Aug 25, 2026
Bisnis

Kisah Dua Pemuda RI Keliling Dunia dengan Rp 50 Berakhir Menggelandang

Semangat muda kadang mendorong seseorang untuk mewujudkan mimpi yang tampak mustahil. Dua pemuda Indonesia, Saleh dan Darmadjati, membuktikan bahwa tekad baja bisa mengalahkan keterbatasan—namun kis...

Kisah Dua Pemuda RI Keliling Dunia dengan Rp 50 Berakhir Menggelandang

Semangat muda kadang mendorong seseorang untuk mewujudkan mimpi yang tampak mustahil. Dua pemuda Indonesia, Saleh dan Darmadjati, membuktikan bahwa tekad baja bisa mengalahkan keterbatasan—namun kisah mereka berakhir di luar dugaan. Berbekal uang hanya Rp 50 di saku, keduanya memutuskan berkeliling dunia dengan sepeda, sebuah perjalanan yang seharusnya menjadi kisah inspiratif, namun berubah menjadi narasi tentang kerentanan dan kerasnya realitas jalanan.

Berawal dari Mimpi Besar dan Modal Minim

Semua berawal dari obrolan sederhana di sebuah warung kopi pinggir jalan di Jakarta. Saleh, lulusan sekolah menengah yang bekerja serabutan, dan Darmadjati, mantan kurir yang gemar bersepeda jarak jauh, memiliki obsesi yang sama: menjelajahi dunia tanpa terikat biaya besar. Mereka percaya, dengan gaya hidup minimalis dan mengandalkan kebaikan orang asing, petualangan epik bisa dimulai. Modal awal sebesar Rp 50—tepatnya satu lembar uang kertas pecahan lima puluh rupiah—bukanlah angka kebetulan, melainkan simbol perlawanan terhadap materialisme. Uang itu sengaja disimpan sebagai "jimat"; perjalanan mereka akan dibiayai oleh kerja serabutan, donasi spontan, dan tempat tinggal gratis dari sesama pesepeda.

Tanpa peta rinci, hanya berbekal sepeda bekas dengan ban seadanya, tenda tipis, dan kompor spiritus mini, mereka meninggalkan pelabuhan Merak pada suatu pagi berkabut. Rute awal melintasi Pulau Sumatera, menyeberang ke Malaysia, lalu Thailand. Di minggu-minggu pertama, semuanya terasa seperti dongeng: warga lokal menyambut hangat, memberi makan, bahkan tempat bermalam. Media sosial mereka pun mulai dilirik, seolah menjadi bukti bahwa keliling dunia murah meriah itu mungkin.

Perjalanan yang Berubah Menjadi Ujian Berat

Namun, romantisme itu perlahan luntur. Memasuki kawasan Indochina, cuaca ekstrem dan kondisi jalan yang rusak mulai menggerus fisik serta mental mereka. Sepeda yang tidak dirancang untuk medan berat kerap mogok. Uang donasi tidak selalu datang, dan kerja serabutan—seperti mencuci piring di kafe turis atau membantu bongkar muat di pasar—tidak cukup untuk menutup kebutuhan dasar. Di Kamboja, mereka terpaksa tidur di balai desa terlantar selama tiga malam setelah kehabisan bekal dan perbekalan air bersih. Keduanya mulai mengalami dehidrasi dan infeksi kulit akibat gigitan serangga.

Puncak kesulitan terjadi ketika mereka memasuki Vietnam selatan. Paspor yang seharusnya menjadi identitas kebanggaan justru menjadi beban ketika mereka dianggap sebagai imigran ilegal karena tidak mampu menunjukkan bukti kepemilikan dana memadai. Petugas imigrasi setempat menahan mereka selama 48 jam sebelum akhirnya dilepaskan dengan syarat segera meninggalkan wilayah tersebut. Dari sinilah situasi berubah drastis. Tanpa akses keuangan, tanpa jaringan pendukung yang jelas, Saleh dan Darmadjati benar-benar jatuh ke jurang kemiskinan di perantauan. Mereka kehilangan sepeda yang diambil sebagai "jaminan" oleh oknum tak dikenal, sehingga mobilitas terhenti. Kini hanya bermodalkan pakaian di badan dan ransel yang kian lusuh, keduanya terdampar di kota kecil perbatasan.

Akhir Tak Terduga: Menggelandang di Negeri Orang

Kondisi ini memaksa Saleh dan Darmadjati menjalani kehidupan yang jauh dari bayangan awal. Mereka menjadi gelandangan di jalanan Ho Chi Minh City, tidur di emperan toko, kolong jembatan, atau taman kota yang rawan razia. Untuk bertahan, mereka mengemis sisa makanan dari restoran cepat saji dan mengumpulkan botol plastik bekas untuk dijual ke pengepul. Status sebagai warga negara Indonesia yang tanpa dokumen lengkap membuat mereka tersisih dari bantuan konsuler—meskipun Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat pada akhirnya turun tangan setelah mendapat laporan dari komunitas diaspora.

Dari penelusuran, KBRI di Hanoi dan KJRI di Ho Chi Minh City sempat memberikan pendampingan hukum serta tempat penampungan sementara. Proses pemulangan berjalan pelik karena birokrasi identitas dan ketiadaan biaya tiket pesawat. Akhirnya, setelah hampir dua bulan hidup sebagai tunawisma, Saleh dan Darmadjati dipulangkan ke Tanah Air dengan bantuan dana kemanusiaan dari sebuah organisasi sosial. Mereka tiba di Jakarta dalam kondisi kurus, dengan mata yang menyimpan trauma perjalanan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa keberanian tanpa perencanaan matang bisa berbuah nestapa. Di satu sisi, semangat pantang menyerah kedua pemuda ini patut diapresiasi; mereka membuktikan bahwa mimpi besar tidak selalu membutuhkan modal besar. Di sisi lain, minimnya riset logistik, asuransi perjalanan, dan strategi pendanaan darurat menunjukkan celah fatal yang dapat mengancam keselamatan. Psikolog sosial menilai, fenomena "adventure minimalism" yang ramai di media sosial kerap mengabaikan risiko struktural seperti regulasi imigrasi, kesehatan, dan keamanan di negara asing.

Kini, Saleh dan Darmadjati berusaha memulai hidup baru. Mereka mengaku tidak kapok bermimpi, tetapi akan melakukan segalanya dengan persiapan lebih matang. Kisah mereka, meskipun getir, menjadi cermin bagi para pemimpi muda lainnya: dunia memang luas untuk dijelajahi, tetapi kebebasan sejati tetap membutuhkan tanggung jawab dan kewaspadaan. Sebab, di ujung jalan, kadang yang menanti bukanlah pemandangan indah, melainkan kerasnya aspal yang dingin.

Rp 50 yang semula menjadi ikon perlawanan, akhirnya menjadi saksi bisu bahwa tidak semua petualangan berakhir seperti di film-film. Nyawa dan martabat tetap tak ternilai, melebihi romantisme perjalanan ala backpacker.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User