Khamenei Kutip Soekarno Serukan Persatuan Lintas Agama
Dalam sebuah kesempatan yang jarang terjadi, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merujuk pada pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, untuk menyampaikan pesan mendalam tentang...
Dalam sebuah kesempatan yang jarang terjadi, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merujuk pada pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, untuk menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya persatuan di tengah keragaman. Langkah simbolik ini tidak hanya menggarisbawahi kedekatan historis antara Iran dan Indonesia, tetapi juga menegaskan kembali nilai-nilai universal yang diperjuangkan kedua bangsa. Rujukan tersebut muncul di tengah meningkatnya polarisasi global, menjadikannya momen penting dalam dialog peradaban.
Khamenei, yang jarang mengutip tokoh di luar tradisi Islam Syiah, secara khusus menyoroti kemampuan Soekarno merangkul berbagai kelompok agama dan ideologi dalam bingkai nasionalisme. "Bung Karno, sebagaimana kita kenal, pernah mengatakan bahwa persatuan bukan berarti penyeragaman, melainkan pengakuan terhadap kekayaan perbedaan kita," ujar Khamenei seperti dilaporkan kantor berita resmi Iran. Kalimat itu bukanlah kutipan langsung dari Soekarno, melainkan intisari dari gagasan besar yang selalu diusung pendiri bangsa Indonesia tersebut. Pidato asli Soekarno yang dimaksud diyakini berasal dari era menjelang Konferensi Asia-Afrika 1955, saat ia menyerukan solidaritas negara-negara berkembang melampaui sekat ideologi dan kepercayaan.
Konteks Pidato dan Rujukan Historis
Pengutipan itu dilakukan dalam peringatan Hari Persatuan Islam atau Pekan Wahdat, yang rutin digelar untuk mempererat hubungan antar mazhab dalam Islam. Namun, pesannya melebar ke isu sosial-politik global. Dengan mengutip Soekarno, Khamenei ingin menekankan bahwa persatuan tidak hanya relevan dalam konteks intra-umat Islam, tetapi juga sebagai prinsip hidup berbangsa dan bernegara. Pilihan tokoh Indonesia bukan kebetulan. Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan keragaman etnis serta agama yang luar biasa, merupakan contoh nyata bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan. Khamenei, melalui rujukan tersebut, memberi sinyal bahwa model Indonesia layak dipelajari, terutama oleh negara-negara Timur Tengah yang kerap dilanda konflik sektarian.
Secara historis, hubungan dua negara sudah terjalin sejak era Soekarno. Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi pun mengakui kepemimpinan Indonesia di kancah non-blok. Namun, yang baru kali ini terjadi adalah pengakuan eksplisit pemimpin spiritual Iran terhadap warisan pemikiran Soekarno. Pengamat hubungan internasional menilai momen ini sebagai titik balik penting, di mana Iran tidak hanya melihat Indonesia sebagai mitra dagang, tetapi juga sumber inspirasi ideologis tentang toleransi. "Ini pengakuan tertinggi. Khamenei adalah figur yang sangat selektif dalam merujuk tokoh non-Iran. Soekarno dianggap mewakili semangat melawan imperialisme sekaligus menjaga kohesi sosial," ujar Profesor Reza Hikmat, analis geopolitik dari Universitas Teheran.
Dalam pidato yang dikutip itu, Soekarno konon berbicara di depan forum ulama dan pemimpin agama pada 1960-an, mengajak semua pihak untuk "meletakkan perbedaan di meja, lalu bersama-sama membangun rumah peradaban yang besar". Kalimat ini dipahami Khamenei sebagai fondasi bagi kerja sama antar-negara Muslim yang seringkali terjebak dalam perebutan pengaruh. Pesan tersebut kini kontekstual di saat dunia Islam berhadapan dengan isu normalisasi hubungan dengan Israel, konflik di Yaman, dan ketegangan Sunni-Syiah.
