88 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap produk dan jasa syariah masih terbatas, yang berimplikasi pada rendahnya permintaan terhadap tenaga kerja terampil di sektor tersebut.
Kolaborasi Kampus sebagai Strategi Fundamental
Kemitraan yang dibangun KNEKS bersama pelbagai kampus menyasar tiga aspek utama: kurikulum, sertifikasi kompetensi, dan penyerapan lulusan. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai upaya fundamental untuk menyelaraskan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Selama ini, banyak lulusan program studi ekonomi syariah yang menghadapi kendala saat memasuki pasar kerja karena kurangnya pemahaman praktis terhadap produk keuangan syariah, seperti sukuk, reksa dana syariah, dan modal ventura syariah.
"Penguatan talent branding lulusan ekonomi dan keuangan syariah menjadi kunci agar mereka lebih dikenal dan diterima oleh industri. Kampus harus menjadi ujung tombak dalam mencetak SDM yang tidak hanya paham konsep, tetapi juga siap praktik," ujar seorang pejabat KNEKS dalam sebuah forum diskusi nasional.
Di sisi lain, sejumlah pengamat ekonomi syariah menilai bahwa pendekatan kolaboratif ini perlu dibarengi dengan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pengajaran. Tanpa standar kurikulum yang seragam dan relevan, risiko ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan tuntutan industri masih besar. Selain itu, keterbatasan jumlah dosen bersertifikat dan praktisi yang mengajar di kampus menjadi tantangan tersendiri.
Tantangan dan Peluang di Tengah Tren Global
Tren ekonomi syariah global menunjukkan arah yang positif. Laporan State of the Global Islamic Economy menempatkan Indonesia pada posisi teratas dalam konsumsi makanan halal dan fesyen muslim, dengan proyeksi pengeluaran konsumen muslim global mencapai USD2,8 triliun pada 2025. Namun, pangsa pasar industri keuangan syariah nasional masih harus bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Uni Emirat Arab yang lebih dulu mengembangkan ekosistem dan talentanya.
Dalam konteks ini, kemitraan KNEKS dengan kampus dapat menjadi katalis untuk mempercepat penguatan kapasitas SDM. Beberapa program yang digagas mencakup pelatihan bersertifikat, magang di lembaga keuangan syariah, hingga riset bersama terkait pengembangan produk. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing lulusan sekaligus memperluas portofolio keahlian mereka di pasar tenaga kerja.
Dari kacamata makro, likuiditas sektor keuangan syariah yang terus tumbuh membutuhkan dukungan SDM yang mumpuni. Bank Indonesia mencatat bahwa pertumbuhan pembiayaan syariah per akhir 2023 mencapai 15,7 persen year-on-year, lebih tinggi dibandingkan pembiayaan konvensional. Artinya, permintaan terhadap analis syariah, auditor syariah, dan tenaga pemasaran produk syariah diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Meski demikian, sentimen pasar terhadap lulusan ekonomi syariah masih terbilang beragam. Sebagian industri menganggap mereka memiliki nilai jual karena pemahaman nilai-nilai syariah yang kuat, sementara sebagian lainnya menilai perlu tambahan keterampilan teknis seperti analisis data dan digitalisasi. Inilah yang membuat pendekatan talent branding menjadi penting, agar citra lulusan tidak hanya terbatas pada aspek normatif, tetapi juga kompetensi profesional yang terukur.
Proyeksi dan Arah ke Depan
Ke depan, keberhasilan kemitraan ini akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi dan dukungan regulasi. Pemerintah melalui KNEKS diharapkan mampu menyusun peta jalan talenta syariah yang terintegrasi, mulai dari jenjang pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Tanpa itu, upaya penguatan talenta berpotensi berjalan sendiri-sendiri tanpa dampak signifikan terhadap pertumbuhan industri.
Kesimpulannya, kolaborasi antara KNEKS dan perguruan tinggi merupakan langkah strategis yang menyentuh akar persoalan SDM. Namun, hasilnya tidak bisa instan. Dibutuhkan sinergi berkelanjutan antara kampus, industri, dan regulator agar talenta ekonomi syariah Indonesia tidak hanya dikenal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global. Pada akhirnya, fundamental industri yang kuat harus ditopang oleh manusia yang kompeten, dan di situlah peran pendidikan menjadi penentu.
Comments (0)