Khamenei Kutip Soekarno, Tekankan Persatuan Lintas Agama dan Ideologi
Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam berbagai kesempatan telah merujuk pada warisan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.Kutipan tersebut bukan seka...
Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam berbagai kesempatan telah merujuk pada warisan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Kutipan tersebut bukan sekadar gestur diplomatik biasa. Khamenei secara spesifik mengambil penggal pidato Bung Karno yang menyoroti urgensi persatuan nasional di tengah bentangan perbedaan keyakinan dan ideologi. Dalam konteks geopolitik Timur Tengah yang kerap diwarnai friksi sektarian, rujukan terhadap tokoh bangsa Indonesia itu menjadi pesan yang sarat makna.
Soekarno, sebagai arsitek kemerdekaan Indonesia, mewariskan fondasi Pancasila yang mengakomodasi kemajemukan. Gagasannya tentang persatuan dalam keberagaman inilah yang diangkat oleh Khamenei untuk menunjukkan bahwa kohesi sosial tidak mengharuskan keseragaman teologis maupun ideologis.
Benang Merah Pemikiran Dua Tokoh Revolusioner
Mengapa Khamenei, pemimpin spiritual dan politik tertinggi di sebuah negara teokrasi Syiah, mengutip seorang nasionalis sekuler dari Asia Tenggara? Pertanyaan ini membawa kita pada benang merah yang menghubungkan dua figur revolusioner dari era yang berbeda.
Soekarno membangun bangsa dari nol setelah berabad-abad kolonialisme, di atas fondasi masyarakat yang terfragmentasi oleh suku, agama, dan kelas sosial. Ia merumuskan Pancasila dan mengkampanyekan Nasionalisme Indonesia yang inklusif, bukan berbasis pada identitas tunggal. Di sisi lain, Khamenei mewarisi Revolusi Islam 1979 yang juga berupaya menyatukan beragam faksi—dari kaum nasionalis, Islamis, hingga intelektual kiri—di bawah panji perlawanan terhadap dominasi asing.
Keduanya memahami bahwa perjuangan melawan imperialisme dan membangun negara berdaulat memerlukan front persatuan yang melampaui sekat-sekat primordial. Khamenei melihat Soekarno sebagai preseden sukses tentang bagaimana seorang pemimpin karismatik dapat merangkul perbedaan tanpa kehilangan arah ideologis.
Pesan Persatuan di Tengah Fragmentasi Global
Konteks kontemporer dari pengutipan ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya polarisasi di dunia Muslim. Di kawasan Timur Tengah, rivalitas antara Iran dan Arab Saudi kerap dibingkai dalam narasi sektarian Sunni-Syiah. Sementara di Asia Selatan, ketegangan antara India dan Pakistan tetap menyisakan luka komunal yang dalam.
Dengan mengangkat Soekarno, Khamenei seolah ingin menyampaikan bahwa model Indonesia—di mana Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu hidup berdampingan dalam bingkai negara-bangsa—adalah eksperimen yang layak dicontoh. Indonesia menjadi laboratorium sosial yang membuktikan bahwa keislaman tidak harus dipertentangkan dengan pluralisme.
Pesan ini menjadi krusial ketika ekstremisme berbasis identitas masih menjadi ancaman global. Dari Eropa hingga Asia, narasi kebencian yang mengatasnamakan agama terus memakan korban. Referensi terhadap pidato Soekarno adalah pengingat bahwa alternatif terhadap sektarianisme telah lama dirumuskan oleh para pendiri bangsa di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia.
Implikasi bagi Hubungan Bilateral dan Kawasan
Hubungan diplomatik antara Jakarta dan Teheran memang tidak selalu mulus. Sanksi ekonomi terhadap Iran, tekanan geopolitik dari Barat, dan dinamika internal kedua negara sering menjadi variabel penghambat. Namun, rujukan Khamenei terhadap Soekarno menegaskan adanya kedekatan ideologis yang melampaui kalkulasi pragmatis jangka pendek.
Bagi Indonesia, pengakuan dari pemimpin tertinggi Iran ini dapat dimaknai sebagai soft power diplomacy yang tumbuh secara organik. Pancasila dan warisan Soekarno mendapatkan validasi dari aktor global yang berpengaruh, tanpa perlu kampanye atau negosiasi resmi. Ini adalah aset diplomasi publik yang sangat berharga.
Di masa depan, referensi ini dapat menjadi pijakan untuk memperdalam dialog antarpemeluk agama dan mazhab, khususnya dalam forum-forum seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atau Gerakan Non-Blok yang keduanya dihadiri oleh Iran dan Indonesia.
Relevansi Abadi Warisan Bung Karno
Bung Karno pernah menegaskan bahwa bangsa Indonesia bukanlah milik satu golongan agama atau ideologi tertentu. Pernyataan ini, yang kemudian dikutip oleh Khamenei, memiliki resonansi abadi. Di era ketika identitas politik semakin mengeras dan algoritma media sosial memperparah segregasi opini, gagasan tentang persatuan yang merangkul perbedaan menjadi sangat relevan.
Pengutipan ini juga memperlihatkan bahwa pemikiran para pendiri bangsa Indonesia memiliki daya jangkau global. Soekarno bukan hanya milik Indonesia, melainkan bagian dari khazanah pemikiran dunia. Dari Teheran hingga Havana, Namanya disebut sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan global dan pembela kedaulatan negara-negara berkembang.
Akhirnya, warisan pidato Soekarno yang diangkat oleh Khamenei adalah cermin bagi Indonesia sendiri: bahwa fondasi kebangsaan yang dibangun dengan susah payah oleh generasi pendiri harus terus dijaga dan dihidupkan dalam praktik keseharian, bukan sekadar hafalan dalam upacara kenegaraan.
Comments (0)