Relevansi Pesan Soekarno di Era Modern
Ketika Khamenei menggaungkan kembali pemikiran Soekarno, ia sebenarnya sedang berbicara kepada dua audiens: domestik dan internasional. Di dalam negeri, Iran tengah bergulat dengan tekanan ekonomi akibat sanksi dan tuntutan reformasi sosial. Mengedepankan wacana persatuan adalah cara untuk meredam friksi internal antara kelompok konservatif dan progresif. Di panggung global, pesan ini dialamatkan kepada negara-negara Barat yang dinilai sering memecah belah dunia Islam melalui politik identitas. Soekarno, dengan segala warisan antisipatif terhadap neokolonialisme, dianggap sebagai simbol perlawanan yang masih cocok untuk abad ke-21.
Lebih jauh, relevansi itu menyentuh ranah anak muda. Generasi milenial dan Gen Z di Iran serta Indonesia menghadapi tantangan serupa: radikalisme, disinformasi, dan krisis identitas. Soekarno, menurut Khamenei, menunjukkan bahwa iman dan nasionalisme bisa berjalan beriringan. "Kita butuh Pancasila versi kita sendiri," demikian interpretasi seorang komentator politik di Teheran, merujuk pada lima prinsip yang dirumuskan Soekarno untuk menyatukan Indonesia. Pernyataan Khamenei ini sontak memicu diskusi di media sosial, menandakan bahwa gagasan persatuan ala Soekarno tetap membumi dan mampu melampaui batas waktu.
Di Indonesia, pengakuan dari Iran itu disambut hangat. Sejumlah kalangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah melihatnya sebagai bukti bahwa diplomasi kebudayaan dan nilai-nilai Pancasila memiliki gaung global. Sebaliknya, muncul pula kekhawatiran apabila pernyataan Khamenei dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan politik dalam negeri. Namun, secara umum, momentum ini membuka peluang bagi Indonesia untuk kembali memainkan peran mediasi di konflik Timur Tengah dengan modal historis yang kini diakui secara terbuka.
Respons dan Implikasi bagi Hubungan Bilateral
Dari sisi hubungan bilateral, pengutipan Soekarno ini dapat menjadi katalis bagi peningkatan kerja sama strategis. Selama ini, volume perdagangan Indonesia-Iran masih jauh dari potensi maksimal, terhambat oleh sistem pembayaran akibat sanksi sekunder Amerika Serikat. Pada tahun lalu, nilai perdagangan kedua negara tercatat hanya sekitar 300 juta dolar AS, turun tipis 5 persen secara tahunan. Namun, dengan adanya kedekatan ideologis yang kembali ditegaskan, pintu untuk memperkuat investasi dan pertukaran sumber daya manusia menjadi kian terbuka. Bidang pendidikan, farmasi, dan energi terbarukan disebut-sebut sebagai sektor prioritas yang akan didorong.
Implikasi lain adalah pada arus pemikiran. Kampus-kampus di Iran dan Indonesia kini berancang-ancang menggelar seminar dan penelitian bersama tentang pemikiran Soekarno dan Imam Khomeini, mencari titik temu antara nasionalisme Indonesia dan konsep Wilayatul Faqih. Hal ini tidak hanya memperkaya khazanah intelektual, tetapi juga menjadi landasan bagi dialog antar-peradaban yang lebih konkret. Para diplomat di kedua belah pihak menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi inisiatif tersebut.
Rujukan Khamenei pada Soekarno ibarat jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Ia mengingatkan bahwa meskipun rezim dan ideologi berubah, kebutuhan akan kebersamaan dalam keberagaman adalah abadi. Pesan dari Teheran itu, pelan tapi pasti, turut memperkuat posisi Indonesia sebagai kiblat toleransi di mata dunia. Pada akhirnya, kata-kata Bung Karno yang melintasi benua dan dekade membuktikan bahwa warisan seorang pemikir besar tak akan lekang oleh panasnya gurun politik.
Comments (0)