Knaken Bangkrut, Rp144 Miliar Raib, Analisis Dampak

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2024, nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 450 triliun, tumbuh 12% year-on-year. Namun, sentimen pasar terkoreksi setelah Pe...

Knaken Bangkrut, Rp144 Miliar Raib, Analisis Dampak

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2024, nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 450 triliun, tumbuh 12% year-on-year. Namun, sentimen pasar terkoreksi setelah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan platform perdagangan kripto Knaken bangkrut pada 15 November 2024. Kabar ini mengakibatkan kerugian nasabah mencapai Rp 144 miliar dari total aset kelolaan sekitar Rp 200 miliar.

Kronologi dan Skala Kerugian

Knaken, yang beroperasi sejak 2021, tercatat memiliki 48.700 nasabah aktif. Pengadilan mengabulkan permohonan pailit dari sejumlah kreditur setelah platform gagal memenuhi kewajiban likuiditas. Berdasarkan laporan kurator, dana nasabah yang raib mencapai Rp 144 miliar—sekitar 72% dari total aset yang dikelola. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kasus serupa pada 2022 saat platform Indodax mengalami kerugian Rp 60 miliar akibat peretasan. Proyeksi kerugian ini dipastikan akan memicu arus modal keluar (capital outflow) dari sektor kripto sebesar 5-7% dalam kuartal IV/2024.

Dampak pada Sentimen Pasar dan Regulasi

Di satu sisi, kebangkrutan Knaken memperkuat argumen bahwa perlu pengawasan ketat terhadap rasio kecukupan modal dan likuiditas platform kripto. OJK, yang mulai mengawasi aset kripto sejak 2024, sebelumnya telah mewajibkan platform menyetor dana jaminan minimal 30% dari total dana nasabah. Namun, kasus ini membuktikan bahwa kebijakan tersebut belum optimal. Di sisi lain, pasar masih optimistis karena fundamental aset kripto global tetap kuat—indeks Bitcoin naik 8% sejak akhir Oktober 2024. Valuasi saham perusahaan teknologi terkait juga belum mengalami penurunan signifikan.

“Kasus Knaken adalah alarm bagi investor ritel. Kepercayaan terhadap platform kripto membutuhkan jaminan likuiditas yang transparan, bukan sekadar iming-iming keuntungan tinggi,” ujar Dr. Andi Pratama, Ekonom Digital Universitas Indonesia, dalam pernyataan kepada Beritadua.

Pro dan Kontra Masa Depan Kripto di Indonesia

Pro: Regulasi lebih ketat akan meningkatkan kredibilitas pasar. OJK berencana merevisi rasio dana jaminan menjadi 50% pada 2025, yang dapat menekan risiko kebangkrutan serupa. Data historis menunjukkan setelah kasus besar, volume transaksi biasanya pulih dalam 3-6 bulan. Kontra: Sentimen negatif berpotensi memicu aksi jual besar-besaran (panic selling) dalam jangka pendek, terutama dari investor yang baru masuk melalui platform kecil. Likuiditas ketat juga bisa mendorong capital outflow ke bursa luar negeri yang lebih likuid. Rasio utang terhadap ekuitas platform lokal diperkirakan naik 15% akibat ketidakpercayaan investor.

Ekonom senior Beritadua menekankan bahwa setiap keputusan investasi harus berdasarkan fundamental dan profil risiko. Pasar kripto memang menawarkan potensi keuntungan, namun volatilitasnya tinggi. Dengan proyeksi inflasi global yang melandai dan suku bunga acuan BI diprediksi tetap di 5,5% hingga semester I/2025, investor disarankan untuk menyeimbangkan portofolio dengan aset safe haven seperti emas atau obligasi pemerintah. Valuasi saat ini belum mencerminkan potensi kerugian reputasi yang berkepanjangan jika regulasi tidak segera diperbaiki.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User